BMI Berkasus

Keceriaan Buruh Migran di Tengah Himpitan Kasus

9:36 AM

    Tak peduli hujan, penting aku senang


Kamis, 9 Mei 2014, kawan-kawan BMI yang sedang menunggu kasusnya dan tinggal di Shelter berkesempatan untuk jalan-jalan ke Patung Budha di Tung Chung. Jalan-jalan ini untuk memberi hiburan buat para BMI di Shelter yang semuanya punya masalah dengan majikan. 15 buruh migran dengan 3 orang pendamping menikmati keindahan Patung Budha.

Masalah yang mereka alami pun berbeda-beda. Contohnya adalah Anis, BMI asal Ponorogo ini terpaksa tinggal di Shelter karena kasusnya cukup menggegerkan Hong Kong. Jarinya dipotong majikan saat Anis baru bekerja 5 hari di Hong Kong. 

Acara refresing seperti ini diharapkan bisa mengurangi rasa stres kawan-kawan dan kembali bersemangat untuk menunggu kasusnya dan mendapatkan keadilan. Saling menyemangati satu sama lain, itulah mereka yang kini hidup di Shelter. 

Shelter Bethune House sendiri sudah banyak menampung buruh migran asal Indonesia dan Filipina, sudah ribuan jumlahnya. Shelter ini  milik Mission For Migrant Workes. Mission telah menangani ribuan kasus tentang buruh migran dan yang terbaru adalah kasus  Rowena, sebelumnya Erwiana.

Rasa senasib membuat mereka saling membangunkan saat salah satu terjatuh, saling menasehati saat yang lain mengeluh, saling memberi saat yang lain tidak punya. 

Tak bisa dipungkiri BMI kadang tidak sabar menunggu kasusnya dan ingin segera pulang ke Indonesia. Tapi proses hukum haruslah tetap berjalan meskipun sangat lambat. Dan keadilan bagi BMI yang berkasus diharapkan membawa efek jera buat majikan kususnya dan juga diharapkan membawa perbaikan perlindungan dari pemerintah terhadap kondisi buruh migran di negara penempatan.

Itulah mereka. Dan mereka adalah cermin bahwa kondisi buruh migran di Hong Kong bukanlah seperti hidup di surga, seperti yang selama ini kebanyakan orang kira. Masih banyak buruh migran yang terbelenggu di "neraka-neraka" apartemen mewah menjulang tinggi, tanpa terjangkau dan tanpa bisa menjangkau kehidupan luar. 

Erwiana dan Rowena juga Anis, Kartina dan masih banyak lagi contoh lainnya. 

Melihat mereka tersenyum saat menikmati jalan-jalan itu, rasanya mereka seperti hidup tanpa beban dan masalah. Tapi saat kembali lagi ke Shelter dan hari berganti, mau tak mau mereka tetaplah orang dengan kasus yang tetap harus diselesaikan. 

Ada yang 3 bulan, ada yang 6 bulan bahkan ada yang satu tahun  menunggu kasus dan tinggal di Shelter, tanpa pekerjaan apalagi pemasukan. Hukum di Hong Kong tidak mengijinkan orang yang menunggu kasus seperti buruh migran ini untuk bekerja. Dan ini sebenarnya sangat merugikan.

Di sisi lain, pemerintah sendiri seolah tak peduli makan dari mana mereka nanti, atau ditampung siapa selama menunggu kasusnya. Untunglah ada Shelter buruh migran seperti milik Mission ini yang selalu konsisten membantu meski kadang tidur harus berdesakan.

    Eksen dulu

    Hujan pun gak masalah, narsis itu lebih penting #Eh



Berharap akan lebih banyak lagi orang yang peduli terhadap mereka yang tinggal di Shelter ini. Bagaimana pun mereka adalah kawan kita, saudara kita dan keluarga kita sebagai sesama buruh migran.


You Might Also Like

0 komentar