BMI Hong Kong

Kegalauan Seorang Emak

1:42 PM




Menelepon keluarga di rumah bisa menjadi obat kangen dan pengusir kebosanan saat jauh dari keluarga. Terlebih saya, sudah 14 tahun lebih terpisah dengan orang tua dari sejak masih sekolah.

Meski tak setiap hari, paling tidak dalam seminggu dua atau tiga kali saya menyempatkan untuk menelepon orang tua. 

Kabare piye, Mak?

Lagi apa, Mak?

Masak apa, Mak?

Pernyataan yang memang itu-itu saja sebagai pembuka. Lalu percakapan berikutnya merambah ke hal lain. Seperti belum lama ini saat saya menelepon ke rumah, kebetulan yang menganggat telpon Emak, Bapak lagi pergi yasinan.

Satu jam lebih ngobrol tentang apa saja, dan tiba-tiba Emak nyeletuk,

"Ndang mulih, Ya. Gek rabi." Cepet pulang, Ya. Trus nikah."

Ya ini adalah panggilan kesayangan Emak untuk saya. Kalau di rumah saya biasa dipanggil Eya, bukan Pera apalagi Fera. Lidah orang di kampung saya gak pernah manggil F tetap F, pasti meleset jadi P. 

"Iya, Mak. Nanti pulang, tapi nikah sama siapa?" Jawabku.

"Ya penting pulang dulu. Kemarin kok balik ke sana (Hong Kong) lagi, kirain sudah gak balik." Kata Emak.
Percakapan ini dalam bahasa Jawa tentunya.

Ada nada berat saya rasakan dari kalimat Emak ini karena sebelumnya tak pernah membahas soal beginian. Mungkin karena teman sebaya saya sudah pada nikah semua dan punya anak, jadi Emak merasa anaknya sangat ketinggalan.

Iya, teman SD dan SMP saya rata-rata sudah menikah dan punya anak. Anaknya bahkan ada yang hampir SMP. Tapi saya tetap nyantai saja sih, meski kadang pengen juga nikah secepatnya (eh).

Lebih baik terlambat daripada gagal. Kalimat ini kadang membuat saya tersenyum sendiri. Ada memang teman saya atau bahkan yang umurnya jauh di bawah saya yang sudah menikah 3 (tiga) kali, sedang saya sekali aja belom (uppsst).

Lalu, apakah saya harus masuk ke biro perjodohan untuk mencarinya? Tidak. Saya biarkan semua mengalir begitu saja. Saya tetap yakin bahwa Allah sudah menyiapkan yang terbaik diantara yang baik untuk saya. Kapan dan dengan siapa? Itu pasti menjadi rahasia-Nya.

Saya paham betul bahwa orang tua akan merasa plong dan lega saat melihat anaknya menikah dengan orang yang cocok dan bisa menjaga anaknya dengan baik. Tapi tentu saja  si anak tidak boleh grusa-grusu menikah hanya gara-gara orang tua sudah mendesak untuk segera menikah.

Yah, pada akhirnya jodoh tetap kembali pada-Nya. Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha, hasil final tetap di tangan-Nya. 

Selow aja ya *kalem*


You Might Also Like

0 komentar