BMI Hong Kong

Satinah Tak Pantas Dibela (?)

3:33 PM

      Aksi Save Satinah 

Eiitts, jangan marah-marah dulu sebelum baca isinya. 

Satinah, nama yang akhir-akhir ini banyak menghiasi media massa tanah air karena kasus pembunuhan dan pencurian yang menyebabkan dia terkena hukuman pancung namun mendapatkan pemaafan dari keluarga korban. Tapi, kata maaf saja tidak cukup, Satinah diwajibkan mengganti uang darah sebesar Rp 21 M, angka ini pun sudah turun dari yang awalnya Rp 30 M. Dari mana keluarga Satinah mendapatkan uang sebanyak ini?

Pro kontra atas uang terbusan Satinah pun tak kalah panas. Banyak pihak yang mendesak pemerintah untuk segera membayar uang diyat untuk menyelamatkan Satinah. Penggalangan dana pun dilakukan dimana-mana. Bahkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengajak para caleg untuk ikut urunan.

"Saya imbau pada caleg keseluruhan. Hai para caleg, ini lho dari Jawa Tengah yang mau meninggal. Dan butuhnya nggak banyak kok. Kekurangannya kira-kira Rp 3 miliar. Mbok ya daripada dipakai untuk money politics dipakai untuk nyumbang Satinah. Saya kira Anda akan dicatat di dunia dan di akhirat,” pinta Ganjar seperti dikutip yahoo.com.

Terlepas kasus pembunuhan Satinah yang karena sering dipukuli majikan dan karena ingin membela diri, lalu pembunuhan pun diwarnai pencurian atau perampokan harta korban, Satinah tetaplah warga negara Indonesia yang karena beban ekonomi dia terpaksa pergi bekerja ke luar negeri. Satinah tetap harus dibela dan dilindungi oleh negara.

Benar, masih banyak sekali rakyat Indonesia yang membutuhkan bantuan. Masih banyak rakyat miskin, anak terlantar yang tak punya tempat tinggal, masih banyak orang yang tidak bisa makan tiga kali sehari dan sangat butuh uluran tangan, tapi Satinah juga perlu diselamatkan. 

Mungkin tulisan ini sepihak dan terkesan membela Satinah. Saya bisa membayangkan keluarga korban yang Satinah bunuh, pasti sedih luar biasa. Jangankan mati karena dibunuh, matinya karena sakit saja keluarga pasti akan sedih dan merasa kehilangan.

Lalu, sampai kapan Indonesia akan menggalang dana untuk menyelamatkan Satinah Satinah lain? Jumlahnya masih ada 38 orang di Arab sana yang terkena hukuman pancung. Menggalang dana untuk membayar diyat seandainya para keluarga korban memberi maaf kepada mereka yang terkena ancaman hukuman pancung, sampai kapan?

Jangan-jangan, para keluarga korban nanti akan mengajukan diyat yang nilainya berkali-kali lipat dari diyat yang harus dibayar oleh Satinah.

Kasus pengampunan Satinah dan pembayaran diyat pun otomatis mengingatkan kita pada kasus Darsem, TKW Arab yang juga membunuh majikan dan mendapat pengampunan dari keluarga, tahun 2011. Rp 4 M harus pemerintah bayarkan sebagai uang tebusan untuk menyelamatkan Darsem.

TVOne yang melakukan penggalangan  dana untuk Darsem terkumpul uang sebanyak Rp 1,2 M lebih dan karena Diyat dibayar oleh pemerintah, maka Rp 1,2 M itu pun menjadi hak milik Darsem.

Sayang, Darsem sepertinya menyalahgunakan uang yang dikumpulkan oleh masyarakat Indonesia yang peduli terhadap kasusnya. Darsem berubah menjadi konsumtif, sombong dan bahkan dijuluki "toko emas berjalan" oleh pengacaranya.

Penggalangan dana untuk Satinah kali ini sepertinya membuat kebanyakan warga kita trauma jika berkaca dari kasus Darsem. Jangan-jangan setelah Satinah selamat nanti seperti Darsem, atau, jangan-jangan mereka yang nyata-nyata membunuh itu tidak takut atau jera karena sudah pasti akan dibela oleh negara.

Terlepas Satinah adalah seorang pembunuh dan pencuri, negara haruslah tetap melindungi warganya yang berada di luar negeri. Kalau tidak ingin ada Satinah yang lain, perbaikilah sistem perekrutan tenaga kerja ke luar negeri. 

Pengalaman pribadi sih ini, ada saudara saya sekitar tahun 2000-an berangkat ke Arab Saudi, prosesnya seperti kilat kusus saja, hanya 2 Minggu di penampungan langsung terbang. Ngapain saja selama 2 Minggu ini? Katanya di penampungan karena banyaknya CTKI sampai tidak terurus. Tak peduli bisa baca atau enggak, bisa bahasa Arab untuk percakapan atau enggak. begitu masuk PT lalu biodata, tak perlu nunggu berbulan-bulan untuk berangkat.

Apakah TKI yang bekerja ke Arab dibekali tentang adat serta budaya di sana, hukum ketenagakerjaan atau nomor-nomor penting kemana harus mengadu saat terkena masalah? Dijamin tidak ada. Jangankan ke Arab, ke Hong Kong saja tidak ada PJTKI yang memberi pembekalan seperti ini.

Kalau pemerintah merasa rugi karena terus-terusan dihantui oleh uang diyat yang jumlahnya dari tahun ke tahun selalu naik, saya kira memperbiki sistem pengiriman dan pembekalan sebelum keberangkatan akan jauh lebih murah dan tak perlu melakukan penggalan dana untuk ini. Itupun kalau pemerintah masih  berniat untuk menjadikan luar negeri sebagai lapangan kerja "pelarian" bagi warganya. 





You Might Also Like

0 komentar