BMI Hong Kong

Ibarat Mencari Jodoh, Sama Seperti Saat Mencari Majikan

5:17 PM

     6 tahun bersama Kungkung, dari masih sehat sampai tidak bisa ngapa-ngapain.

Hidup serumah itu harus ada kecocokan, kalau tidak ada kecocokan yang ada malah cek-cok terus-terusan. Seperti pasangan suami istri, kalau cocok satu sama lain meskipun banyak perbedaan, pasti semua akan berjalan indah dan kebahagiaan akan selalu menyelimuti keduanya. Bener kan?

Saya ingin bercerita sedikit tentang lika-liku mencari asisten rumah tangga atau sebaliknya, mencari majikan. Keduanya punya hubungan simbiosis mutualisme. Saling membutuhkan satu sama lain. Asisten butuh pekerjaan serta gaji dan ini didapatkan dari seorang majikan. Sedang majikan butuh orang yang bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya dengan mengeluarkan uang sebagai bukti pembayaran dan ini bisa dilakukan oleh si asisten.

Mencari majikan itu sama seperti mencari jodoh. Dan sebaliknya, mencari asisten pun sebenarnya juga sama seperti mencari jodoh. Kalau keduanya cocok, jangankan setahun atau dua tahun, sepuluh atau dua puluh tahun pun mereka akan setia satu sama lain, tidak ingin kehilangan dan akan tetap mempertahannya. Kalau jodoh tentu berharap hanya ajal yang akan memisahkan, bukan orang lain (selingkuhan) sebagai pemisahnya. Kebanyakan sih majikan yang sudah terlalu sayang sama asistennya. Iming-iming gaji naik pasti keluar saat si asisten berniat ingin undur diri dari pekerjaannya.

Tapi, kalau keduanya tidak cocok, gaji besar dan fasilitas apapun pasti tidak mempan untuk mempertahankan si asisten. Atau pekerjaan sebaik apapun, sejujur apapun kalau majikan tidak suka, tetap saja mereka tidak akan bisa bertahan untuk hidup serumah. Emang enak hidup serumah kalau yang satu ingin bertahan mati-matian sedang satunya sudah tidak mahu mempertahankan sama sekali?

Mencari asisten juga tidak boleh asal pilih atau asal ada, asal mahu. Tapi semua butuh pemikiran dan pertimbangan yang matang. Di sini biasanya feeling akan bermain. Seperti pengalam saya saat mencari majikan. Ada yang pekerjaannya hanya bersih-bersih dan masak, tapi karena feeling saya mengatakan TIDAK, saya pun menolaknya. Menuruti kata hati itu kadang banyak benarnya. Meski kadang juga ada pergolakan di depan (bahasa apa sih ini)

Tapi, saat hidup serumah sudah beberapa tahun dan cek-cok sudah mulai hadir hampir tiap hari, menoleh sedikit kebelakang tidak ada salahnya. Kenapa bisa terjadi cek-cok? Kenapa kecocokan itu mulai menipis? Empat tahun, lima tahun kami aman-aman saja, kenapa sekarang begini? Kenapa,,,kenapa? Dan saat kecocokan itu benar-benar sudah tidak ada, mungkin jalan satu-satunya adalah pamit saja. Atau kalau istilah suami istri minta cerai.

Ini hanya istilah, jangan semua disamakan ya. Nanti tidak cocok sedikit langsung minta cerai, kusus bagi yang sudah menikah tentunya. Bagi yang sedang galau dengan asisten atau majikannya, kalau masih bisa dipertahankan ya sebaiknya dipertahankan. Tidak mudah lo mencari yang baru. Butuh adaptasi yang tidak sebentar dan juga butuh biaya yang tidak sedikit.

Apalagi untuh jodoh. Percaya deh, tidak ada pasangan yang sempurna. Bukankah Tuhan menyatukan dua insan untuk saling melengkapi satu sama lain? Untuk saling menutupi kekurangan satu sama lain?

You Might Also Like

2 komentar

  1. analogi yang menarik....dan memang unsur kecocokan penting ya mbaaa...makanya susah-susah gampang nih judulnya..semoga sejak awal dapet yang paling pas dan baik...cheers mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyak betuk mbak, apalagi untuk jodoh, karena ini untuk sehidup semati jadi harus sangat hati2 :)

      Delete