ATKI

Ganika dan ATKI Berpisah Untuk Berjuang

10:04 AM

     Perpisahan yang manis

Siapa yang tak kenal sosok satu ini. Badannya memang kecil, tapi jangan ragukan seberapa besar semangatnya di garis perjuangan buruh migran. 

Ganika Diristiani namanya, ketua ATKI Hong Kong sejak tahun 2012 dan awal tahun 2014 ini telah mengakhiri masa lajang, menjadi seorang istri dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu. 

Ganika, masuk ke Hong Kong tahun 2000, mengalami gaji underpay, tidak diberi hak libur dan juga pernah diinterminit karena tidak bisa masak. Hampir semua BMI yang baru pertama kali masuk Hong Kong mengalami underpay.


"Saya ini dulunya penakut dan terlalu percaya dengan takdir. Seperti gaji underpay dan gak libur itu. Tapi setelah kenal organisasi, pikiran saya berubah." Tuturnya.

Ganika mulai mengenal organisasi ATKI sejak pertengahan tahun 2000. Tahun 2010 menjadi wakil sekretaris ATKI lalu tahun 2012 menjadi ketua.

Tentu banyak sekali suka duka yang pernah dia rasakan saat berorganisasi di ATKI. Ganika berharap kepada kawan-kawan BMI untuk meluangkan waktunya sehari saja atau paling tidak satu jam saja untuk belajar dan berjuang bersama dengan gabung di organisasi. Kerja di Hong Kong selain mencari kebutuhan ekonomi, kalau bisa kita juga harus mengenali hak-hak apa saja sebagai pekerja, katanya.


Kasus yang ditangani oleh ATKI kebanyakan adalah soal gaji underpay, kriminal seperti pencurian atau disiksa majikan, diperkerjakan di China dan tidak dibayar dan masih banyak kasus lainnya. 

Kawan-kawan tentu masih ingat dengan kasus BMI yang pengaduannya ditolak oleh KJRI karena dia hanya bersendal jepit, dan juga kasus seorang BMI yang melapor ke KJRI tapi tanggapan staf KJRI sangat buruk dan pengaduan tersebut direkam lalu disebar ke media termasuk Youtube. Kasus ini pun mendapat komentar dari Kementrian luar negeri. 

Ganika berharap kepada KJRI untuk memperbaiki pelayanan dan perlindungan terhadap buruh migran.

"Masa KJRI kalah sama BMI. Kita para BMI yang berorganisasi rela berpanas ria dan berhujan-hujanan untuk memberikan pendidikan kepada sesama BMI yang masih buta soal hukum ketenagakerjaan. Memberikan training hukum tanpa dibayar, masa KJRI yang dibayar oleh pemerintah tidak mau." Tuturnya.

"KJRI punya akses yang jauh lebih besar daripada kita para BMI. Kalau ingin para BMI pintar dan maju, jangan hanya berada dibalik meja saja, turunlah ke lapangan, berikan pendidikan kepada BMI. KJRI kan bisa membuka forum besar di lapangan untuk memberikan training soal hukum bagi buruh migran bukan hanya lewat welcoming program atau exit program, tapi kenapa sampai sekarang tidak dilakukan?" Tambah Ganika. 

Ganika paham betul bahwa banyaknya kasus yang menimpa BMI karena sumbernya berasal dari Indonesia. UU no. 39 salah satunya, juga overcharging yang membuat BMI tak bisa berkutik. Penahanan dokumen, potongan agen tinggi, pelarangan pindah agen dan banyak lagi. Selain itu juga proses awal perekrutan dan pembekalan yang semuanya diserahkan ke pihak swasta juga menjadi akar masalah.


"Meskipun tidak ada saya di Hong Kong, saya tetap berharap ATKI akan selalu memberikan pelayanan kepada buruh migran yang membutuhkan, tetap disiplin dengan langgam kerja,  dan terus mengenalkan ATKI bukan hanya sebagai tukang demo." Tambahnya lagi.


Dan hari ini petualangan Ganika sebagai buruh migran resmi diakhiri, tetapi perjuangannya tidak akan pernah berakhir dan mati. 

