Blogger BMI Hong Kong

Tak Ada lagi Wajah Innocence di Victoria park

4:21 PM


  
    Victoria Park yang penuh kenangan

Antara sedih dan bahagia tapi bahagia ini lebih mendominasi saat seorang kawan memutuskan pulang ke tanah air seterusnya dan mengakhiri petualangan menjadi buruh migran di Hong Kong.

Diantara kawan-kawannya, mungkin saya orang yang lebih dulu diberi tahu (cieee) saat Kak Fendy, begitu biasa dipanggil oleh BMI di Hong Kong saat ingin memutuskan pulang seterusnya ke  Indonesia.

"Serius? sudah dipikir mateng belum?" jawab saya akhir tahun lalu saat ngobrol via telpon. Dan saat itu saya masih beberapa Minggu bekerja di majikan baru dan mulai merasakan kebosanan bekerja di Hong Kong dan ada pikiran sudah bulat untuk bekerja setahun saja dan pulang bareng dengan  Fendy. Tapi karena satu dan beberapa hal, saya akhirnya memutuskan untuk menghabiskan kontrak kerja ini sampai tahun depan. So sorry, Kak.

Sebelum  Fendy, ada Jen dari ATKI yang memutuskan pulang. selamanya dan tidak kembali ke Hong Kong. Banyak kawan yang tidak percaya dan guyonan, "alah palingan beberapa bulan lagi balik ke Hong Kong" cukup nyaring terdengar. Pun juga saat Ganika pulang seterusnya karena positif hamil saat balik ke Hong Kong (sebelumnya cuti dan menikah). 

Sedih karena Minggu tidak akan bertemu lagi dengan mereka, bahagia karena dengan memutuskan pulang selamanya ke tanah air berarti mereka siap membangun tanah kelahiran dengan modal yang mereka dapat selama bekerja di Hong Kong. Bukan saja materi, tapi pengalaman kerja dan pengalaman hidup selama di Hong Kong, hal-hal positif yang bisa diambil saat di Hong Kong bisa ditularkan saat hidup di kampung halaman.

Tidak mudah saat memutuskan pulang selamanya ke tanah air bahkan keputusan pulang kadang jauh lebih berat ketimbang memutuskan berangkat ke luar negeri, bener gak?

Jen, Ganika lalu   Fendy, mereka ini bisa dibilang sudah kenyang menjadi BMI. Diinterminit, gaji di bawah standar, hidup di shelter karena kasus, menangani BMI bermasalah dan sederet pengalaman lain. Apalagi mereka sangat aktif di organisasi buruh migran, kasus apasaja pernah mereka tangani, cibiran dan cacian pernah mereka terima. Sedih iya, tapi sekali bahwa rasa bahagia jauh lebih besar saya rasakan di saat saya sendiri belum bisa memutuskan pulang selamanya ke tanah air. 

Beberapa hari lalu saya mendapat pesan dari seorang teman lama, dulu dia juga bekerja di Hong Kong, bahkan duluan dia dibanding saya. Kira-kira 7 tahun di Hong Kong lalu memutuskan pulang, menikah dan punya anak. Kini anaknya hampir 2 tahun saat dia memutuskan ingin kembali lagi ke Hong Kong. 

Apakah saya bahagia teman saya balik ke Hong Kong? saya bisa bertemu lagi dengan dia, berlibur bersama saat Minggu atau bisa menjangkau dia lebih dekat tidak lagi antar negara. Jujur saya sedih mendengar kabar dia akan balik lagi ke Hong Kong dan meninggalkan anaknya yang dalam masa pertumbuhan dan sedang lucu-lucunya. 

Saya yakin ketiga kawan yang saya sebut diatas tidak akan kembali lagi ke Hong Kong untuk menjadi buruh migran. Kalau toh menjejak kembali Hong Kong, itu bukan sebagai BMI pekerja rumah tangga  tapi sebagai seseorang yang membawa misi khusus untuk perbaikan BMI. 

Jen, saya salut meski awalnya sempat tak percaya bahwa kamu memutuskan pulang selamanya dan menjadi aktivis di tanah air dengan bendera tetap yakni ATKI.  Kamu sering meyakinkan saya, entah di tengah malam atau kadang pagi-pagi bahwa rejeki tidak melulu ada di Hong Kong, di tanah air tetap bisa makan. Dan kamu sering meyakinkan saya bahwa di tanah air jauh lebih membutuhkan kita. Ya, saya akan pulang nanti, tunggu aku di Jakartamu ya #MISS

Bersama Jen dan Bang Rahim di Jakarta 


Ganika, sebentar lagi akan menjadi Ibu.  Hal yang sering sekali kita tertawakan bersama dulu, di Jordan Road nomor 2 itu. Ahk ternyata jika Tuhan sudah berkendak, apapun bisa terjadi. Selamat menunggu lahirnya buah hati. Semoga lancar, saya tahu kamu seorang wanita yang luar biasa. #MISS TOO.

        Ganika saat perpisahan. 

Fendy, mulai Minggu ini, tak akan lagi kami temui wajah innocence-mu di Victoria Park. Tak akan lagi kami temui polahmu yang lucu, gayamu yang lugu atau bahasa Indonesiamu bercampur Jawa yang medok itu. Tak akan lagi kami lihat sosok tomboy dengan baju “kebangsaan” atasan hitam dan bawahan putih dengan topi yang hampir  menutupi matamu. Teruslah menulis dan tetap menjadi Blogger dengan gaya dan bahasamu. 
                Bersama Kak Fendy
                             
Pada akhirnya semua   akan kembali tenah kelahiran masing-masing, entah cepat atau lambat. Saya bangga  mengenal kalian dan pasti banyak sekali BMI di Hong Kong yang ikut bangga pernah mengenal kalian.

Selamat berjuanga di tanah air. 








You Might Also Like

2 komentar

  1. Replies
    1. enggak kak, seneng kok kalau ada memutuskan pulang selamanya kayak kak Fendy ini :D

      Delete