BMI Hong Kong Memilih

Pileg di Hong Kong Pendataan Kacau

9:34 AM

     Antrian mencoblos yang tidak terdaftar.


102.200 pemilih terdaftar di Hong Kong dan Minggu, 30 Maret 2014 para pemilih datang ke lapangan untuk menggunakan hak pilihnya untuk memilih calon legislatif. Ada 13 TPS dan masing-masing TPS ada 5 kamar 

Bagi yang mendapat surat undangan, mereka bisa datang dan mencoblos ke TPS yang disediakan KJRI. Tetapi bagi yang tidak mendapatkan surat suara, bisa datang dengan membawa KTP Hong Kong. 

Banyak yang datang sejak pagi karena ingin menggunakan hak pilih, tapi karena tidak punya kertas suara atau undangan dan disuruh menunggu jam 3 sore, mereka memilih untuk meninggalkan lapangan dan tidak jadi mencoblos.

Menurut Konjen RI untuk Hong Kong, Chalief Akbar, ini sudah aturan dari KPU pusat, jadi KJRI sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau tidak mendapat surat suara melalui pos dan ingin mencoblos maka jam 3 sampai 5 sore waktu yang telah ditetapkan KPU untuk mencoblos.

Tentu banyak yang kecewa karena mereka jauh-jauh datang untuk menggunakan hak pilih tapi disuruh jam 3 sore.  Rata-rata mereka tinggalnya di Tuen Muen dan Yuen Long, daerah yang lumayan jauh dari Causeway Bay tempat pencoblosan. Selain itu, ada juga BMI yang tidak libur Minggu dan tidak terdaftar tetapi mereka ingin mencoblos lalu datang pagi ke lapangan namun kecele tidak bisa mencoblos, karena apa, jam 3 baru boleh mencoblos. Padahal ijin dari majikan hanya diberikan waktu pagi.

Ada BMI yang memanfaatkan surat balasan bebas perangko ke KJRI dan minta pemilihan melalui pos. Namun sampai  saat ini belum menerima surat suara via pos. Kasus seperti ini juga banyak dialami BMI.

Pendataan KJRI untuk pemilu di Hong Kong bisa dibilang kacau. Bagaimana tidak? Umur 3 tahun mendapat surat suara yang dikirim ke alamat rumah, sedangkan si Ibu justru tidak dapat surat suara. Ibu ini pun datang ke lapangan pagi hari, tapi hasilnya apa? Tetap saja disuruh balik lagi jam 3 sorenya. 

    Surat dari KJRI untuk mencoblos untuk anak umur 3 tahun

Pemilihan  dimulai jam 9 pagi sampai jam 5 sore waktu Hong Kong. Ternyata sore hari antriannya lumayan mengular dan mereka adalah yang tidak terdaftar. dengan modal KTP Hong Kong mereka menggunakan hak pilih.


Sekitar jam 5.30 sore saya mendapatkan informasi dari pengawas pemilu terdapat 3500 pemilih yang menggunakan KTP dan sekitar 7000 yang mendapat kertas suara dan menggunakan hak pilihnya dengan datang ke lapangan. Mungkin data ini belum valid karena final harus menunggu nanti tanggal 9 April 2014.

     Tenda pendaftaran yang membawa surat undangan

Ternyata banyak juga BMI yang belum paham bahwa pemilihan ini adalah untuk memilih Caleg dan bukan Presiden. Tapi lebih banyak yang mempertanyakan soal kinerja KJRI dalam mendata pemilih di Hong Kong.

"Aku di Hong Kong 10 tahun, belum
ganti majikan dan belum pernah dapat kiriman kertas suara."

"Aku di Hong Kong 6 tahun. Tahun 2009 dapat kiriman surat suara, tapi tahun ini kok enggak, padahal alamat rumah belum ganti, wong aku gak ganti majikan dari pertama ke Hong Kong."

"Males ahk milih caleg. Nanti aja kalau pas pilihan Presiden."

Ini curhat beberapa BMI yang di lapangan.

Sepertinya KPU pusat belum memahami kondisi buruh migran kususnya di Hong Kong. Seharusnya untuk mencoblos bagi yang tidak mendapatkan surat suara atau tidak terdaftar, bisa tetap menggunakan hak pilihnya pada jam yang sama dan tak perlu diistimewakan jam 3-5 sore karena melihat para pemilih di Hong Kong untuk menjangkau Victoria Park tidak semuanya dekat, ada yang sangat jauh.

Selain itu, ada juga BMI yang atas permintaan majikan dia tidak libur Minggu, hanya diberi ijin keluar saat pagi sampai jam 1 siang saja.

Saya amati setiap TPS masih ada 5 kardus lebih kertas suara yang tidak digunakan. Saya tidak tahu setiap karsus jumlahnya ada berapa. Inilah faktor yang menjadi kekawatiran sebenarnya. Jangan-jangan nanti kertas suara yang tidak digunakan itu disalahgunakan. Semoga sih tidak.

