Abdur

Melawan Stigma dengan Cara Berbeda

1:40 PM


"Kita kalau berdiri di tengah jalan memperjuangkan sesuatu untuk rakyat, itu sebenarnya kita malah bikin susah rakyat."

Kalimat ini saya dapat dari Arie Kriting, juara tiga Stand Up Comedy (SUCI) sesi 3 di Kompas TV. Akhir-akhir ini saya demen banget mantengin acara SUCI di salah satu TV tanah air.  Ada beberapa comika yang masuk ke dalam daftar favorit saya, Arie Kriting dan Abdur, keduanya ini selalu membawa bahan stand up tentang Indonesia Timur yang diselipi dengan kritikan tajam untuk pemerintah lewat komedi, lalu ada Dzawin, juara 3 SUCI sesi 4,  anak pesantren yang  berbagi kehidupan sewaktu di pesantren dulu, lalu Dicky, nama terakhir ini sudah close mic dari SUCI 5 di show ke 9, meski gayanya agak banci, tetapi dia tidak menjual  kebanciannya saja karena gaya act out-nya itu lo, sumpah, bikin cewek klepek-klepek (lalu pingsan).

Melawan Stigma dengan Komedi

Judul ini saya ambil  waktu Arie Kriting mengisi acara dalam rangkaian ulang tahun BaKTI ke-10. Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) adalah sebuah yayasan yang berkedudukan di Makassar, berdiri pada pertengahan tahun 2009 dan merupakan transformasi dari program multi donor yang telah mulai beroperasi dan berpengalaman dalam berbagai aktifitas mendukung efektifitas pembangunan KTI sejak tahun 2004. BaKTI berfungsi sebagai pusat pertukaran pengetahuan dan informasi pembangunan Kawasan Timur Indonesia yang meliputi 12 provinsi di Papua, Maluku, Sulawesi dan Nusa Tenggara. BaKTI bertujuan memajukan pembangunan di Kawasan Timur Indonesia dengan berfokus antara lain meningkatkan pertukaran pengetahuan dan pengadopsian praktik cerdas serta mendorong inisiatif lokal, perluasan dan replikasinya di Kawasan Timur Indonesia.

Coba lihat di sini:  Melawan Stigma dengan Komedi

Isinya lumayan cerdas, meski agak serius tetapi dibungkus dengan komedi. Sejak era reformasi (ciee gayanya) Indonesia menjadi Negara yang sangat terbuka. Pers tidak terkekang lagi, mahasiswa turun ke jalan tanpa takut kena culik, kaum buruh bebas mengeluarkan pendapatnya dan bisa menjadi pengkritik yang tajam di media sosial. Dalam mengkritik, tidak melulu dengan gaya serius, wajah tegang tanpa senyuman, atau dengan membusungkan dada agar lawan bicara takut saat mendengar. Dengan komedi, kita masih tetap bisa mengkritik dengan bahasa yang gampang dipahami dan menimbulkan tawa tetapi tetap tidak mengeyampingkan tujuan.


Arie Kriting dan Abdur (menurut saya) adalah orang timur yang berjuang dengan caranya sendiri, yakni lewat Stand Up Comedy. Saat melihat mereka, saya selalu mendapat ilmu baru, khususnya tentang Indonesia Timur. Bagaimana mereka membungkus kritikan-krititan tajam ke dalam komedi yang terkadang terasa sangat getir tetapi berhasil membuat tertawa banyak orang.  

“Kita selalu bilang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tapi kalau kita bicara keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, coba kita lihat-lihat ke Indonesia Timur sana, masih ada keadilan ke sana atau tidak.” Kata Arie Kiritng di salah satu stand upnya.

Arie Kriting dan Abdur, mereka selalu konsisten membawa isu soal Indonesia bagian timur yang selama ini selalu dianak tirikan oleh pemerintah pusat. Bagaimana pembangunan di negeri ini yang hanya berpusat di pulau Jawa atau barat saja sedangkan di wilayah timur selalu diabaikan.

Saya setuju bahwa “melawan” itu tidak melulu dengan cara turun ke jalan, masih banyak cara lain yang bisa dilakukan tanpa harus merugikan banyak orang, salah satunya dengan komedi, seperti yang dilakukan para comika.

Bahwa mereka bukan saja menjual lelucon di atas panggung tanpa makna. Saya ingat kata-kata Dicky, “bahwa stand up comedy itu spesial karena bukan sekedar melucu atau bikin orang tertawa, tapi di situ memang ada keresahan. Setiap penonton yang menonton stand up comedy, harus ada satu hal yang bisa dipetik sama dia (penonton).”

Komentar Raditya Dika, salah satu juri di SUCI bahwa materi comic yang paling baik itu adalah yang datang dari kegelisahan, bahwa justru dengan mengangkat keresahan-keresahan yang kita alami yang ada di sekitar kita, itu akan menjadi lawakan yang sangat natural. Saat rasa getir dan miris diolah menjadi satu hal yang bisa ditertawakan bersama-sama. 

Coba lihat sindiran Abdur ini atau Arie Kriting di sini, soal pembangunan di Indonesia 

Buat kamu-kamu yang galau, coba deh cari hiburan dengan melihat para comika di Youtube, jangan malah mendengarkan lagu-lagu galau yang tambah bikin galau dan mewek. Lihat stand up mereka, kalau tidak bisa membuatmu tertawa, silahkan cubit saya #Eh.

Note: Sudah lama tidak nulis, ini sebenarnya tulisan iseng sambil melihat stand up comedy dan tiba-tiba mendapat inspirasi menjadi tulisan. Maaf kalau tidak penting.


You Might Also Like

6 komentar

  1. Kalau pulang ndang kuliah Fer. Ini bahan yang berpotensi bagus di jurusan Komunikasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe makasih, Bu Pratiwi.
      Ini sedang berjalan :) doakan ya

      Delete
  2. masalah apa saja kalau dibawakan dengan komedi akan ringan namun tersampaikan :D

    ReplyDelete