aksi besar di Hongkong

Joshua Wong, Penggerak Demokrasi yang Dicinta dan Dibenci

3:29 PM

   Massa menduduki pusat Hong Kong
                                      
         


Berita tentang demonstrasi besar-sebaran di Hong Kong telah mendunia beberapa hari ini. Aksi yang memasuki hari ke  adalah untuk menuntut   demokrasi   pemilihan langsung pemimpin Hong Kong. Telah banyak yang ditangkap, banyak pula yang terluka dan dibawa ke rumah sakit, sebagian sudah keluar, tetapi perjuangan belum berakhir. Diperkirakan puncaknya adalah tanggal 1 Oktober yang bertepatan dengan hari jadi China. Tanggal 1 Oktober yang biasanya ada pesta kembang api untuk tahun ini ditiadakan karena aksi yang begitu besar di beberapa wilayah Hong Kong. 

Banyak sekolah diliburkan, banyak pekerja yang sengaja membolos demi membantu perjuangan para mahasiswa yang telah lebih dulu turun ke jalan untuk memperjuangkan hak demokrasi  mereka. Hampir 15 menit sekali di TV ada breaking news yang mengabarkan kondisi terbaru di  beberapa titik pusat aksi demonstrasi.

Bukan saja Central yang menjadi pusat pemerintahan Hong Kong yang lumpuh, kawasan Causeway Bay, Wanchai, Admiralty bahkan Mongkok yang berada di kawasan Kowloon pun kini juga diwarnai aksi serupa. Banyak orang turun ke jalan, tak peduli panas maupun tengah malam. Entah berapa ribu polisi yang disiagakan untuk mengamankan jalannya aksi ini. 

Sebagai  buruh migran  yang saat in berada di Hong Kong, ini adalah aksi paling besar dengan durasi paling lama yang saya lihat karena telah beberapa hari mereka turun ke jalan dan masa yang datang juga tak sedikit. Kebanyakan mahasiswa dan siswa sekolah yang didukung oleh para orang tua,  turun bersama dan menyuarakan apa yang jadi tuntutan mereka. Tak sedikit yang masih berseragam sekolah, mereka duduk di jalan sambil membaca atau belajar. Ya, mereka tak lupa kewajiban mereka sebagai pelajar dan tetap semangat duduk bersama warga lain untuk menyuarakan demokrasi. 

Terlepas dari semua itu, banyak juga warga Hong Kong yang tidak peduli dengan aksi yang membuat lumpuh transportasi massa ke beberapa tujuan dan otomatis menghambat perjalanan mereka untuk berangkat dan pulang kerja. Beberapa komentar yang saya dengar mengatakan, “penting badan sehat, punya kerjaan, bisa makan, punya uang,  sudah, ngapain ikutan aksi begituan." Bahkan ada yang bersorak kegirangan saat tahu Joshua Wong, aktivis penggerak demokrasi yang masih berumur 17 tahun sempat ditangkap polisi lalu akhirnya dilepaskan. 

Aksi di Hong Kong tentu mengingakan kita semua pada aksi yang terjadi di Indonesia tahun 1998, saat itu saya masih kelas 1 SMP dan meski rumah saya jauh dari Jakarta tetapi rasa mencekam bisa kami rasakan sampai di kampung kami. Dan kebetulan juga saat itu listrik belum semuanya masuk ke perkampungan. Siaran TV tidak ada, radio pun hanya terbatas, apalagi koran, tak bisa kami nikmati.

Berbeda dengan Hong Kong yang sudah semaju saat ini apalagi era teknologi informasi didukung kecepatan internet yang memadai membuat perjuangan mereka mendapat dukungan dari masyarakat luas yang mendukung kebebasan demokrasi. Foto dan video live mereka sebar ke media sosial dan begitu cepat   selancar ke segala penjuru dunia. Dunia kini tahu apa yang sedang terjadi di Hong Kong. 

Beda Hong Kong beda pula dengan Indonesia, perjuangan 1998 kini dipupuskan dan dibungkan di tahun 2014. Demokrasi membuat banyak orang tak leluasa melakukan apa yang dia inginkan kususnya para elit yang haus kekuasaan. Segala cara dilakukan termasuk mengatasnamakan rakyat yang katanya menghendaki pemilihan kepada daerah lebih baik jika dipilih oleh anggota dewan, entah rakyat mana yang mereka bawa.

