BMI Hong Kong

Negara Auto Pilot Mengiringi Deretan Kasus Penyiksaan BMI

11:30 AM


Masih ingat dengan kawan kita Sumiati? BMI yang bekerja di Arab Saudi yang disiksa majikannya begitu keji. Bibirnya digunting dan seluruh tubuhnya penuh luka. 

Masih ingat dengan Kikim Komalasari? BMI yang juga bekerja si Arab yang ditemukan meninggal di tempat sampah akibat disiksa majikan. 

Dan tentu masih ingat juga dengan Nirmala Bonat, bukan? BMI yang juga mengalami penyiksaan di negara tetangga kita, Malaysia yang berdampak kemarahan luar biasa terjadi dimana-mana.

Kartika dan Erwiana, BMI yang bekerja di negara dengan julukan "surganya buruh migran" Hong Kong juga mengalami hal yang tak jauh beda dengan nama-nama di atas.

Belum reda rasa geram dan sedih kita, kini muncul lagi nama baru. Kokom, BMI yang bekerja di Arab juga mengalami penyiksaan dari majikan bahkan telinganya digunting.  

Para kawan kita ini hanya sebagian kecil yang kebetulan muncul di media. Berapa ratus bahkan ribu yang tak tercium media dan mengendap begitu saja. Diam, nerimo, pasrah dan tak tahu harus 
berbuat apa.

Dimana pemerintah?
Dimana Presiden?
Dimana Menteri tenaga kerja?
Dimana BNP2TKI?
Dimana...
Dimana...
Akh,,,, siapa lagi yang harus kami tanyai dimana saat terjadi kasus seperti ini?

Harus berapa ribu lagi pasang mata yang sembab oleh air karena duka?  Harus berapa ribu lagi anggota keluarga yang akan kehilangan saudaranya demi sesuap nasi di luar negeri?

Indonesia, katanya kaya raya, tapi kenapa orang-orang yang mendapat kuasa mengolahnya harus mengirimkan ribuan warganya ke luar negeri yang sangat asing ini untuk bekerja? 

STOP mengatakan "salah sendiri bekerja ke luar negeri"

Berhentilah berkata "siapa suruh kerja ke luar negeri"

TERPAKSA. Iya, kami terpaksa bekerja ke luar negeri karena minimnya lowongan kerja dan juga gaji yang tak mencukupi. 

Anehnya pemerintah Indonesia yang selalu saja bangga memiliki tenaga kerja yang punya sifat "sabar, nurut, patuh, nrimo, telaten dan sederet lainnya."

Bangga karena trilyunan devisa masuk ke negara setiap tahunnya tapi tetap saja tak ada perubahan. Proses awal yang sudah salah kaprah di negara sendiri sepertinya malah diabadikan.

Tak akan bergerak kalau tak ada pergerakan dari kaum buruh. Sorotan media Internasional sepertinya tak akan cukup mampu untuk membangunkan para pemangku kebijakan yang berhubungan dengan kaum buruh.

Selalu berharap setelah nama korban muncul tidak akan ada lagi korban berikutnya. Tapi faktanya selalu saja ada korban yang jatuh berikutnya. Pemerintah tak sadar, kalau nyawa yang prosesnya  mereka titipkan ke agen dan PJTKI itu sangat berharga bagi keluarganya. Yang pemerintah sadari hanya nilai nominal yang semakin bertambah akan semakin bagus.

Sudahlah, negera kita memang auto pilot. 

You Might Also Like

6 komentar

  1. terlepas dari status saya sebagai orang pemerintah, saya punya harapan yang sama dengan dirimu agar tidak ada lagi korban yang jatuh disiksa di negeri orang. Mari kita terus berjuang mak, supaya perlindungan WNI, di mana pun mereka, benar-benar terlaksana dengan baik...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak, berharap tidak ada kasus serupa :(

      Delete
  2. Subhanallah nggak kuat lihat foto-fotonya :( Disiksa seolah dianggap benda mati

    ReplyDelete
    Replies
    1. :( entah hati penyiksa ini terbuat dari apa mak

      Delete