blogger bmi

Soal Lesbian: Kenapa Selalu Identik dengan BMI Hong Kong?

6:12 PM



Kesenian Reog dibawakan BMI sebelum aksi menyambut May Day di tengah gerimis namun tetap semangat,  demi membela hak BMI dan melestarikan budaya bangsa


 Miris, sedih dan campur geram. Itulah perasaan saya saat melihat video yang telah menyebar luas melalui Youtube tentang dua BMI di Mass Transit Railway (MTR) yang sedang berasyik ria……..  akh, saya gak tega melanjutkannya. Saya tidak akan menjelaskan isinya apa, saya juga tidak akan menyertakan link-nya, maaf ya.

Saya beri gambaran sedikit saja. Kedua BMI tersebut sama-sama perempuan dengan dandanan satu ala cowok atau tomboy, satunya cewek yang feminim. Pasangan seperti ini disebut lesbian atau  penyuka sesama jenis yakni perempuan yang mempunyai rasa sayang dan cinta terhadap perempuan.

BMI Hong Kong setiap Minggu bisa menikmati hari libur, berkumpul dengan sesama BMI. “Mungkin” dari sinilah muncul benih-benih suka diantara mereka. Karena jauh dari keluarga dan hanya teman dekat (sesama BMI) sebagai tempat menumpahkan keluh kesah yang ada, ada yang perhatian setiap hari, atau ada yang ditemui setiap libur menjadi awal timbulnya rasa sayang diantara mereka.

Di saat banyak BMI berusaha untuk menampilkan sisi positif tentang kehidupan BMI Hong Kong melalui seni budaya, atau organisai buruh atau melalui tulisan yang menceritakan hal-hal positif tentang BMI Hong Kong, ternyata di sisi lain, BMI lain justru merusaknya, duh.

Dari 150 ribu lebih BMI yang ada di Hong Kong, mungkin hanya beberapa gelintir saja yang melakukan hal itu, tapi karena hal negatif yang hanya setitik nila, semua nama "BMI Hong kong" terkena semuanya.

"TKW HK memang gitu, gak kaget dengan TKW HK lah, kerjaannya emang gitu...... " dan komentar sinis lainnya beterbangan di ranah maya, ya karena video yang isinya negatif tadi.

Ayolah kawan, kita sama-sama bekerja di luar negeri. Marilah bawa nama baik bangsa kita yang sedang terpuruk oleh ratusan kasus terutama korupsi. Saya berharap si-empunya video sadar dan menghapusnya. Kalau anda juga BMI, sadarkah kalau dengan tidak langsung anda juga merusak nama anda sendiri? 

Saya melihat video tersebut pada hari Sabtu, 11 Mei 2013 dan sudah ada 32 ribu viewer yang klik video tersebut, kalau sekarang saya tidak tahu, semoga saja sudah dihapus.

Kadang saya heran, kenapa selalu BMI Hong Kong yang disorot? Kenapa soal lesbian di kalangan BMI Hong Kong yang dibesar-besarkan? Saya jadi bertanya dalam hati, memang benar hampir 98% yang bekerja di Hong Kong adalah kaum perempuan dan penyuka sesama jenis memang ada. Lalu, di Korea Selatan (mosalnya) banyak juga tenaga kerja laki-laki, adakah kaum gay di sana yang pelakunya adalah TKI dari Indonesia?

Saya belum pernah mendengar kabar soal gay di kalangan TKI laki-laki di negara lain, yang sering saya dengar dan baca di berbagai berita cetak dan online adalah lesbian di kalangan BMI Hong Kong? Kenapa? Mengapa?

Sebagai BMI, jujur saya tidak rela kalau BMI Hong Kong mendapat “cap” sebagai TKW murahan, rendahan, atau lesbian dan sederet kata negative lainnya. Tolong buka mata dan hati anda, sangat banyak sekali BMI yang berprestasi dan membawa nama baik Indonesia di Hong Kong.

Banyak BMI yang meskipun tinggal di negera super bebas (Hong Kong) namun tetap cinta tanah air. Setiap Minggu mereka berbagi ilmu kepada BMI lain. Ada yang belajar menari tradisional untuk tetap melestarikan budaya bangsa di luar negeri. Ada yang melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, ada yang aktif menulis dan juga berorganisasi. Ada yang aktif di bidang keagamaan, seperti menghafal Al-Quran, mengaji dan belajar memperdalam ilmu agama. Ada yang mengikuti kursus merias dan potong rambut untuk bekal usaha nanti saat pulang ke kampung halaman. Kenapa yang diangkat selalu yang negative?

Kenapa yang negative selalu dibesar-besarkan? Padahal yang positif  jauh lebih banyak. Saya tetap menjadi bangga menjadi bagian dari BMI Hong Kong. Dan saya akan terus berbagi melalui tulisan untuk mengabarkan kepada dunia bahwa BMI Hong Kong tidak seburuk yang mereka kira.

Semoga tidak ada lagi kasus serupa nantinya dan semoga semakin banyak BMI yang mau mengangkat isu-isu positif di kalangan BMI Hong Kong. Kalau bisa berbagi hal yang positif, kenapa harus yang negative dibagi? 

You Might Also Like

8 komentar

  1. "Kalau bisa berbagi hal yang positif, kenapa harus yang negative dibagi?" ~> SEPAKAT!!
    ^_^

    ReplyDelete
  2. itu semua berawal dari mindset orang2 kita, lebih fokus melihat ke satu titik tinta putih di kantong baju daripada warna putih baju itu sendiri yg jumlahnya lebih banyak. ayo kita rubah mindset bangsa kita, mulai dari diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  3. Mantap mba fera... Itulah isi hati saya yang sampai sekarang belum tertuah dalam tulisan

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayuk menulis mbak, kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi

      Delete
  4. sbnrnya sama apa yg Mbk alami dng perasaan saya , kenapa gara2 satu nila merusak susu sebelangga , terlalu rapuhkan Anak Bangsa ? hingga di Negri Orang tdk kah bs menjaga nama dan harga diri ????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga banyak yang sadar dengan tujuan awal mbak

      Delete