BMI Hong Kong Disiksa

Biarkan Dipancung Atau Menebus Rp 21 M, Pemerintah Pilih Mana?

2:38 PM




Sebagai sesama Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri, dada ini sesak mendengar salah satu teman seperjuangan yang oleh pemerintah di beri gelar "Pahlawan Devisa" di eksekusi hukuman mati. Sebegitu lemahnyakan pemerintah? Atau memang pemerintah sudah tidak peduli lagi dengan WNI yang berada di luar negeri sehingga terkesan tutup mata dan telinga dan lebih sibuk mengurus pundi-pundi devisa yang masuk?


Bandingkan dengan negara Australia, melihat sapi-sapinya di perlakukan tidak baik oleh negara kita, mereka dengan tegas dan cepat mengambil tindakan untuk menyetop pengiriman ke Indonesia. 

Bagaimana dengan pemerintah kita saat melihat warganya di luar negeri dianiaya, diperkosa, disiksa sampai cacat seumur hidup, tindakan apa yang diambil yang bisa membuat dada ini sedikit saja bisa dibusungkan oleh rasa bangga?

Pemerintah sepertinya hanya menghitung devisa yang tiap tahun nilainya terus meningkat tanpa melihat bagaimana nasib si pengirim devisa di luar negeri. Pemerintah terlalu dimanjakan oleh devisa yang masuk. Miris. Dengan bangganya tiap beberapa bulan  melaporkan ke media bahwa devisa yang masuk dari para TKI di luar negeri sekian trilyun rupiah. Tapi imbal balik apa yang diberi pemerintah untuk para pahlawan devisa ini? 

Sampai di tanah air bukannya disambut dengan senyum ramah, tapi yang ada malah penjarahan berkedok pungutan yang dilakukan oleh orang-orang berseragam.

Belum reda kasus di Hong Kong, ada Kartika, Erwiana, Siti Fatimah dan masih banyak lagi. Masih hangat kasus Uul di Taiwan yang mengalami koma karena perlakuan majikannya. Masih ada lagi TKW yang jasadnya mengapung di laut sampai membusuk. Belum lagi ribuan TKI yang overstay tak terurus.

Satinah, BMI asal Jawa Tengah yang di pengadilan mengaku telah membunuh majikannya dan mencuri uang ini perlu uang tebusan atau uang darah sebesar 10 juta riyal atau sekitar Rp 21 miliar, uang yang saat ini terkumpul sebesar 4 juta riyal. 

Bagi pemerintah Indonesia, uang sejumlah itu tidak ada artinya jika dibanding dengan devisa yang masuk trilyunan rupiah setiap tahunnya, sebenarnya.  Tapi sepertinya pemerintah enggan merelakan uang tebusan untuk satu kepala bernama Satinah. Nego dan nego masih berjalan alot.

Masih ingat dengan Ruyati? Kasusnya gempar setelah kepalanya terpisah dari raga di tangan algojo karena hukuman mati. Eksekusi dilakukan pada 18 Juni 2011 pukul 15.00 WIB di Kota Makkah dan menjadi orang ke-28 yang dieksekusi pada tahun itu. 

Di tahun yang sama, Darsem, BMI asal Subang lolos dari hukuman pancung karena dituduh membunuh. Darsem tetap diwajibkan membayar diyat (denda) sebesar 2 juta real atau sekitar Rp 4,7 miliar. Bahkan Darsem menjadi milyader dadakan karena bantuan pemirsa salah satu TV nasional yang berhasil mengumpulkan bantuan sebenar Rp 1,2 M lebih. Diyat dibayar oleh pemerintah dan bantuan itu pun menjadi hak Darsem  (Lupakan dulu perilaku Darsem setelah mendapat uang sebanyak itu, kita fokus ke pemerintah).

Pemerintah tak mau kecolongan atau terus menerus dituduh tak peduli dengan warganya di luar negeri. Akhirnya Darsem pun bebas setelah uang tebusan dibayar oleh pemerintah sebesar Rp 4,7 M

Satinah akan dihukum mati pada tanggal 3 April 2014 jika uang tebusan yang diminta tak dipenuhi. Kementerian Luar Negeri menyebutkan, sejak 2011 hingga awal 2014, ada 249 warga Indonesia yang terancam hukuman mati di berbagai negara, termasuk 20 kasus terakhir pada awal 2014.

Akankah pemerintah iklas merelakan uang tebusan sebesar Rp 21 M untuk satu nyawa bernama Satinah? Atau, pemerintah akan membiarkan nasib Satinah seperti Ruyati di tangan algojo?

Kita tunggu saja ketegasan pemerintah. Sudah cukuplah harga diri bangsa ini diinjak-injak oleh banyak negara dan dibiarkan begitu saja, termasuk negara kecil bernama Singapura. Kalau pemerintah peduli dengan para TKI di luar negeri, pasti ratusan nyawa-nyawa  yang terancam mati di tangan algojo ini bisa diselamatkan (kecuali Tuhan berkata lain).

Kita yang ada di Hong Kong, atau Taiwan, Korea, Jepang, Malaysia, Singapura, kita tidak bisa untuk tidak peduli dengan kasus saudara kita di Arab Saudi. Mari terus bersuara, paling tidak melalui tulisan, buah pikiran dan apa yang pernah kita alami sebagai sesama buruh migran di luar negeri. 

Dan mari terus kawal setiap kasus yang menimpa saudara kita. Kita kawal kinerja pemerintah bagaimana mengurus WNI yang menunggu giliran para algojo. Akan menyelamatkan mereka, atau merelakan kepala mereka terpisah dari raga? Padahal mereka adalah bagian dari pengirim devisa bernilai trilyunan rupiah kepada negara.

-

Data-data sebagian dikutip dari Detik.com, Merdeka.Com, Inilah.com dan sumber lain. 

You Might Also Like

3 komentar

  1. Ya jangan bikin masalah di luar negeri, dah jelas orangnya nyuri uang dan bunuh manjika. Jadi pengennya pajak buat nolong yg kayak gt? NO WAY

    ReplyDelete
  2. hilang uang bayar uang,,hilang nyawa bayar nyawa...memaafkan lebih disukai Allah SWT..
    dah ada tuh mba di Alquran,,buka n baca dong

    ReplyDelete
  3. Duh ! Menghilangkan nyawa orang itu juga tidak dianjurkan oleh agama, jadi saya no coment aja lah :D

    ReplyDelete