Demokrasi Hongkong

Joshua Wong, Penggerak Demonstran Pembawa Damai

3:57 PM

Percaya tidak percaya, tapi ini Hong Kong. (@annahanna)

Berteriak lantang di panggung mungil di hadapan puluhan ribu,  mungkin  bahkan ratusan ribu  tanpa rasa takut sedikit pun. Umurnya baru 17 tahun, seusia dia, tak sedikit anak remaja yang asyik pacaran, gandengan berduan jalan-jalan di pinggiran Hong Kong menikmati malam, apalagi ini masa libur. Banyak yang menghabiskan waktu untuk berkumpul dengan teman sebaya menikmati beer atau anggur merah duduk di Kafe atau berkumpul di rumah. 

Tapi karena dia, Joshua Wong, saat ini, anak-anak seusia dia bahkan umur di bawah dia justru ikutan turun ke jalan berteriak bersama menuntut kebebasan demokrasi dan juga meminta Chief Executive turun dari jabatannya sebelum tanggal 3 Oktober. 

Joshua membuka mata hati warga Hong Kong dan juga dunia. Tak perlu ganteng atau dewasa untuk memiliki keberanian menggapai sebuah perubahan. Dan itu sudah dia mulai saat  masih berumur 15 tahun. 

  Leader of Scholarism 


Iya, saat umurnya masih 15 tahun, Joshua berani menolak sistem pendidikan nasional yang dimasukkan ke sekolah-sekolah Hong Kong.  Sistem yang dimasukkan oleh China ini mengharuskan pelajar menumbuhkan dan mengembangkan sebuah "keterikatan emosional dengan China".

Peraturan ini ditolak mentah-mentah diikuti oleh seratusan ribu pelajar. Dan ternyata massa yang digalang Joshua saat itu sangat berguna untuk kembali menyatukan kekuatan dan semangat bersama, menuntut demokrasi langsung, memilih pemimpin Hong Kong tanpa campur tangan pemerintah pusat Beijing, China.

Joshua Wong, dia idola baru bagi kaum muda yang menginginkan perubahan. Berkat dia pula, saat ini ratusan ribu orang telah turun ke jalanan yang menjadi pusat-pusat ekonomi dan pemerintahan Hong Kong. Biasanya orang Hong Kong paling anti duduk lesehan di lantai, apalagi di jalanan aspal karena takut kotor. Tapi demi sebuah demokrasi, sejenak mereka mengenyampingkan semua itu. Bahkan banyak yang tiduran di jalanan tanpa alas, hanya tas ransel yang mereka gunakan sebagai bantal.

Kabar hari ini, Leung Chun Ying tegas mengatakan tidak akan mengundurkan diri dari jabatannya dan akan membuka dialog dengan mahasiswa. Jelas saja ini semakin memicu kemarahan massa meskipun mereka tetap berdemonstrasi secara damai.

Banyak sekali ilmu baru bisa kita petik dari cara orang Hong Kong berdemonstrasi. Mereka fokus ke tuntutan mereka. Sejenak lupakan bendera partai, lambang agama, status kaya atau miskin, gelar doktor atau profesor.  Tak ada bendera berkibar dan berlomba mengatasnamakan organisasi atau LSM tertentu agar terlihat paling menonjol. Kostum mereka pun biasa saja, kaos oblong celana pendek dengan sepatu sport atau sendal. Hanya pita kuning yang membuat mereka seragam. 

Tak lupa mereka tetap peduli lingkungan. Jangan bayangkan tanaman atau rumput bakalan rusak parah seperti acara bagi-bagi ice cream yang membuat Walikota Surabaya murka,  atau saat Koalisi Merah Putih menunggu sidang putusan di MK yang mana massa yang datang merusak taman-taman dan membuat Ahok geram. Pohon-pohon atau bunga masih tetap berdiri. Sampah-sampah mereka kumpulkan jadi satu dan dipisah mana yang sampah basah dan kering. Mereka saling membantu satu sama lain, saling peduli satu sama lain. Bahkan saat ada yang marah-marah karena tidak suka atau setuju adanya demokrasi dan demonstrasi, massa yang setia tetap anteng tak terprofokasi sedikitpun untuk membalas apalagi menghajar sampai babak belur. 

Mereka juga tahu kalau polisi adalah kawan dan bukan lawan. Bagaimana pun polisi adalah tonggak keamanan sebuah negara. Ada sebuah foto saat Malam tanggal 1 Oktober hujan deras sempat mengguyur Hong Kong, seorang demonstran membagi payungnya dengan polisi yang berjaga. Syahdu.

Internet di Hong Kong beberapa kali sempat lelet. Jaringan Wifi di rumah terasa agak berat tidak selancar biasanya. Di tengah banyaknya massa di jalan, dipastikan jaringan internet susah dan bahkan mati total. Tapi mereka masih ada cara lain untuk menyebar informasi dari lapangan ke dunia maya. 

Saat ini hujan deras mengguyur Hong Kong. Cuaca tak menentu, sebentar panas, lalu mendung, panas lagi, gerimis turun lalu terang lagi. Tapi massa masih banyak yang di jalan dan tetap kukuh meninta demokrasi penuh bagi Hong Kong.

Mendengar komentar orang-orang yang tak setuju dengan demo ini, rasanya cukup bikin kuping panas juga. Mereka memaki sesuka hati, mencaci dan mengatai para demonstrans sebagai mahasiswa yang kurang kerjaan.

"Kalian ini, bikin kacau Hong Kong saja." Teriak mereka yang geram karena akses menuju tempat kerja ditutup.

"Aku butuh kerja butuh makan, gak kayak kalian yang sudah gila ini." Komen pedas dari seorang Nyonya yang berangkat kerja.

 Revolusi Payung 
       



Di sisi lain, dukungan dari warga Hong Kong yang sedang tinggal di luar negeri mengalir deras. Mereka berkumpul dengan sesama orang Hong Kong dan membuat tulisan tentang kebebasan demokrasi sebagai dukungan, tak lupa mereka membawa payung dan pita kuning sebagai simbul. 


Tetap peduli kebersihan, salut dan perlu dicontoh


Hape adalah senjata mereka untuk menyebar informasi baru

Tersedia mie gelas yang dibagi gratis untuk massa (Ahan)

Indonesia, jika suatu saat nanti terpaksa  ada demo besar-besaran, semoga massa yang datang bisa meniru cara berdemonya orang Hong Kong. Jangan merusak fasilitas umum yang hanya merugikan banyak orang. Tak perlu bawa senjata tajam, fokus saja apa yang menjadi tuntutan. Tak perlu terprofokasi oleh omongan-omongan orang yang kontra. Lupakan perbedaan, tak perlu berlomba membawa segala macam atribut partai, agama dan lainnya. 

Mahalnya harga sebuah demokrasi. Indonesia 1998 dan Hong Kong 2014.

Mana yang paling berkesan?


You Might Also Like

3 komentar