BMI Hong Kong

6 Tahun di Hong Kong Tabungan Kosong

9:34 AM

    Gaji besar resiko juga besar


"Hu kuia siuce. Ngo cenhai em siong co" (capek non. Sungguh aku tidak ingin kerja) keluh teman saya lewat telpon.

Dia lalu cerita kerja di Hong Kong sudah kontrak ke 3 mau habis, tapi sama sekali tidak punya tabungan di Bank.

"Why?" Tanya saya ke dia dengan nada sangat penasaran.

"Aku kirim ke rumah. Mereka gak bisa ngatur keuangan." Jawab teman saya lemas.

Banyak orang berfikir kalau kerja di luar negeri itu enak. Gaji tinggi dan apa-apa tercukupi. Stop!! 

Jangan bilang seperti itu lagi. Gaji tinggi tapi  resiko juga tinggi. Gaji tinggi pengeluaran juga semakin tinggi. Mengambil contoh dari teman seprofesi saya ini. Dia kerja hampir 6 tahun tapi cerita ke saya kalau sampai saat ini sama sekali tidak punya tabungan di bank. Rekening bank Indonesia pun dia tidak punya. 

Tiap bulan gajinya dia kirim dengan harapan keluarga di rumah bisa mengatur keuangan hasil jerih payah dia di negeri orang. Belum pernah sekalipun dia pulang kampung, pertimbangannya tidak lain karena dia tidak ingin buang-buang duit. 

"Tau sendirilah saat pulang kampung habisnya berapa" kata teman saya lagi.

Hmmmm, saya hanya bisa bilang turut prihatin. Saya lalu cerita ke dia kalau saya punya temen yang nasibnya hampir mirip, sebut saja namanya Ina. 7 tahun di Hong Kong dan sekalipun juga belum pernah pulang kampung. Tiap bulan dia ngasih jatah ke rumah (nominal rahasia). Saudaranya ada 5 dan sudah berkeluarga semua. Kakak-kakaknya rumahnya berdekatan dengan ibunya.

"Mereka males semua Fer. Gak ada yang kerja  dan hanya ngarepin duit kirimanku terus" cerita Ina.

Wela dalah. Saya langsung mengelus dada mendengarnya.

"Kalau begini caranya sampean kerja di Hong Kong 20 tahun gak bakalan punya tabungan sendiri. Coba  kurangi jatah kiriman, kasih aja buat orang tuamu. Kakak-kakakmu kan sudah punya suami, masa masih ngarepin duit dari sampean. Gak kasian apa?" Saya mencoba memberi masukan.


Sebagai teman yang sama-sama hidup di rantau dan jauh dari keluarga, curhat ke sesama BMI adalah solusi yang bisa meringankan sedikit beban di pikiran. Paling tidak bisa mengurangi tekanan yang ada. 

Ada beberapa teman saya yang cerita kalau keluarga mereka di rumah selalu dan terlalu beranggapan bahwa kerja di luar negeri itu gajinya tinggi dan sama sekali tidak mikir dengan resiko yang ada. Gaji, duit, gaji, duit. Hanya itu yang ada dalam pikirannya meski saya tau tidak semua keluarga di rumah punya pikiran seperti itu. Masih banyak keluarga BMI yang benar-benar amanah dengan uang kiriman hasil jerih payah anak atau istrinya yang sedang mengadu nasib di luar negeri.

Harus pandai-pandai mengatur keuangan. Menyesal selalu di belakang dan  dia tidak mau menyelip untuk berada di depan. Harus ingat tujuan awal kita "untuk apa dan demi siapa" rela pergi jauh-jauh dari keluarga yang kita cintai. 

Saya tidak bermaksud menasehati, sama sekali, tidak. Saya ingin berbagi cerita dan pengalaman saya ke sesama BMI yang mungkin saat ini punya masalah seperti ke dua teman saya tadi.

Sisihkan gaji perbulan. Buat aturan sendiri kalau ini harus dan wajib memasukkan uang ke rekening sendiri setiap bulannya. Buka bank Indonesia, karena rata-rata bank Indonesia yang ada di luar negeri tidak  melayani pengambilan cash. Keuntungan tersendiri buat kita karena uang  tidak bakalan terambil sebelum kita pulang ke tanah air.

Jangan gunakan aji mumpung. Mumpung di luar negeri jauh dari keluarga jadi bisa bebas beli apa saja, beli ini itu atau barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Kirim uang ke kampung seperlunya saja, atau sesuaikan dengan kebutuhan keluarga kita.

Jangan meminjamkan uang ke orang atau tempat peminjaman uang apalagi jumlahnya hingga puluhan juta. Harus berani berkata "tidak" dan "maaf". Karena biasanya orang yang berhutang terlalu menganggap remeh uang, terlebih lagi orang yang meminjamkan uang sedang bekerja di luar negeri. Pikirannya pasti "achhh, dia uangnya banyak. Bisa di balikin kapan saja" Gak mau rugi kan? Biarin dibilang pelit, hahahaha

Sekarang kita bekerja untuk mencari uang. Setelah punya uang, mari kita kerjakan uang tadi untuk kita. Uang yang bekerja dan kita tinggal menjadi pengaturnya saja.

Tetap ingat dengan tujuan awal, terpisah jauh dari keluarga untuk bekerja ke luar negeri ini untuk apa dan demi siapa. 

You Might Also Like

9 komentar

  1. kasian juga dah kerja sekialn lama, tapi keluarga dirumah gak bs mengaturnya..better uangnya jangan dikirim semuanya ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak kasian, kadang keluarga terlalu ngarep kiriman bahkan mendekte harus kirim sekian setiap bulan :(

      Delete
  2. wah, kasihan temen2 mbak yang kerja di Hongkong ya. Kerja sekian tahun, tapi semuanya untuk orang di kampung. Untuk orangtua sih masih wajar, masak mesti ngasih ke sodara2 yang udha menikah juga?aaaaaaaaaaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini ada beneran lo mas yang nanggung hidup saudara2 yang sudah berkeluarga, hiks

      Delete
  3. Yang di tempat saya pun ada yg begitu, Mbak. Saya tinggal di Kurdistan. Beberapa temen BMI ada yg udah 5 tahun belum pulang. Uangnya dikirim semua untuk anak2nya. Malah ada ug suaminya ga kerja, nungguin kiriman istrinya aja tiap bulan. Katanya sih buat modal, tp entah ke manain itu uangnya. Sementara anak2nya pun selalu minta barang2 wah seperti gadget tablet dll untuk ulangtahunnya. Haduuuuh ini ibunya kerja keras jd BMI malah dimanfaatkan. Kasihan.

    ReplyDelete
  4. Kasian ya mak :(
    Banyak sekali yang mengalami hal ini mak, lebih parah yang berujung perceraian

    ReplyDelete
  5. aku jg ngalami sendiri kq mbak,,berusaha nabung, berusaha irit, tp kq ya ada2 saja kebutuhan di rumah..tp ya gimana lagi.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. harus bisa menyisihkan untuk diri sendiri

      Delete
  6. Tumben nich mba' Fe aq kok bs masuk kesini. ijin share di TKI Belajar Berkarya ya...

    ReplyDelete