BMI Hong Kong

Dimarahi Majikan Sampai Ketiduran

5:01 PM

      Gambar: Google Images

Benar gak sih kalau nenek-nenek itu identik dengan cerewetnya?

Ini cerita di majikan yang lama. Hampir setiap hari saya keluar bersama kungkung dan hampir bisa dipastikan saya selalu bertemu dengan teman sesama BMI. 

Pertanyaan yang selalu muncul pasti soal ini,
"Mbak cuma jaga satu orang ini ya? kelihatannya baik ya orangnya, enak gak mbak, cerewet gak mbahnya, serumah berapa orang?”

Saya pun menjawab kalau menjaga kungkung ini enak, orangnya gak cerewet, serumah cuma 3 orang termasuk saya.

Wah, enak itu mbak. La aku, nenekku mbak, cerewetnya minta ampun.” Jawabnya.

Dan entah berapa kali saya bertemu dengan sesama BMI yang ngerasani soal kecewetan nenek-nenek yang mereka jaga.

Ya yang namanya orang tua kadang memang sifatnya akan berubah seperti anak kecil. Ingin dituruti apa-apa yang jadi keinginannya. Ingin diperhatikan lebih dalam banyak hal. 

Sebenarnya bukan hanya nenek-nenek yang identik dengan cerewetnya, karena ada juga kakek-kakek, bahkan yang masih taraf bapak-bapak pun cerewetnya melebihi perempuan.

Seperti teman saya, majikan laki-lakinya super duper cerewet jika dibandingkan dengan sang nyonya yang justru sangat pendiam. Nah kalau majikan perempuan saya yang pertama, cerewetnya orang se Hong Kong diambil semua kalau pas lagi semangat nyeramahi saya karena berbuat salah. 

Hampir dipastikan setiap hari saya kena omelannya. Tapi karena saya bikin se-ndableg mungkin jadinya ya keluar masuk kuping kanan kiri. Pernah juga saya sampai tertidur dalam posisi berdiri karena diomeli sampai jam 2 dini hari. Hebat kan? 

La gimana gak tertidur, sudah jam 2 malam, dini hari, di saat semua orang sudah lelap di alam mimpi tapi saya masih disuruh mendengar ocehannya yang tak saya mengerti majikan ngomong apa. Dalam posisi berdiri dan bersandar di tembok, dia terus saja nerocos ke sana ke mari. 

Karena sudah malam, belum mandi dan badan sangat lelah, ditambah lagi saya tidak mengerti dengan bahasanya, saya sampai ngantuk dan tertidur dalam posisi menunduk. 

"Lei fen kaua?" Kamu tidurnya, bentaknya.

Geragapan langsung melek. Ya sudah besok disambung lagi, katanya. Walah, marahnya bersambung sampai besok. 

Bahasa sangat kurang dimarahi sepanjang apapun tetap saja gak akan mengerti. Apalagi jaman waktu pertama kali masuk ke Hong Kong, bisanya cuma nerimo dan pasrah saja. 

Adakah yang punya pengalaman seperti ini? 

You Might Also Like

4 komentar