blogger bmi

Cerita Tentang Hong Kong dan BMI

8:23 PM

At Star Ferry Tsim Sta Tsui


Hong Kong, siapa yang tidak kenal dengan nama ini? Kota atau negara kecil bekas jajahan Inggris yang telah kembali ke China ini sangat terkenal di dunia. Ekonominya yang maju dan ditopang dengan hukum yang sangat tegas menjadikan Hong Kong yang dulunya sarang korupsi kini menjadi negara yang patut dijadikan percontohan dalam hal menangani korupsi.

Orang-orang Hong Kong  juga juga terkenal dengan tertib dan patuh hukum juga mengenai kebersihan. Ya, meskipun banyak yang bilang bilang soal tertibnya Hong Kong masih kalah dengan Jepang, atau bersihnya Hong Kong masih kalah dengan Singapura, paling tidak Hong Kong sudah menjadi negara kecil yang  terkenal di dunia.

Tak terasa 8 tahun sudah saya bekerja di Hong Kong. Banyak cerita penuh warna saya dapat di sini. Soal tabiat para majikan, tentang pekerjaan, pelayanan yang tidak diskriminatif, masalah adat dan budaya, mengenai masakan, tempat-tempat perbelanjaan dan juga wisata yang ada di  Hong Kong.

150.000 lebih Buruh Migran Indonesia (BMI) bekerja di Hong Kong dan 140.000 lebih buruh migrant dari Pilipina, juga pekerja dari berbagai negara, seperti Nepal, Banglades, Thailand, Srilangka, India dan lainnya   ada di Hong Kong.

Hong Kong menetapkan hari Minggu sebagai libur pekerja rumah tangga, juga hari libur nasional sebanyak 12 hari bagi pekerja setiap tahunnya. Pekerja rumah tangga juga memiliki gaji yang telah diatur oleh pemerintah Hong Kong sebesar HK$ 4010. Gaji ini naik sebesar HK$ 90 sejak 1 Oktober 2013, dari yang sebelumnya HK$ 3920.

Banyak yang bilang kalau Hong Kong adalah surganya bagi pekerja karena jarangnya berita penganiayaan yang ada. Terlepas dari semua itu, sebenarnya masalah buruh migrant kususnya pekerja rumah tangga di Hong Kong sangat komplek. Penganiayaan terhadap pekerja rumah tangga masih ada. Pun juga gaji yang tidak dibayar bahkan kasus perkosaan.

Tahun 2017, pemerintah berencana   menghentikan pengiriman pekerja rumah tangga dan akan mengganti dengan mengirimkan tenaga professional ke luar  negeri.  Pemerintah juga akan membatasi hanya 4 tahun saja para pekerja rumah tangga bekerja di luar negeri.

Kita tunggu saja, apakah cara ini efektif untuk meminimalisir banyaknya kasus BMI di luar negeri. 


You Might Also Like

2 komentar

  1. uwah,banyak juga ya BMI di hongkong.......penasaran sama hongkong ^^

    ReplyDelete