BMI Hong Kong Disiksa

Memanfaatkan Gadget Untuk Menjadi Wartawan

10:49 PM


      Foto by Apakabar

        
Di era Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) seperti saat ini dan di tengah gempuran gadget murah berbasis android yang bisa didapat dengan murah dan mudah, menjadikan internet  tidak bisa dijauhkan dari kehidupan kita. Kalau dulunya kita berkirim kabar melalui Sort Messeger Service (SMS) dan telepon dengan menggunakan pulsa, sekarang dipermudah dengan adanya begitu banyak aplikasi untuk menelepon dan mengirim pesan gratis dengan syarat hape terhubung dengan saluran internet. 

Di Hong Kong sendiri yang pemasaran gadget begitu ramai dan terjangkau bahkan ada yang menyebut orang Hong Kong membeli gadget seperti membeli tempe juga semakin dipermudah dengan banyaknya fasilitas WIFI gratis di banyak tempat. 

Tak bisa dipungkiri juga bahwa Buruh Migran Indonesia (BMI) di Hong Kong sangat melek internet. Dengan biaya murah dan akses cepat, memudahkan bagi BMI untuk bermedia sosial, melihat TV maupun menikmati portal berita dari tanah air yang tersebar di Internet. Dari sini juga BMI tidak akan ketinggalan informasi terbaru apa saja yang sedang hangat dari tanah air.

Baru-baru ini, kawan kita, Rian, saat berada di bandara Hong Kong mendapati BMI dengan luka-luka di tangan dan wajahnya. Karena curiga, Rian lalu bertanya ke BMI tersebut yang diketahui bernama Erwiana Sulistyaningsih asal Ngawi Jawa Timur dan bekerja di Hong Kong 8 bulan. Setelah didesak yang awalnya tidak mau mengaku, Erwiana akhirnya cerita kalau selama bekerja di rumah majikan sering dipukul dan tidak diberi makan layak serta kurang istirahat. 

Rian lalu mengambil foto menggunakan gadgetnya dan mengirimkan ke temannya bernama Bunga. Bunga lalu menggunggah foto tersebut ke Facebook, media sosial yang sangat akrab dengan BMI. Tak perlu waktu lama, foto ini pun akhirnya menyebar kemana-mana dan berbagai macam komentar bermunculan.

Sedih melihat saudara kita, kawan kita mendapat perlakuan seperti ini dari majikan. Rasa simpati pun berdatangan. Banyak komentar yang mengutuk perbuatan majikan dan menyarankan untuk mengusut kasus ini hingga tuntas. Ada juga yang menanyakan peran Agen dan PJTKI tempat Erwiana bernaung, juga bertanya dimana KJRI saat ada BMI seperti  ini.

Berkat Rian dan Bunga, dan berbekal biodata yang didapat, KJRI pun  bertindak dengan menelusuri nama majikan dan agen di Hong Kong. Majikan bernama Law Wan Tung yang tinggal di Tsung Kwan O akhirnya di blaklist oleh KJRI dan meminta agen untuk menulis kronologi kasus Erwiana untuk mengambil langkah hukum lebih lanjut. 

Belajar dari kasus ini, bahwa memanfaatkan gadget sebaik-baiknya adalah suatu keharusan bagi BMI. Kasus Erwiana tidak akan mencuat kalau tidak ada yang mengambil foto lalu menggunggahnya ke 
media sosial dan akhirnya menyebar ke seantero jagad maya. Dan tanpa disadari, sebenarnya Rian dan Bunga sudah menjadi wartawan bagi Erwiana, karena tanpa mereka, tentu kasus Erwiana akan mengendap begitu saja dan tidak akan diketahui publik secepat ini.

Belum tentu ada wartawan dari media resmi yang akan meliputnya karena kasus ini memang tidak ada yang mengetahui. Dengan menjadi "wartawan" bagi Erwiana, Rian dan Bunga sudah membantu untuk menyebarkan kasus Erwiana, doa dan bantuan pun berdatangan dan berhasil mencari alamat rumah majikan, PJTKI dan Agen untuk segera menuntut hak-haknya.


BMI lain juga  bisa belajar dari kasus ini. Memanfaatkan gadget di tangan yang terhubung dengan internet untuk berbagi informasi yang belum diketahui oleh orang lain melalui media sosial atau menulisnya Blog. BMI bisa menjadi wartawan bagi dirinya sendiri dan juga orang terdekat ataupun orang lain yang istilahnya adalah Jurnalisme Warga. 

Dengan memanfaatkan gadget di tangan, mari berbagi informasi, isu terbaru atau hal-hal menarik yang belum diketahui oleh orang lain. 


Kita hidup di era media sosial yang semua informasi akan menyebar dengar cepat seperti aliran listrik yang sangat susah untuk dikendalikan. 

-
NB: Opini ini dimuat Koran Apakabar di Hong Kong edisi 24 Bulan Februari 2014. Apakabar adalah Koran berbahasa Indonesia yang ada di Hong Kong

You Might Also Like

6 komentar

  1. Dari kejelian dan kepekaan akan sesama, apa yang tadinya akan hilang dan tersembunyi tak terungkap, kini menjadi pijakan bagi BMI untuk semakin berani dan tahu akan hak-hak mereka. Salut untuk Rian dan Bunga dan tentu juga untuk ananda, yang tak kunjung berhenti membangunkan para BMI yang masih tidur dipersembunyiannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul om Dian.
      Berharap makin banyak BMI yang memanfaatkan gadgetnya untuk hal yang lebih bermanfaat bukan sekedar gaya-gayaan

      Delete
  2. Subhanallah, sungguh dengan kemudahan teknologi, seharusnya tak ada lagi sekat antar manusia untuk maju dan berprestasi. Hanya masalah mau atau tidak. Salut Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak, keputusan di tangan kita, mau apa enggak dan mau digunakan untuk apa gadget canggih di tangan kita

      Delete
  3. Mengharapkan gadget yang dimiliki para pekerja ini digunakan semaksimal mungkin. Bukan hanya untuk gaya-gayaan dan Rian juga Bunga sudah membuktikannya.

    Selamat tulisannya dimuat di Apa Kabar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbak Anaz, BMI wajib menggunakan gadget sebaik-baiknya

      Delete