    Kardus surat suara di TPS yang tidak terpakai

Belajar dari pemilihan legislatif kali ini, semoga pendataan KJRI ke depan bisa diperbaiki. Saya tidak tahu KJRI mendapat data dari mana atau hanya menunggu datangnya permintaan BMI yang ingin mencoblos melalui SMS yang diworo-woro lewat koran-koran berbahasa Indonesia di Hong Kong.

Jangan sampai pemilu yang memakan biaya sangat banyak ini menjadi sia-sia karena pendataan yang asal-asalan. Jumlah BMI di Hong Kong ada 152. 000 lebih, belun WNI yang tinggal di Hong Kong dan punya hak suara. Tapi kenapa yang terdaptar hanya 102.200.

Sangat berharap surat suara yang masih banyak tak terpakai itu tidak disalahkan gunakan.










You Might Also Like

12 komentar

  1. duh pemilu kok kayak asal2an ya?
    data pemilihnya gak jelas darimana sumbernya... masa bisa beda gitu :(
    kurang persiapan?

    ReplyDelete
  2. Kalau mau dapat surat suara atau surat undangan, bukannya harus daftar sendiri ya Mak? Biasanya jauh2 bulan sudah dibuka pendaftarannya lewat internet kalau memang mau mencoblos. Jadi walaupun sudah tinggal berpuluh tahun di LN kalau tak mendaftar ya tetap ga dapat surat suara. *cmiiw ya, saya baru 3 tahun sih tinggal di Jepang dan baru kali ini ikut pemilu di LN. Di Jepang sendiri pemilu langsung di TPS tanggal 6 April mendatang Mak, tapi bagi yang sudah daftar dan tinggal jauh dari TPS sudah dikirim surat suaranya lwat pos.

    Memang harusnya ada sosialisasi dulu sih soal waktu pencoblosan di TPS bagi yang belum mendaftar, supaya ga miss-komunikasi seperti ini. Kasian ya yang sudah datang jauh2. Semoga pas pemilu presiden berikutnya bisa lebih baik lagi, dan tertib. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tahun 2009 gak daftar tapi dikirimi kertas suara, mak dari KJRI. Mungkin lihat datanya dari kontrak kerja,
      tahun ini gak dapat.

      Sayang banget melihat sisa kertas suara sisa banyak,
      hiks itu duit kita.

      Semoga ada perbaikan saat pilpres nanti

      Delete
  3. waduhhh kenapa masalah seperti ini tidak tertib ya mbak...bukan sekali dua kali pemilu diadakan...tapi kok ya tidak menunjukkan kalo pengalaman sudah mengajarkan dengan baik...di luar dari itu, moga tidak ada yang disalah gunakan...masih berharap Indonesia bisa mjd lebih baik...semoga ...

    thank you reportasenya...^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Persiapan kurang kayaknya
      mbak, semoga saat Pilpres tidak seperti ini

      Delete
  4. petugas yang amanah pasti tidak akan menyalahgunakan hak suara orang lain

    ReplyDelete
  5. walah walah payah sekali yaaaaa.....

    ReplyDelete
  6. kearifan Konjen dan staffnya diperlukan dalam situasi seperti pemilu. Orang2 yang sudah terlanjur datang harusnya difasilitasi dengan baik, misalnya dengan membedakan bilik suara bagi yang sudah terdaftar dan yang belum terdaftar. Sehingga tidak perlu menunggu sampai sore untuk bisa mencoblos.

    Semua warga Indonesia boleh mencoblos asal bisa menunjukkan identitas sebagai WNI dan cukup umur. Jika ada kesan pemilih dihalang-halangi dalam menunaikan haknya, bisa jadi memang panitia Pemilu belum benar2 bisa melaksanakan Pemilu dengan baik. Dala hal ini panitia sepertinya tidak bisa memprediksi membludaknya partisipasi pemilih Indonesia yang tidak terdaftar dari penjuru Hong Kong.

    Apalagi dalam situasi wilayah Pemilu di luar negeri, dimana informasi dan partisipasi harus disosialisasikan dengan baik. Jadi kalau ada orang dengan iktikad baik datang dan harus menunggu lama untuk mencoblos, ya sangat disayangkan sekali...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mas Irfan, alasannya kenapa yang tak terdaftar harus nunggu jam 3-5 sore katanya mendahulukan yang terdaftar, la kalau melihat sisa kertasnya sangat banyak
      kayak gini kan jadi sia-sia.

      Padahal banyak yang meski gk terdaftar tetap pengen nyoblos, tapi karena harus nunggu jam 3 sore ya pada kabur.

      Semoga KJRI memperbarui nanti

      Delete