bmi hongkong

Kehidupan Pekerja Migran di Hong Kong

3:58 PM


Ini Hong Kong


Sepertinya masih banyak orang yang penarasan dengan kehidupan buruh migran di Hong Kong. Baiklah, karena ada keyword di Blog saya yang nyari kata kunci “kehidupan TKW di Hong Kong” membuat saya jadi punya inspirasi untuk menuliskannya di Blog. Sebelumnya, terima kasih buat yang sudah ngasih inspirasi di tengah mood menulis lagi anjlok, mirip anjloknya Reksadana yang saya ikuti (curhat).

Ini bulan Juli, cuaca di Hong Kong lagi panas-panasnya, tau gak panasnya kayak apa? Kayak baru putus sama mantan trus dia jadian sama orang lain yang sudah kamu curigain padahal awalnya dia bilang cuma temen (bukan curhat). Silahkan bayangin sendiri panasnya kayak apa  :D

Biasanya musim panas seperti ini, rumah-rumah pada nyalain AC, apalagi yang jaga manula atau anak kecil, tidak bisa hidup tanpa AC di musim yang  panas seperti ini. Tapi, ada tapinya, AC tidak akan pernah menyala di rumah yang memegang gaya hidup super pelit, pelit ya bukan hemat. Apa gunanya hemat kalau jadinya malah sakit. Ya musim panas begini biasanya penyakit gampang sekali menyebar, cuaca tak menentu, tidur malam terganggu karena panas dan kipas pun tak mempan sebagai penyejuk.

Nah, bagi orang-orang yang tidak perhitungan, biasanya urusan listrik sebodo amat, mau tagihan membengkak dua kali dari biasanya, penting suasana rumah adem dan nyaman, AC selalu menyala, kurang adem ya tambah nyalain kipas angin. Secara kalau musim panas gini bawaannya emosi terus, panas sedikit marah, marah sedikit panas, ya gitu deh.

Lalu bagaimana dengan para buruh migran? Perlu disyukuri karena saat musim panas sekolah-sekolah di Hong Kong libur panjang, jadi yang biasanya antar jemput anak bisa istirahat sejenak, meski masih banyak juga yang tetap antar anak untuk les, main atau lainnya.

Yang jaga manula, biasanya kalau musim panas mulai mengurangi keluar rumah. Kebiasaan manula di Hong Kong, saat pagi hari berjemur di taman atau kadang memilih waktu sore. Saat panas gini, jam 6 pagi lebih matahari sudah menyala(k) sampai jam 7 malam pun masih terang benderang. Biasanya acara nongkrongnya pindah, masuk ke plaza atau mall, cari AC, duduk manis di kursi-kursi yang tersedia sambil ngobrol dengan sesama. Lumayan, irit listrik di rumah. Jadi jangan heran kalau musim panas masuk ke plaza atau mall isinya kebanyakan manula, itu modus untuk irit AC di rumah :D

Bagaimana Kehidupan Buruh Migran di Hong Kong?

Ok kita masuk ke topik. Buruh migran yang mayoritas bekerja di rumah tangga punya waktu libur 1 hari dalam seminggu, biasanya liburnya hari Minggu. Hari Senin sampai Sabtu kita kerja seperti biasanya. Ada yang kerjanya sangat berat, ada yang sedang, ada yang biasa saja, ada yang ngganggurnya lebih banyak daripada kerjanya (kayak saya). Gaji PRT di Hong Kong saat ini adalah HK$ 4110, gaji ini sudah ditetapkan oleh pemerintah Hong Kong. Tapi ada juga yang mendapat gaji lebih atas kemurahan hati majikan. Semoga tidak ada yang mendapatkan gaji kurang dari yang sudah ditentukan ya. Kayak jaman saya awal-awal dulu, gaji underpay, tidak libur, kerja berat, gak  enak pokoknya.

