Debat Capres TKI Hong Kong

Tentang Debat Timses Capres di Hong Kong

3:22 PM

   Eva Sundari, Fahmi Panimbang, Yoga

Minggu, 22 Juni 2014 lapangan Victoria Park lebih ramai dari biasanya. Meski malam dan pagi sebelumnya diguyur hujan yang membuat lapangan becek, tapi acara tetap berjalan. Tak heran melihat sepatu yang berganti warga begitu masuk lapangan. 

Liga Pekerja Migran Indonesia (LiPMI) hari itu merayakan ulang tahunnya yang keempat. Acara diisi dengan berbagai macam lomba yang diikuti para buruh migran. Untungnya di depan panggung disediakan kursi, jadi penonton bisa duduk manis di kursi tanpa takut pakaian kotor.


Acara dimulai dari pagi sampai sore. Tapi pengunjung mulai memenuhi depan panggung jam 2.30. Ya, bukan tanpa maksud mereka datang sore. Mereka ingin melihat acara debat dari tim sukses pasangan Capres no. 1 Prabowo-Hatta yang diwakili oleh Yoga Dirga Cahya (Caleg PAN tapi sayangnya belum berhasil masuk Senayan) dan Capres no. 2 Jokowi-JK yang diwakili oleh Eva Sundari (Anggota DPR Partai PDIP dari Jawa Timur). 

Acara debat dimulai jam 4 sore. Para BMI memadati depan lapangan dengan kostum dari pasangan Capres/ Cawapres yang mereka dukung, tapi lebih banyak yang berpakaian biasa. 

Moderator kali ini adalah Fahmi Panimbang (AMRC) dengan panelis  Sring Atin (JBMI dan IMWU), Answer Styannes (AHRC), Romo Paulus Waris Santoso (KKI), Anis Hidayah (Migrant Care) dan Rudi (GSBI).

Sesi pertama adalah pengenalan visi misi lalu dilanjutkan dengan pertanyaan dari para panelis.


Anis Hidayah mengajukan pertanyaan tentang program penghentian pengiriman TKI ke luar negeri tahun 2017 nanti. 

Yoga memberi contoh bahwa  BMI di Singapura gajinya lebih kecil ketimbang BM dari Pilipina. Harus ada pelatihan yang lebih terjangkau dengan adanya sertifkasi.

Sedangnya Eva mengatakan bahwa Jokowi akan memperjuangkan "Revolusi Mental" dengan cara sektor pendidikan salah satunya wajib belajar sampai lulus SMA. "Kita hapus KTKLN dan yang perlu direvisi mentalnya bukan hanya BMI tapi juga birokrat dan pejabat." Tambahnya.

Pertanyaan selanjutnya dari Sringatin  (JBMI). Kenapa PRT harus masuk PT, proses lewat calo, dibutakan informasi, potongan gaji yang begitu tinggi.
Kenapa pemerintan tidak berani menghukum PJTKI? Pemerintah justru mengesahkan UU no.39/2004 yang menyerahkan pengurusan ke PJTKI. 
Ada tidak alternatif untuk BMI dari pemerintah agar BMI tidak masuk PJTKI saat akan ke luar negeri. 


Eva memaparkan bahwa perlindungan paling hakiki adalah saat pulang dari luar negeri.  Asuransi akan disambungkan dengan BPJS.  Alternatifnya, apapun yang menyangkut soal hajat hidup orang banyak harus berlandaskan UU. Bukan saja PRT tapi juga pelaut dan pekerja lain di LN.
Semua lembaga harus diperbaiki seperti Deplu, KJRI dan KBRI. Revolusi harus dalam wakil pemerintahan di luar negeri seperti KJRI, KBRI dan Deplu.

Sedangkan Yoga menjawab bahwa tidak adanya monitoring di luar negeri menjadi penyebab. BNP2TKI masih harus ada untuk melindungi BMI di luar negeri. Masalahnya adalah orang-orang di dalam lembaga tersebut yang harus diperbaiki.


Lebih jauh, dalam debat ini juga ada sesi tanya jawab dari BMI. Hal yang disinggung adalah soal perampasan tanah yang kini terjadi di Rembang dan jaminan kesehatan bagi rakyat miskin.

Eva menjelaskan bahwa soal Rembang, tanah harus menjadi milik rakyat. Jokowi mendorong penyelesaian musyawarah mufakat agar ada win win solution.
Tentang kesehatan, alokasi kesehatan 5% akan ditetapkan. Kartu sehat harus diberikan dan bahwa setiap orang sakit tidak boleh ditolak lagi oleh rumah sakit.


Sedangkan Yoga mengatakan bahwa masalah Rembang, sepakat dengan Eva. Prabowo ingin berada dipihak rakyat. 
Akan memberikan advokasi teman-teman di Rembang. Soal kesehatan, masih banyak orang yang ditolak di rumah sakit meski dia  punya BPJS. 

Soal adanya pemerasan di bandara juga menjadi sorotan para BMI. Dan juga bagaimana cara pemerintah memberdayakan mantan BMI sehingga tidak tertarik lagi ke luar negeri. 


Closing statemen dari kedua timses.


Yoga: Proses pemilihan presiden adalah proses demokrasi. Yang paling utama adalah siapapun yang menang kita tetap berusaha dan bersaudara. Tidak seperti saat ini yang saling unfriend atau blokir di media sosial. Mari kita bersatu padu, kita menginginkan Presiden yang tegas. Marilah kita dukung Presiden yang punya integritas jelas yakni no.1

Eva: Jokowi ingin ada gotong royong. Kita ingin kampanye berlangsung dengan cold, ini adalah pesta demokrasi bukan perang-perangan. Cukuplah di Sosmed saja. Mari kita bangun gotong royong termasuk menggandeng Prabowo dan merevolusi mental bersama dengan mencoblos no.2

Saya hanya bisa memaparkan garis besarnya saja acara debat kemarin. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa pendukung Jokowi-JK jauh lebih banyak dari pendukungnya Prabowo-Hatta.

Banyak yang terang-terangan menyatakan dukungan ke masing-masing kandidat, tapi tak sedikit juga yang masih belum menentukan pilihan.

Setelah mendengar pemaparan debat kemarin, apakah kawan BMI sudah mantap menetukan pilihan? Atau malah tambah bingung? 

Pesta penentuan pemimpin baru digelar sebentar lagi. Nasib negara 5 tahun ke depan ada di tangan kita. Jadilah warga yang baik dengan ikut menentukan pemimpin. Calon ada 2 dan  salah satunya pasti akan menjadi Presiden kita.

     Duduk manis menunggu debat

    Usai debat

"Siapapun Presidennya, kita sebagai buruh migran tidak akan pernah merasakan perubahan jika tidak kita sendiri yang berjuang untuk mengubahnya." Tutup Eni lestari dari JBMI usai closing statemen dari kedua timses.

Debat ini sengaja difasilitasi oleh Komite Pemilu Jaringan BMI Hong Kong  (bukan KJRI) dengan maksud agar BMI lebih paham dan tahu soal visi misi para Capres jika terpilih nanti dan apa imbasnya atau pengaruhnya terhadap para BMI di luar negeri.

Pilpres di Hong Kong akan digelar 6 Juli nanti di lapangan Victoria Park, Causeway Bay, Hong Kong. 

Tentutan pilihanmu.

You Might Also Like

0 komentar