Betah Buruh

Rumangsamu, Ini Penak Orane jadi TKI

2:06 PM

Penak pora?
Beredarnya video “rumangsamu – yo penak” yang saling bersahut-sahutan di Facebook dan kini diangkat ke beberapa portal online dan bahkan masuk TV menjadikan video-video itu semakin heboh. Ada yang kegirangan, ada yang biasa saja, tapi ada yang justru merasa prihatin karena seperti orang tidak punya kerjaan.

Well, media sosial memang media yang paling cepat untuk menyebarkan virus, salah satunya ya video tersebut. Video yang awalnya di upload oleh seorang  laki-laki yang mengatakan kalau ditinggal pergi istrinya ke luar negeri itu enak, bisa Facebookan, hape layar sentuh, punya motor bagus, pulsa dikirimi, duit habis dikirimi, meski istri kerjanya di luar negeri ngosek WC.

Video  itupun dengan cepat menyebar dan mendapat respon beragam. Tak sedikit yang mencibir bahkan menjadikannya bahan olok-olok. “Kelakuan, begitu ya kalau istri pergi ke luar negeri, kerjaannya nongkrong, ngopi, Facebookan” meski ada juga yang menganggap video itu hanya sebatas untuk hiburan dan lucu-lucuan.

Tanggapan paling banyak adalah dari para Tenaga Kerja Indonesia yang berada di luar negeri. Ada yang menanggapi kerja di luar negeri itu enak, tapi ada juga yang menanggapi kerja di luar negeri itu tidak enak.

Rumangsamu opo penak? Penak

Menurutmu apa enak? Enak. Ya, kerja di luar negeri itu ada enaknya. Enaknya itu  gaji lebih tinggi dibandingkan bekerja di Indonesia. Apalagi yang bekerja sebagai PRT. Di Hong Kong (misalnya), dengan gaji sebesar HK$ 4110 yang kalau dirupiahkan menjadi Rp 6,8 juta lebih, gaji ini katanya melebihi gaji PNS di kampung halaman. Mana ada gaji PRT sebesar itu di Indonesia? Gaji sebesar itu bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, menyekolahkan anak-anaknya (bagi yang sudah punya anak), untuk membangun rumah, untuk ditabung dan untuk modal usaha saat pulang nanti ke Indonesia. Tak sedikit juga yang memberangkatkan orang tuanya pegi Umroh atau Haji.

Ada juga yang bekerja di luar negeri nyambi meneruskan sekolah atau kuliah untuk mewujudkan cita-cita yang tertunda. Enak gak sih? Ya enak. Karena belum tentu di tanah air bisa. Selain itu, bekerja di luar negeri itu lebih dihargai, meski ada yang diperlakukan seperti budak, makan dan tidur kurang. Di luar negeri juga bisa menikmati hari libur setiap Minggu atau libur nasional lainnya.  

Di sisi lain, bekerja di luar negeri bisa sekalian belajar soal adat dan budaya dan juga bahasa Negara penempatan. Bisa mencuri ilmu soal bagaimana membudayakan antri, hidup bersih, tepat waktu dan masih banyak lagi.

Enak gak? Ya enak. Itulah beberapa enaknya kerja di luar negeri.

Rumangsamu penak? Yo ora penak!

Menurutmu enak? Ya gak enak. Jangan bayangkan kerja di luar negeri itu semuanya enak karena gaji tinggi, bisa Facebookan tiap hari. Sini saya kasih tahu bagaimana tidak enaknya bekerja ke luar negeri, bahkan ora penak ini sudah dirasakan saat masih proses awal di penampungan atau PJTKI. Sebelum ke luar negeri, hidup di penampungan yang sempit, tidur di lantai, makan kurang, mandi harus antri dengan puluhan  bahkan ratusan orang lain di penampungan, belum lagi Ibu asrama yang galak. Kalau tidak betah di penampungan dan ingin pulang, keluarga harus menebus beberapa juta.

Saat tiba di luar negeri dan masuk majikan, bahasa rata-rata masih minim, majikan marah, dibentak, bahkan ada yang dipukuli sampai babak belur, penak pora? Yo ra penak.