PRT di Hong Kong bisa dibilang memiliki suasana kerja yang lebih bersahabat, tidak dikurung 24 jam nonstop di dalam rumah, masih bisa menikmati suasana luar rumah, bertemu dengan sesama orang Indonesia, menikmati makanan khas Indonesia yang tersebar di banyak Toko atau Warung Indonesia di hampir setiap wilayah.

Perkiraan saat ini, jumlah BMI di Hong Kong sekitar 150.000 (mungkin lebih) dan kebanyakan berasal dari Jawa Timur. Uniknya, meski sudah di Hong Kong, kebanyakan dari kita lebih sayang dengan bahasa Jawa saat bertemu dengan sesama orang Indonesia. Jadi kalau ketemu, logat Jawa yang terlontar, bukan bahasa Kantonis atau bahasa gaul ala orang Jakarta. Lagian, lidah dan logat orang Jawa tidak bisa bohong. Satu lagi, kenapa tidak menggunakan bahasa Kantonis? Alasan paling masuk akal adalah agar saat ngomongin orang Hong Kong tidak ketahuan. Hayo pada ngaku! :D

Ini bulan puasa, cuaca di Hong Kong bisa mencapai 34 derajat, imsak di Hong Kong jam 04.09 dan buka jam 19.12. Banyak majikan yang melarang pekerjanya puasa, alasannya macam-macam, ada yang takut kelaparan atau kehausan, ada yang takut pingsan, ada yang takut tidak bisa bekerja secara maksimal seperti biasanya, dan alasan yang paling bikin geli adalah takut kalau pekerja meninggal dunia karena puasa. Jadinya ada yang puasa secara sembunyi-sembunyi untuk tetap melaksakan kewajiban sebagai umat Islam.

Tapi, ada juga majikan yang baik dan pengertian, memahami pekerjanya yang berpuasa dengan menyediakan makanan untuk persediaan selama puasa, dan bahkan ada juga yang rela membangunkan pekerjanya untuk makan sahur, syahdu nian.

Oh iya, jangan dikira, kami yang bekerja di Hong Kong lupa dengan tanah air karena tergoda gaya hidup di sini ya. Tidak, kami masih ingat kok dengan Indonesia, masih sayang dan cinta dengan Indonesia dan masih ingin pulang ke kampung halaman serta hidup bahagia di sana.

Ya meskipun ada orang yang berubah begitu masuk ke Hong Kong. Mengikuti gaya hidup yang glamour di Hong Kong dan melupakan tujuan awal bekerja ke luar negeri, bahkan melupakan anak dan orang tua, tapi percayalah, jumlahnya tak sebanding dengan yang masih     tetap     memegang teguh budaya dan adat orang Indonesia dengan budaya timurnya, masih tetap ingat dengan keluarga.

Segini dulu ya ceritanya, lain kali disambung lagi.





















You Might Also Like

17 komentar

  1. Ntar dilanjutkan lagi kakak. Hehe iya banget nih. Nongkrong skrg di mall mall. Dan virus sakit memang banyak menyebar seperti saya yang sekarang tepar hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jaga kesehatan kak, kalau sakit berlanjut, segera hubungi dokter ya

      Delete
  2. 3x puasa d hongkong tp tahun ini bru jln 10 hr alhamdulillah d kasih sakit trs g bleh puasa lg sm boss jd setelah sembuh ngumpet2 puasanya...😓

    ReplyDelete
  3. Jangan lupa pulang mbk yang dirumah nunggin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti pulang mas :D tapi belum sekarang

      Delete
  4. Lanjut lagi dong mbak ceritanya. Penasaran nih..

    ReplyDelete
  5. Wawasan jadi terbuka, ternyata gini toh... Makasih ya sudah berbagi :) ditunggu lanjutannya ^^

    ReplyDelete
  6. wah, mba Fera keja di HK ya. ditunggu lanjutannya mba. tetap semangat puasanya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe iya mbak, alhamdullilah, meski 34 derajat masih semangat. Makasih ya mak

      Delete