bmi hongkong

Erwiana, Pintu Masuk untuk Perubahan Buruh Migran

5:49 PM

  Jam 8.15 pagi, aksi dukungan untuk Erwiana di depan pengadilan. 

     


Hari ini, 8 Desember 2014 sidang kasus Erwiana akan kembali digelar di pengadilan tinggi Wan Chai. Dalam sidang yang akan digelar beruntun dari tanggal 8  Desember 2014 sampai 6 Januari 2015 ini akan menghadirkan Erwiana dan 3 pekerja rumah tangga lainnya yang pernah bekerja di rumah Law Wan Tung, majikan yang menyiksa Erwiana dan PRT lainnya.

Erwiana telah terbang ke Hong Kong 4 Desember lalu bersama Riyanti, BMI yang menolongnya sewaktu di bandara dan juga Iwenk, dari Asosiasi mantan buruh migran dan keluarganya. Dalam sidang ini juga akan menghadirkan dokter yang merawat Erwiana sewaktu di Rumah Sakit Indonesia. Pagi ini jam  8.15,  sebelum sidang dimulai akan diawali dengan aksi terlebih dahulu di depan pengadilan sebagai bentuk dukungan terhadap Erwiana.

Harapan BMI Terhadap Persidangan Erwiana.

Kasus Erwiana begitu menghentak publik Hong Kong, Indonesia dan juga Internasional pada awal tahun ini. Bagaimana mungkin Hong Kong yang dikenal sebagai "surga" bagi buruh migran pekerja rumah tangga ada kasus yang sedemikian parahnya dialami oleh tenaga kerja dari Indonesia.

Erwiana bekerja dengan jam istrirahat hanya 3 sampai 4 jam saja, tidur di tempat yang tidak layak, makanan dijatah bahkan air minum juga dijatah, ke toilet dibatasi, belum lagi siksaan dari majikan dia alami selama 8 bulan bekerja.


Buruh migran marah, kasus Erwiana menjadi perhatian media internasional dan mendapat banyak sekali dukungan. BMI di Hong Kong merapatkan barisan untuk terus mengawal kasus ini sampai majikan Erwiana mendapatkan hukuman yang setimpal dan Erwiana mendapatkan keadilan dan juga semua hak-haknya serta kerugian yang dia derita.  Bagaimana pun, kemenangan Erwiana adalah kemenangan bagi semua buruh migran. 

Para BMI berharap pemerintah mau belajar dari kasus Erwiana dan mau merombak segala peraturan yang selama ini memberatkan. Tidak seharusnya semua proses calon tenaga kerja diserahkan ke pihak swasta,  pemerintah lepas tangan dan hanya mengawasi dan menindak jika ada laporan.  

Selama ini PJTKI selalu mendoktrin BMI sebelum masuk ke negara penempatan bahwa "kamu harus nurut, kamu harus patuh, minta maaf kalau majikan menuduh salah (meski majikan selalu menyalahkan padahal BMI benar), jangan macam-macam selama potong gaji" dan segala doktrin bodoh lainnya yang membuat BMI tak berdaya di rumah majikan meskipun siksaan baik fisik maupun verbal terus dia alami, Erwiana contohnya.


Dukungan untuk Erwiana bukan hanya datang dari para BMI Hong Kong tetapi juga dari para mantan BMI di tanah air dan para pegiat buruh migran lainnya. 

"Kasus Erwiana akan menjadi pintu masuk untuk kita, kita akan meminta kebijakan yang selama ini memberatkan kita agar segera diubah." tutur Sringatin selaku koordinator JBMI. 

"Dengan Kasus Erwiana yang terjadi di Hong Kong yang selama ini dikenal sebagai negara yang aman bagi pekerja migran ternyata bisa menguak banyak kejadian kasus kekerasan yang tidak kita ketahui." tambahnya.

Masih menurut Sringatin, pihak KJRI Hong Kong tidak ada satu pun yang menghadiri sidang ini. Sidang dilanjutkan besok jam 10.30 pagi di Wanchai. 

Mohon bantuannya untuk memperjuangkan keadilan bagi buruh migran. Buat status serentak di media sosial (FB/ Twitter/ dsb)
#Justice4Erwiana
#Justice4AllMigrant
#JokowiAkhiriPerbudakanModern
#JokowiRatifikasiC189
#JokowiBebaskanBMIdariPJTKI

You Might Also Like

4 komentar

  1. Bagus, saya suka tulisan-tulisan yang membahas masalah-masalah sosial. Lanjutkan ya Non, walau saya tak dapat melihatmu lagi di FB tapi masih bisa membaca tulisan-tulisanmu.

    Saya juga pernah buat video tentang Erwiana dan sudah di views 26.000 pemirsa Youtube.

    #Justice4Erwiana

    ReplyDelete
  2. makasih mba informasinya,,,
    ijin share ya,,

    ReplyDelete