Di China, Facebook, Twitter dan kemarin Instagram telah ditutup. Media sosial dikawatirkan akan menjadi alat bagi warga China daratan untuk ikutan aksi serupa yang kini sedang terjadi di Hong Kong. 

Yang membuat saya trenyuh dan salut dari demontrasi di Hong Kong adalah massa yang datang tidak ada yang membawa senjata tajam, pentungan atau alat serupa untuk melawan polisi yang menjaga begitu ketat aksi mereka. Bahkan saat polisi menyemprot bubuk merica pun, mereka hanya berusaha mengindar lalu kembali lagi maju. Saat ada kawan yang terkenal semprotan, mereka akan saling membantu dengan mengguyurkan air ke wajahnya. 


Masker, kaca mata, payung, plastik, botol air, hanya ini senjata para demonstran untuk melindungi diri dari semprotan polisi. Para demonstran tetap cinta damai dan kebersihan. Mereka mengumpulkan sampah yang berserakan di jalanan seperti botol, masker, atau payung rusak ke satu tempat. Jika ada yang terluka mereka segera membawa ke pinggir untuk diberi pertolongan. 



Polisi kecapekan menjaga aksi demo

Tiduran di jalanan



Tak lupa tetap belajar di tengan aksi 



Tengah malam tetap di jalan 


If students don’t stand on the front line, who else can? 



Joshua Wong, nama yang kini paling mencuri perhatian publik. Bukan karena ganteng, bukan karena dia artis, tetapi karena dia, kini ribuan pelajar dan mahasiswa sadar akan pentingnya kebebasan demokrasi bagi Hong Kong. Joshua berhasil membuka mata hati ratusan ribu warga lain untuk turun ke jalan dan berjuang bersama menuntut pemerintah China untuk memberikan kebebasan memilih pemimpin langsung tanpa campur tangan China. 

Joshua, umurnya masih 17 tahun kini menjadi idola baru mengalahkan Jacky Chan, Andy Lau, Aron Kwok dan sederet artis beken lain yang ada di Hong Kong. Joshua bukan artis, wajahnya lugu dengan poni menutupi kaca matanya. Perawakannya pun tidak tinggi besar seperti Cow Yun Fat, tapi keberanian dan semangat dia membuat China punya sebutan khusus buat dia, “EKTRIMIS”

Di sebuah wawancara, Joshua pernah mengatakan,  "If student  don't stand on the front line, who else can?" Dan sekarang banyak sekali mahasiswa yang mendominasi massa di jalanan.

Kini banyak Joshua-joshua di jalanan Hong Kong yang teriak lantang dan berani menuntut kebebasan kepada pemerintah China. Mereka tanpa senjata tajam, hanya bermodal payung, makser dan kacamata. Mereka tidak ingin merusak Hong Kong yang menjadi tanah kelahiran mereka, mereka hanya menuntut kebebasan demokrasi yang telah dirampas oleh China.


Tanggal 1 dan 2 Oktober 2014 libur nasional di Hong Kong dan diperkirakan massa yang turun ke jalan akan semakin banyak. Pun juga para buruh migran yang bekerja di Hong Kong, mereka akan menikmati liburan. Sekedar menghimbau dan mengingatkan kawan-kawan migran untuk sebisa mungkin menghindari kawasan yang ramai oleh massa. Kita jangan ikutan dengan isu politik di Hong Kong karena ini bukan ranah kita. Kabari keluarga di rumah bahwa keadaan kita di Hong Kong seperti apa agar mereka tenang dan tidak kawatir. Ceritakan yang sebenarnya dan tak perlu menebar rasa takut kepada keluarga di rumah. 



Foto diambil dari Twitter #HongKong







You Might Also Like

6 komentar

  1. Salut sama mbk fera .sya pribadi jg salut pd para pendemo yg ttep cinta damai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hong Kong mendung ni mbak, semoga tidak turun hujan dan mereka tetap semangat

      Delete
  2. sekilas kejadian di Hong Kong ini memang mirip seperti di Indonesia tahun 1998. Tapi untuk kasus pelanggaran HAM nya jangan sampai deh...Ngeri sendiri kalau ingat yang terjadi di Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejauh ini meski ada pro kontra tapi balum ada kasus seseram di Indonesia, semoga tidak aa

      Delete
  3. blognya imformatif banget mbak...

    happy bloging :)

    wat Hongkong semoga tetep damai

    aamiin

    ReplyDelete