Aturan Imigrasi

Semakin Ketat, Jangan Remehkan Larangan Ini!

10:31 AM

     Victoria Park dengan segala warnanya


Secara hukum ketanagakerjaan, kita, para buruh migran hanya diijinkan untuk bekerja di rumah majikan dan menerima upah dari majikan, tidak boleh lebih.

Pasal 41 Peraturan Keimigrasian, seluruh pelanggar ijin tinggal akan dinyatakan bersalah dan dituntut membayar denda sebesar HK$ 50.000 (setara Rp 83 juta) dan hukuman penjara selama 2 tahun. 

Tadi malam, salah satu TV di Hong Kong menayangkan berita yang mengangkat  fenomena para buruh migran dari Indonesia yang berjualan di pinggiran jalan Causeway Bay dan daerah lain yang sering menjadi tempat liburan para BMI.

Saat hari Minggu, jalanan di Victoria Park memang penuh dengan para penjual makanan, buku, pulsa baju dan lainnya yang sering dibutuhkan para BMI, yang paling banyak dan terlihat gamblang adalah para BMI yang jualan makanan karena areanya terbuka dan terjejer rapi.

Mungkin, selama ini  para BMI yang berjualan masih menganggap remeh setiap berita yang mengangkat tentang maraknya buruh migran berjualan saat liburan. Tetapi untuk kali ini, semoga para pedagang lebih hati-hati lagi dalam bertransaksi karena sudah diawasi oleh berbagai pihak. Para pedagang sendiri sebenarnya bukannya tidak tahu kalau mereka menyalahi aturan, tapu ya mau gimana lagi, keluarga di kampung butuh kiriman dan setiap keluarga punya kebutuhan yang berbeda.

Hong Kong ini peraturannya sangat ketat dan tidak bisa kita anggap remeh. Berjualan saat libur adalah ilegal karena kita masuk ke Hong Kong untuk bekerja di rumah
majikan, dan bukan untuk berjualan, jika kita berjualan, jelas-jelas ini sudah menyalahi aturan ijin tinggal kita.

                         Tulisan larangan kini juga tertempel di Victoria Park dengan tiga bahasa. 

Bukan saja yang jualan di lapangan, karena yang berjualan secara online di Facebook  juga menjadi incaran pihak Imigrasi. 

Masakan yang dijual di sekitaran jalanan Victoria Park memang menggoda selera bagi lidah orang Indonesia, apalagi kita yang selama 6 hari selalu disuguhi masakan China dengan bumbu kecap asin, jahe dan bawang putih. Minggu menjadi pelampiasan untuk memenuhi hasrat makan menu ala kampung halaman bersama teman seperantauan. 

Inilah satu sisi yang coba dimanfaatkan oleh BMI yang kreatif, mereka memasak sesuai selera lidah para buruh migran lalu menjajakannya di area tempat para BMI liburan. Fenomena ini sudah berlangsung sangat lama dan semakin ke sini ternyata yang berjualan semakin banyak.

Dengan harga yang relatif lebih murah dibanding beli di warung membuat pembeli betah bahkan dijadikan langganan. Meski ada juga yang menjualnya dengan harga sama persis dengan di warung-warung, tetapi pembeli di pinggiran jalanan ini tak pernah sepi.

Dalam papan larangan juga tertulis kalimat bahwa, Barang siapa menjajakan/ melakukan jual beli barang dagangan secara ilegal akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku di Hong Kong. Jangan pertaruhkan masa depanmu.

Bisa jadi adanya papan larangan karena peringatan yang sudah pernah diberikan hanya dianggap
angin lalu, toh sudah sering dilakukan sidak dan ada pedagang serta barang dagangannya diangkut tetapi tidak kapok juga. 

Ada penjual karena ada pembeli yang membutuhkan, ini  sudah menjadi hukum ekonomi. Dan kawasan Victoria Park saat Minggu selalu ramai, duduk di lapangan dan pasti butuh makanan, mau kalan ke warung lumayan jauh dan biasanya kalau sudah duduk manis, mau jalan rasanya malas. Itu juga kenapa banyak penjual yang keliling menawarkan minuman, nasi kotak, cemilan, pulsa dan lainnya, mereka menjemput bola, mendekati pembeli tanpa harus si pembeli beranjak dari tempat duduknya.

Saya pernah beberapa kali tanya langsung ke beberapa penjual, baik yang keliling maupun yang lesehan soal keuntungan, dan ternyata keuntungan mereka lumayan besar, bahkan lebih besar dari gaji sebulan bekerja di rumah majikan.

Ya, semoga saja para pedagang lebih hati-hati lagi. Kalau melihat dendanya, nilai itu tidak bisa dianggap remeh. Jangan sampai niat memperbaiki ekonomi keluarga malah berakhir dipenjara.




You Might Also Like

0 komentar