BMI Hong Kong

Warna-warni Kisah Para Pahlawan Devisa di Negeri Beton

6:13 PM


      Senja di Victoria Park Causeway Bay

Emi, Lantai 16 Flat B

Bangun jam 5 pagi, melipat kasur yang ditidurinya tak lebih dari 4 jam lalu meletakkannya di bawah sofa depan TV. Pergi ke toilet untuk cuci muka dan sikat gigi. Ke dapur menyiapkan sarapan pagi untuk seisi rumah yang berjumlah 8 orang, sebelum jam 7 semua harus siap di meja makan.

“Kamu di rumah ngapain aja, ha????” 

Bentak majikan perempuan yang baru saja tiba di rumah setelah mendapati tempat sampah di kamarnya belum dibuang.

“Bulan ini gajimu aku potong, dan tiap kali kamu berbuat salah, gajimu aku potong $100. Paham!!!”

Emi menunduk lesu. Teringat bapaknya yang sakit-sakitan dan adik-adiknya yang masih kecil dan butuh biaya untuk sekolah.

“Sabar.” Hanya kata ini yang terucap dalam hati Emi.

Wina, Lantai 45 Flat A

“Dasar bodoh, apa-apa nggak bisa. Percuma aku ngasih kamu gaji besar. Kerja aja gak pecus.”

Omelan seperti ini tiap hari Wina dengar dari majikan perempuannya. Padahal gaji yang dia terima hanya $2000 dari yang seharusnya. Belum lagi kalau anaknya nangis, cacian dan makian tak pantas Wina terima.

Mau break kontrak, Wina harus mikir seribu kali. Potong gaji belum selesai, hutang keluarga di kampung menumpuk, belum lagi kalau mencari majikan yang baru, gaji Wina akan dipotong lagi untuk beberapa bulan dalam jumlah yang lumayan.

“Bertahan saja untuk 2 tahun, semoga aku kuat.” Bisik Wina menasehati dirinya sendiri.

Rika, Lantai 31 Flat H

Rika terduduk lemas di lantai kamar mandi dengan mata sembab. Kepalanya dia bentur-benturkan ke dinding, semakin lama semakin keras. Sesak dan perih, sakit dan tak tahu harus berbuat apa.

Baru saja majikan  laki-laki 30 menit yang lalu pamit ke kantor tiba-tiba pulang tanpa memencet bel rumah terlebih dahulu seperti biasanya. Rika yang sedang ganti baju di dalam kamar tak menyangka tiba-tiba diserang oleh majikan laki-laki bertubuh tambun setelah berhasil masuk ke kamar tanpa permisi.

Di tangan  kirinya memegang lembaran uang $500-an 7 lembar pemberian majikan laki-laki setelah mengancam untuk tidak mengadu ke siapapun, sedang tangan kanannya memegang gunting berwarna hitam. Matanya bergantian menatap uang dan gunting. Teringat dengan apa yang baru saja terjadi. Rika kehilangan mahkota yang paling berharga dan pelakunya adalah majikannya sendiri yang selalu bersikap manis di depan anak dan istri. Tak lama setelah itu badannya lemas, kepalanya yang basah oleh darah pelan-pelan menyentuh lantai. Rika pingsan.

Iva, Lantai 3 Flat B

“Kontrak baru gajimu aku tambahi $500. Aku beri cuti 2 minggu untuk pulang kampong.” Kata majikan Iva sambil mengunyah jeruk.

“Baik. Makasih nyonya. Tapi aku tidak ingin pulang ke Indonesia tahun ini.” Jawab Iva.

“Lo, kenapa?” Tanya majikan

“Aku tidak mau melihat suamiku yang tak punya malu membawa cewek barunya kesana- kemari.”  Jawab Iva lesu.

Perasaan kecewa jelas terlihat dari raut wajahnya. Suami yang menikahinya 1,5 tahun yang lalu saat dia cuti itu kini telah menghianatinya dengan terang-terangan. Membawa perempuan pulang ke rumah yang dia bangun hasil jerih payah sebelum menikah selama 4 tahun di Hong Kong.

_

Ini hanya sebagian kecil cerita dari para Buruh Migran Indonesia (BMI) yang oleh pemerintah diberi gelar “Pahlawan Devisa” di negeri beton. Ya, BMI adalah pahlawan untuk keluarganya. BMI juga pahlawan untuk Negara yang ditinggalkannya. 

Kerelaan BMI pergi ke luar negeri tak lain dan tak bukan karena himpitan ekonomi yang semakin menjadi di tanah  kelahirannya sendiri. BMI merasa dihargai di Negara orang lain dan selalu merasa takut saat pulang ke kampung halaman. Takut akan manusia-manusia berdasi penghisap dompet para BMI yang sering ditemui di bandara dan kantor-kantor berlabel perlindungan terhadap TKI (red-BNP2TKI).

-

Tulisan ini pernah saya posting di Kompasiana 2 tahun yang lalu dan saya posting ulang di blog pribadi. Ceritanya tak kan pernah lekang oleh waktu. 

You Might Also Like

6 komentar

  1. ach g kaget, lopan q dulu jg lintah darat. aq krj di dua tempat, pagi di kantor malm di rumah. setiap kali melakukan salah gaji dipotong. padahal gaji cuma $2000. g dapat libur, g di bolehin ketemu orang. hhhhh... seperti hidup di kandang macan. hhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. rata-rata 2 tahun pertama begitu mbak ya, saya juga

      Delete
  2. Good writer..
    Kapan2 crita masalah asmara 852 dan 82 dong..
    Pasti byk cerita menarik..

    ReplyDelete
    Replies
    1. weehhh, saya gak merasakan, but usulan ditampung, cari nara sumber dulu

      Delete
  3. heummmhh,,tarik nafas dalam2....kejam ya :(

    ReplyDelete