BMI Hong Kong

Justice: Saat Perempuan Menari Bersama Dalam One Billion Rising

12:16 PM

    Menari bersama sebagai bentuk ekpresi perlawanan kekerasan terhadap perempuan


Minggu, 9 Februari 2014 Hong Kong diguyur hujan. Sejak pagi gerimis lalu hujan deras. Berhenti sejenak lalu hujan turun kembali dan lapangan bola Victoria Park, Causeway Bay pun basah.

1500 orang perempuan berkumpul di lapangan yang terdiri dari para buruh migran dari Indonesia, Pilipina, Nepal, Thailand, warga lokal Hong Kong, warga asing yang ada di Hong Kong dan juga mahasiswa untuk menari bersama One Billion Rising (OBR). Lapangan bola Victoria Park dipenuhi oleh warna ungu, warna yang memiliki makna optimis dan berani.

Setiap tanggal 14 Februari, OBR mengajak para perempuan untuk turun ke jalan dan menari bersama  sebagai ekpresi bentuk perlawanan terhadap kekerasan yang pernah dialami. Menurut data WHO bahwa 1 diantara 3 perempuan di dunia pernah pengalami pelecehan seksual.


Tema OBR tahun ini adalah One Billion Rising for justice. Monique Wilson yang merupakan direktur global dari OBR turut hadir dalam acara ini. Juga Susi, BMI yang pernah disiksa saat bekerja di majikan yang sama dengan Erwiana, Law Wan Tung memberikan kesaksian dalam konferensi pers yang dihadiri banyak media cetak dan elektronik.

Menurut Eni Lestari dari JBMI bahwa lagu dan gerakan dalam OBR memiliki banyak makna dan juga mewakili banyak persoalan seperti diskriminasi dan kekerasan yang dialami para perempuan. 

"Kita ingin agar masyarakat Hong Kong tetap memperhatikan kasus Erwiana dan kita ingin memberikan edukasi kepada para majikan di Hong Kong bahwa persoalan buruh migran bukan saja soal majikan yang jahat, tapi masih ada potongan agen yang tinggi, penahanan dokumen, agen yang memberikan informasi tidak benar, dan masalah ini dibiarkan saja, tidak dihukum atau ditindak. Ini adalah kekerasan atau diskriminasi yang sifatnya peraturan." Tambah Eni.


Dalam acara OBR ini juga diperdengarkan suara Erwiana yang berisi ucapan terima kasih kepada semua kawan-kawan BMI, warga lokal Hong Kong dan Internasional yang sangat peduli terhadap kasusnya.

"Saya sakit hati sama majikan, sama agen dan juga PJTKI, saya ingin majikan dihukum seberat-beratnya." Tutur Erwiana dalam rekaman yang diputar dan membuat hening lapangan. Erwiana juga menceritakan bagaimana jahatnya majikan saat dia bekerja di sana. Rakaman suara Erwiana pun berhasil membuat BMI terharu sampai 
menangis.

Banyak sekali peraturan yang sifatnya sangat diskriminasi terhadap buruh migran. Peraturan live in misalnya, dimana setiap pekerja rumah tangga diwajibkan tinggal bersama majikan di rumah dan ini yang menjadi penyebab pekerja mengalami kekerasan baik fisik maupun seksual.

Selain itu, peraturan dilarang bekerja bagi buruh migran yang berkasus juga sangat merugikan. Bagaimana saat seorang buruh migran yang sedang menunggu kasusnya, dia tidak boleh bekerja sama sekali.

Acara yang dimulai sejak pukul 10 pagi berakhir pada pukul 5 sore. Menari bersama dan berulang kali di lapangan Victoria Park, tak peduli meski hujan dan cuaca dingin. 

Justice for Erwiana is justice for all migrant. 





    Susi (berkaca mata hitam) Eni, Monique, dan perwakilan dari Pilipina


    Tanda tangan for justice

    Berdoa bersama

    Bersama menuntut keadilan



You Might Also Like

2 komentar

  1. Long live internasional solidarity

    Justice for erwiana , justice for all migran worker’s.

    ReplyDelete