bmi hongkong

Saya Kecewa Telah Membuat Malu Indonesia

6:07 PM




Teresita Matchite Piamonte namanya. Buruh migrant dari Piliphina yang hampir satu tahun bekerja serumah dengan saya di satu majikan.

“Ate”, saya biasa memanggilnya. Ate sama dengan “mbak” untuk sebutan di Negara Piliphina (PL) ini. Ate adalah orang PL di Hong Kong yang pertama kali saya kenal. Saya mengenalnya saat majikan saya ini ingin memperkenalkan saya dengan Ate dan keluarga yang lain setelah pertemuan pertama di kantor agen di daerah Causway Bay.

Tahun 2007 bulan September pertengahan saya bertemu untuk pertama kalinya dengan Ate di depan MD Tin Hau, bawahnya apartemen agen. Ate kemudian membawa saya menuju rumah majikan untuk dikenalkan dengan Kungkung.

Saat naik bus kami banyak ngobrol tentang apa saja. Bahasa kantonisnya lumayan lancar untuk orang PL yang sangat jarang bisa berbahasa kantonis. Bercerita tentang keluarga majikan, tentang keluarganya sendiri di PL sana cerita tentang pekerjaan saya saat masih di rumah majikan yang lama.

Beruntung saya mengenal sosok Ate. Ate, orangnya tidak begitu tinggi, sekitar 150 Cm dengan berat badan 55 dan sangat ingin memiliki tubuh ramping seperti saat masih gadis dulu. Memiliki 2 orang putri berumur 7 dan 10 tahun.

Tahun 2007 bulan Desember Ate memutuskan untuk pulang ke PL, mengambil cuti 1 tahun karena ingin menambah anak lagi. Ate menikah lagi dengan seorang laki-laki lajang setelah bercerai dengan suaminya yang pertama karena suaminya tukang selingkuh dan menghabiskan uang yang Ate kirim. “Bukannya buat beli susu buat anakku, eh malah buat main perempuan.” Ceritanya suatu ketika.

Saat Ate di PL, kami sering berkomunikasi, saya menelepon dia entah seminggu sekali atau sebulan sekali. Kabar bahagia saya dapat, Ate mengandung 2 bulan, buah cintanya dengan suami ke dua yang sangat ingin memiliki anak laki-laki. Namun sayang, kandungannya bermasalah dan terpaksa harus di kuret untuk menyelamatkan nyawanya.

Tahun 2008  bulan Oktober, Ate kembali lagi ke Hong Kong untuk bekerja kembali dan kami serumah lagi. Setiap hari kami mengerjakan pekerjaan berdua dengan santai, jarang sekali kami berselisih paham atau sampai bertengkar hebat. Tidak pernah. Ate adalah sosok “emak” bagi saya saat jauh dari keluarga. Ate sering member nasehat dan masukan tentang suka duka berkeluarga.

Ate yang suaminya sangat penyayang dan juga menyayangi kedua anaknya ini sebenarnya dilarang oleh suaminya untuk kembali lagi bekerja di Hong Kong. Namun Ate ingin membantu pendapatan suaminya, pertimbangan lain karena anaknya juga semakin besar dan butuh dana besar juga untuk sekolah.

2009 sekitar bulan April, Ate ijin cuti ke PL karena mertuanya meninggal dunia. Ijin sebulan dia dapat dari majikan. Kami berpisah dengan derai air mata. Sedih saya harus berpisah dengan Ate meski hanya sebulan lamanya. Jam 5 sore saya antar Ate ke halte bus bawah apartemen, di sanalah kami berpisah.

Sayang, janji sebulan itu ternyata molor menjadi 2 minggu, lalu molor lagi menjadi sebulan. Lama-lama molor terus dan akhirnya majikan jengkel sehingga memutuskan kontrak kerjanya. Menurut majikan, Ate kena blacklist 3 tahun dan tidak diijinkan ke 

Hong Kong sebelum masa 3 tahun habis.
Setelah kepulangan Ate, saya menjalani hari-hari di rumah majikan hanya berdua dengan kungkung. Semua pekerjaan saya handle sendiri mulai dari belanja, memasak sampai bersih-bersih. Kungkung masih sehat dan bisa mengerjakan keperluannya sendiri, bisa saya tinggal di rumah sendirian untuk belanja ke pasar.

