ani

Berontaklah Jika Merasa Tertekan, Meski Terhadap Boss Sendiri

5:24 PM

Saya orang kalem kok, ciyus :)
 Saya ini orangnya termasuk pendiam, gak percaya? Tanyakan saja ke orang-orang dekat saya. Tapi jangan salah, kalau saya merasa tidak enak hati sama orang, meskipun lebih banyak saya mendiamkannya, sekali saya bicara ya semua akan jebol juga. Semua akan saya keluarkan dengan bahasa saya. Saya termasuk orang yang tidak suka bicara kasar, mendengar pun saya tidak suka, tapi mungkin tanpa saya sadari saya pernah juga ngomong kasar, ya maaf saja. Kadang di luar kendali, bisa jadi.

Ceritanya begini. Tahun 2012 bulan September saya ijin cuti pulang ke tanah air. Sebenarnya pulang ke tanah air ini di luar rencana karena niatnya saya nunggu sampai kontrak habis tahun ini (2013), meskipun kadang keinginan pulang selalu ada, tapi banyak pertimbangan yang harus saya pikirkan. Karena ada masalah besar dalam hidup saya (maaf saya tidak akan ungkap masalahnya apa) saya memutuskan harus pulang, tidak bisa ditunda. Eyel-eyelan dengan Boss pun terjadi, dan dengan wajah kusut akhirnya dia memberi ijin saya untuk cuti hanya 10 hari saja.

OK, tiket sudah di tangan dan terbanglah saya ke tanah air dengan selamat. Karena tanggal terbang kembali ke Hong Kong saya lagi sakit, terpaksa saya SMS si Boss untuk perpanjang dan dapatlah 3 hari, 3 hari saja, oalah.

Tanggal berangkat datang juga, dengan langkah berat dan iringan air mata orang tua saya pun memasuki pesawat untuk kembali ke negeri beton. Hari berganti, seminggu pertama tiga kali ke dokter, dua minggu masih terasa berat, tiga minggu mulai ringan, sebulan, yeaah saya bisa berdiri tegak dan tersenyum tanpa beban.

Tapi masalah sering muncul karena saya sering dapat protes dari Boss soal kinerja saya yang menurun. Entah berapa kali dia menegur saya dan hanya saya masukkan ke kuping kanan ke luar kuping kiri. Saya tidak mau mikir terlalu berat, PHK ya PHK saja, tidak masalah buat saya, toh ada yang akan menampung saya.

Puncaknya adalah awal bulan ini saat saya pulang libur Minggu. Hampir jam 1 malam Boss baru pulang, melihat bapaknya ngambek saya langsung diajaknya duduk di ranjang kamar sebelah. Interogasi pun terjadi. Dan, hampir 6 tahun dia menjadi boss saya, baru kali ini dia melihat saya menangis, dan itulah untuk pertama kalinya   saya menangis di depan dia.

Saya tidak mau terus ditekan, saya harus berontak dan saya berhasil membuatnya ketakutan dan kawatir. Saya juga manusia biasa yang tidak bisa terus dizalimi (bahasanya). Cukuplah saya diam dan mengalah, tidak pernah menjawab saat Boss bilang ini itu atau nyindir saya ini itu. Ya saya memang jadi orang kebanyakan nerimo dan ngalah, tapi ada masanya dimana saya bisa berontak dan teriak kalau saya merasa benar.

Hasilnya apa? Sejak saat itu Boss berubah menjadi sangat baik ke saya. Jauh lebih baik dari sebelumnya. Rasa percayanya yang sempat menurun kini kembali lagi. Uneg-uneg yang saya pendam selama setengah tahun saya keluarkan semuanya saat itu juga. Pun keinginan saya untuk break kontrak dan menyuruh  dia mencari pengganti kalau dia merasa saya bekerja sudah tidak baik lagi. Dan kalau masih ingin saya bekerja dengannya, saya minta dia untuk tidak bertanya-tanya lagi ke saya “kenapa, mengapa, bagaimana…..” Saya janji untuk bekerja lebih baik lagi, itu penutup curhat saya.

Eh tapi, bukannya menginterminit saya, padahal saya sangat menunggu untuk diinterminit, malah bertanya tambah kontrak apa tidak. Hiduh, jujur saya bekerja di Hong Kong sudah sangat capek, sudah dalam taraf kebosanan, tapi karena saya punya kegiatan baru, rasa bosan itu sedikit berkurang dan saya sudah janji sebelumnya untuk menyelesaikan kontrak ini sampai finis.

Selama ini, saat saya masalah, saya curhatnya ke Pak Lud yang berada di Belgia, ke Aulia di Indonesia dan ke Ani yang masih di Hong Kong, selain itu, tidak ada orang yang tahu masalah saya. Benar kata Pak Lud, sekali-kali kita harus berontak, jangan terus berdiam diri. Dengan berontak beban akan berkurang, entah apapun hasilnya nanti. Baik buruk itu dua hal yang selalu beriringan dan saya mendapatkan banyak hal baik dari pemberontakan saya ke Boss.

Sebenarnya masalah kerjaan saya tidak terlalu mikir lagi. Resiko interminit ya pulang saja ke Indonesia, gitu saja. Saya sudah sangat siap jika harus pulang selamanya ke tanah air dan memulai semuanya di tanah kelahiran saya. Saya malah berdoa untuk bisa pulang lebih cepat dari rencana awal yaitu finis kontrak, semoga.

Hmmm, ternyata melawan atasan itu juga perlu. Entah apapun hasilnya, daripada terus dipendam lebih baik keluarkan semua, entah apapun hasilnya. Yah, paling tidak dengan begini anggapan kalau saya orangnya pendiam sedikit terpatahkan (halah). 

You Might Also Like

0 komentar