bmi hongkong

2 Tahun: Tidur di Lantai, Tanpa Libur, Gaji Underpay

5:22 PM

Kamar PRT-nya Purple Lee



Tidur di lantai bukanlah hal yang aneh sebenarnya, karena dari kecil saya lebih sering tidur dilantai. Ya karena memang tidak punya ranjang untuk tidur, jadi hanya tikar, bantal dan jarik batik modal tidur setiap malamnya.

Nasib baik menghampiri saya waktu jadi “anak asuh” saat sekolah SMK, saya mendapat kamar tidur dan bisa bebas melakukan apa saja di kamar sendiri. Saya  punya privasi sendiri dan tentu ini jauh beda dengan rumah orang tua saya sendiri yang kamar saja tidak ada.

Ternyata nasib apes kembali mampir di kehipan saya. Jauh-jauh berangkat ke Hong Kong, eh tidurnya kembali “melantai” sama persis waktu di kampong. Tapi ya karena niat sudah bulat, tidur di lantai pun saya terima meski sebenarnya majikan sudah menyalahi aturan. 

Seharusnya memberikan tempat yang layak bagi pekerjanya, apadaya itu tidak saya terima dari majikan.

Sama seperti kasus Puple Lee,  artis Hong Kong yang kedapatan membangun temat tidur untuk pekerja rumah tangganya di atas toilet. Sangat tidak manusiawi. Pernah juga saya mendengar cerita, ada BMI yang tidur di dapur, di bawah meja makan, di sofa, di gudang dan tentu tempat-tempat seperti ini sangat tidak layak. Provasi pekerja tidak ada karena diabaikan oleh majikan.

Bukan itu saja, istrirahat kurang, pekerjaan apapun yang majikan nilai selalu  salah, gaji underpay plus tanpa libur sama sekali selama 2 tahun penuh membuat penderitaan  semakin komplit. Seperti jamu yang kurang komplit tanpa madu, beginilah nasib saya 2 tahun bekerja di daerah Tuen Mun.  

Kenapa tidak kabur ke Agen dan nyari majikan baru? Eit, tunggu dulu. Bukan perkara mudah untuk mengambil langkah ini. Pertimbangan potong gaji belum selesai, cari majikan pasti potong gaji lagi, belum tentu  gaji underpayment berubah menjadi gaji full setelah ganti majikan baru, bahasa belepotan belum bisa, dan banyak alasan lain yang membuat saya tetap sabar untuk bertahan.

Bodoh. Iya memang. Saya baru sadar kalau saya memang bodoh. Kok betah 2 tahun bekerja dengan majikan ini. Padahal banyak perlakuan sangat-sangat buruh saya terima. 

Bekas luka pun sampai sekarang masih ada. Bukan hanya luka di kulit yang belum hilang, tapi juga luka batin yang masih selalu terbayang.
Ya, paling tidak saya bisa mengalahkan semuanya dengan senjata  bernama SABAR. Dan, berhasil keluar dari sarang macan dengan nilai finis 2 tahun untuk modal mencari majikan baru. 

You Might Also Like

0 komentar