Tahun 2011 saat saya mengambil cuti lebaran untuk pulang ke Indonesia, kungkung sedang menjalani operasi di rumah sakit. Saya pamiti kungkung hanya 30 menit selang dia keluar dari ruang operasi. Cuti sebulan di kampong, tak membuat saya melupakan begitu saya tentang rumah majikan. Telpon kadang saya lakukan untuk menanyakan kabar kungkung. Agak kaget saat majikan saya bercerita kalau kungkung keluar masuk 3 kali selama saya di kampong.

Akhir September 2011 saya kembali ke Hong Kong dan kungkung masih dirawat di rumah sakit. Majikan dan adik-adiknya menyuruh saya untuk mencari teman satu lagi untuk gantian menjaga kungkung. “Biar kamu gak terlalu capek.” Kata mereka.

Saya mengajukan Ate untuk menjadi teman saya kembali, namun sayang telepon Ate sudah tidak bisa dihubungi. Pun juga saudara Ate di Hong Kong, tidak tahu nomornya Ate di PL sana. Bimbang melanda saya. Saya tetap menginginkan Ate untuk bekerja serumah dengan saya. Entah kenapa, meski kami beda Negara, beda adat, dan beda agama sekalipun, namun saya merasa sangat cocok dengan Ate.

Cari mencari, pilih memilih dan butuh waktu hampir 3 bulan akhirnya dapat juga teman serumah. Dia sesama BMI, asal Jawa Tengah. Perawakannya tomboy meski alasan yang dia katakan diawal karena tidak suka rambut panjang dan memilih untuk memangkas rambutnya seperti laki-laki.

Pekerjaan dia OK, meski kadang saya kurang setuju karena telinganya terus disumpal dengan handfree saat matanya melek dan kadang dipanggil tidak dengar. 
Kekecewaan saya tidak bisa dibendung saat mengetahui ternyata dirinya seorang lesbi. 

Lebih kecewa dan membuat saya geram saat temannya yang dia katakan  sebagai “bojoku” itu tiba-tiba meneror dengan mengirim SMS dan mengatai saya macam-macam. Geram, mangkel, jengkel campur aduk jadi satu.

Bagaimana mungkin orang yang tidak saya kenal, belum pernah sekalipun bertatap muka kok bisa-bisanya mencaci-maki saya seperti itu. Ancamannya kalau bertemu di jalan akan membuat perhitungan dan menghajar saya. Hiduuuhhhhh,  entah setan apa yang merasuki pikirannya. Saya masih normal dan bukan penyuka sesama jenis. Saya juga tidak doyan dengan orang yang saat ini bekerja serumah dengan saya. Mungkin dia cemburu apa gimana, saya tidak tahu.

Dikiranya saya ini lugu dan bodoh mungkin, akan mendiamkan ecehannya begitu saya. Saya memilih jalan untuk mengadukan masalah ini ke majikan dan alhamdullilah majikan terbuka dan menerima curhatan saya.

“Fong sam, em sai keng.” Katanya saat jam 6 sore saya menelepon.

“Ancaman itu bisa dibawa ke polisi.” Tambahnya lagi.

Sebenarnya saya ingin mendiamkan hal ini, tapi hati saya terus berontak, hal ini tidak bisa didiamkan begitu saja. Memilih cerita ke majikan adalah jalan terbaik karena majikanlah orang terdekat selama saya di Hong Kong.

Yang jelas, saya tidak mau urusan intern keluarga majikan dicampuri oleh orang yang tidak jelas seperti ini. Majikan yang bayar, rumah majikan yang saya tempati saja tidak pernah mengatai-ngatai saya seperti ini. La iki kok?

Curhat bersambung kapan-kapan ya [FN]

You Might Also Like

0 komentar