Belum lagi kalau anak yang dijaga nakalnya gak ketulungan, anak jatuh kita disalahkan, bahkan anak bersin saja kita yang disalahkan. Menurutmu ini enak? Yo gak enak.

Ada lagi, yang jaga manula, jaga Nenek cerewetnya minta ampun, sering nuduh mencuri,  urusan makanan pelit dan seringnya harus beli makanan sendiri, begini enak? Yo gak enaklah. Gajinya harus berkurang untuk jatah beli makanan, karena majikan  pelit dan tidak peduli dengan urusan perut kita.

Masih ada lagi, saat sudah merasa cocok dengan majikan, potongan gaji sebentar lagi selesai, artinya bisa kirim uang ke keluarga di kampung halaman, tiba-tiba kabar buruk datang, majikan menginterminit kita. Kita diantar ke kantor Agen dengan alasan majikan tidak cocok dan kita tidak bisa kerja. Uang tiket, sisa gaji, uang cuti yang seharusnya jadi milik kita dirampas semua oleh Agen, kita hanya bisa melongo tanpa bisa melawan. Menurutmu ini enak?  Saya kasih juga juga ni, ada yang bekerja 2 tahun atau 3 tahun lebih gajinya habis hanya untuk bayar potongan Agen. Kok bisa? Ya bisa. Karena masih kerja beberapa bulan, majikan diteror Agen untuk ganti pekerja, padahal baru selesai potongan gaji, atau ada yang baru bekerja merawat manula, yang dirawat meninggal dunia.

Lalu hidup kembali di penampungan Agen, berdesakan dengan kawan lain yang punya nasib sama, mencari majikan baru lagi, potong gaji lagi, harus nurut Agen, kalau melawan, Agen mengancam akan memulangkan ke Indonesia. Emang kalau begini enak?

Dan yang paling tidak enak adalah saat harus berjauhan dengan keluarga. Dari orang tua dan saudara atau dari anak-anak yang masih kecil dan masih butuh gendongan orang tua. Jangan dikira meski enak lalu tidak ngenes saat mengingat keluarga. Yo ngenes, yo ra penak.

Betah karena Butuh

Buruh migran yang saat ini bekerja di luar negeri memiliki kisah yang bermacam-macam.  Ada yang enak dan ada yang tidak enak.  Kenapa kalau tidak enak bisa bertahan sampai bertahun-tahun? Ya karena butuh.  Betah bekerja di luar negeri karena butuh biaya untuk mencukupi kehidupan keluarga di kampung halaman. Kalau di tanah air lowongan perkejaan banyak dengan gaji mencukupi, saya pribadi juga akan memilih bekerja di negeri sendiri, bisa dekat dengan keluarga.

Ada lagi, yang paling tidak enak itu saat bekerja di luar negeri dengan sungguh-sungguh untuk keluarga, ternyata suami di kampung sana selingkuh dengan perempuan lain dan menggunakan uang si istri untuk membiayai selingkuhannya. Apa kalau begini enak? Rumangsamu.  Yang jadi korban siapa? Anak-anak dan hasil jerih payah istri yang bekerja 24 jam nonstop di rumah majikan. Situ pikir enak kalau mengalami hal seperti ini?

Jadi buruh migran itu ada enak dan tidaknya. Yang ditinggal istri atau suaminya jadi buruh migran juga pasti ada enak dan tidaknya.

Semoga bisa saling bekerja sama. Yang ditinggal ke luar negeri, manfaatkan uang kiriman dengan amanah dan untuk hal-hal yang positif agar yang mengirimi uang tambah semangat bekerja dan bisa segera berkumpul kembali dengan keluarga di kampong halaman.

Yang bekerja di luar negeri, pandai-pandailah mengatur gaji yang didapat, jangan boros,  manfaatkan hari libur dengan baik, jangan melupakan tujuan awal bekerja ke luar negeri. Semangat mengumpulkan modal sebanyak-banyaknya agar bisa segera pulang dan membangun negeri sendiri.

Karena sesungguhnya hujan batu di negeri sendiri lebih enak ketimbang hujan emas di Negara lain.




















You Might Also Like

0 komentar