Ganika kembali ke tanah air dengan membawa semangat dan akan ditularkan ke kawan-kawan di Indonesia. Berjuang bukan saja di Hong Kong, tetapi bisa di mana saja. Bukankah tidak ada perjuangan yang sia-sia, kawan? Di manapun kamu berada.


Ganika, banyak sekali kesan yang saya, dan juga kawan-kawan ATKI dan organisasi lainnya bersamamu. Itu terungkap saat perpisahan di lapangan Victoria Park pada Minggu 23 Februari 2014 kemarin. Canda, tawa, tangis, pertengkaran, kesalahpahaman dan lainnya menjadi warna dan persahabatan kita selama ini. Warna yang melengkapi setiap langkah perjuangan demi satu tujuan bersama, yakni perubahan untuk buruh migran.

Ganika, saya tahu, kamu adalah sosok pekerja keras dan juga keras kepala (eh). Saya tahu, dibalik sifat kerasmu, kamu masih menyimpan kelembutan dan penuh kasih sayang.

Ganika, semenjak menjadi seorang istri, aura ke-Ibuan begitu jelas terpancar dari wajahmu. Ganika yang dulunya ganas dan pontang-panting ke sana ke mari tak terkendali menjadi Ganika yang tiba-tiba kalem, lembut dan agak pendiam (mungkin bawaan bayinya ya).

Ganika, yang sering lupa makan karena terlalu sibuk dengan PR di organisasi, Ganika  yang pasti cengar-cengir saat menelan obat karena terpaksa, Ganika yang pecinta kopi dan ngaulam min (sama banget kayak saya). Ganika yang.... ahk, rasanya terlalu panjang kalau saya tulis di sini.

Ganika yang saya tahu sebelum kepulangannya masih belum punya target di Hong Kong akan sampai kapan. Ganika yang dengan santai bilang "aku pulang mau nikah Fer, doakan ya" dan itu membuat saya kaget antara percaya dan bahagia.

Ganika, ternyata banyak hal tak terduga yang akhir-akhir ini kamu alami, tentunya. Menjadi seorang istri dan sebentar lagi seorang Ibu. Berpisah dengan kawan-kawan di Hong Kong dan memulai hidup baru di tanah air.

Kamu tidak kalah, Gan, kamu telah menjadi pemenang diantara ribuan buruh migran yang belum berani memutuskan untuk pulang ke tanah air (termasuk saya). Setiap pertemuan, kita tak bisa menolak akan datangnya perpisahan. Tapi perpisahan ini adalah perpisahan yang manis, dan kita akan bertemu di tanah air nanti. 

Beberapa foto dengan Anggota ATKI dari ranting Labas, Lapangan rumput, Tanderska

      






     "Tetap berjuang demi buruh migran." 

    Ganika, pasti kau akan merindukan tempat ini.

     Sampai bertemu di tanah air, Gan. 

Ganika. jaga diri baik-baik, jaga kesehatan dan jangan telat makan, demi Ganika junior. Semangatmu akan selalu menjadi panutan kawan-kawan di Hong Kong dan buruh migran di negara lain, tularkan ke orang-orang yang kau temui setiba di tanah air.

Sampai bertemu dan tetap di garis perjuangan. 



You Might Also Like

4 komentar

  1. terharu pake bangeet.... Semangatmu semangat kita semua.

    Perjuangan sesungguhnya adalah di tanah air , berpisah di hongkong tapi kita yakin akan bertemu di indonesia untuk meneruskan perjuangan yg sesungguhnya sebagai rakyat indonesia. Kayaoo...!!!

    ReplyDelete
  2. Aku hanya bisa menangis....di sini di kamarku saat ini saat aku menulis komentar ini, 26 Februari 2014 10:55. Ganika orang pertama yang kukagumi di hong kong, ketika pertamakali aku memasukkan diri ke organisasi ATKi 1 Mei 2011 yang lalu. Saat itu Ganika dan yayan menjadi MC / orator di Vic Park.
    Semoga kita bisa bertemu, pahlawan tersayang yang kukagumi diantara semua pahlawan2 yang kukagumi. God blee you and family forever. SP Hillaery Fabiola Gultom. (0812 8228 5734 / 0818 0618 6235)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak yang kehilangan mbak, termasuk saya.
      Tapi ini bukan akhir dari segalanya karena Ganika akan tetap berjuang bersama kita

      Delete