aulia

Sahabat: Tangisku Untukmu

5:59 PM

Lamma Island, Pantai yang kita jelajahi bersama di tanggal yang cantik.



Begitu berartinya sahabat di negeri rantau, dan itu sangat berlaku buat saya. 20 Februari 2013 satu sahabat saya harus pulang ke tanah air seterusnya, melanjutkan kehidupan di sana.

Aulia, sahabat yang akhir-akhir ini selalu ada dan hadir saat saya butuhkan, kapan pun. Selalu menjadi teman saat libur tiba, selalu menjadi teman berjalan kemana pun untuk menghabiskan sisa-sisa waktu di Hong Kong bersama.

Minggu, 17 February menjadi hari terakhir pertemuan kita di Hong Kong, libur terakhir yang bisa kita nikmati dengan keterbatasan waktu yang ada tapi tak mengurangi makna.
Ahk, rasanay baru kemarin kita kenalan, lalu sama-sama diam, bahkan mungkin melupakan. Namun entah mulainya kapan dan dari mana tiba-tiba kita menjadi begitu dekat.

Aulia, kamu tahu gak? Kamu adalah orang kedua yang mampu membuat saya menangis setelah saya menangis yang pertama kalinya saat ditinggal oleh Ate, kawan serumah yang bekerja dengan saya yang orang Piliphina itu, tahun 2008.

Setelah itu, perasaan biasa saya rasakan saat ada teman yang  pulang seterusnya ke Indonesia. Namun entah kenapa, kamu mampu membuat saya begitu kehilangan, mampu membuat saya sangat melo dan galau.

Saat pisah di MTR Causeway Bay Exit F itu, saat saya berjalan untuk naik bus, tiba-tiba seperti ada yang menarik saya untuk berbalik arah dan kembali mencarimu. Terlintas dipikiran saya “masa perpisahan cuma begini? Cuma salaman aja? Padahal kita ketemu entah kapan lagi.”

Dan saat saya panggil namamu, saat kamu sudah menuruni tangga untuk masuk ke MTR itu, teriak-teriak Aul….. Aul…. Aul….. dan kamu sempat tak mendengarnya namun kemudian terdengar juga dan kamu menoleh lalu kembali naik ke atas. Ahk, melo bener ya saya.  Itulah perpisahan yang menurut saya paling mengharukan selama saya di Hong Kong.

Hanya beberapa kata saja yang sempat terucap karena saya tak mampu menahan laju air mata yang begitu deras yang tak mampu saya tahan lagi. Bahkan saat duduk di dalam bus pun air mata ini masih terus mengalir, apalagi saat kamu menelepon dan bertanya, “kok Fera jadi gini sih.” Dan kamu tahu, Aul, saat menulis ini pun air mata saya terus menetes. Kenapa saya begitu kehilangan? Padahal kita masih bisa untuk terus menjalin komunikasi.

Kehadiranmu. Ya, yang saya butuhkan adalah kehadiranmu nyata di samping saya. Memang terlihat naïf ya :D toh masih ada alat komunikasi canggih saat ini, yang akan membuat kita tak kan terpisah lagi meski jarah jauh.

Saya yakin kita pasti bisa bertemu lagi. Berbagi cerita tentang apa saja. Berbagi rasa tentang suka maupun duka. Berbagi apapun yang pernah kita dapatkan, saya di sini, dan kamu di sana.

Aul, saya doakan semoga urusanmu lancar. Semoga cita dan cintamu segera tergapai. Semoga apa yang menjadi mimpi dan harapanmu segera terwujud. Percayalah bahwa bahagia itu pasti akan tiba menghampirimu dan akan menyelimuti kehidupanmu.

Tetep keep in touch ya. Doaku selalu bersamamu.

Hug. 

You Might Also Like

4 komentar

  1. di tinggal sobat ko sedih? di bikin enjoy aja..hehe

    ReplyDelete
  2. Spt camar yg terbang bebas di angkasa, perasaan itu begitu lega. Tatkala kita tahu ada sebuah hati yg begitu menginginkan kita dengan tulus. Itu yg aku rasakan ttg kamu Fera. Ketulusan dan kejujuran saat menuliskan semuanya. Tentang aku, kamu, kita.

    Kita kan bersua lagi sobat! Insyaaallah!

    ReplyDelete