Dicky Suci5

SUCI 5 Kompas TV: Hadirkan Tawa dan Melupakan Semua Resah yang Ada

4:36 PM

Finalis SUCI 5 Kompas TV (kompas.com)
Stand Up Comedy Kompas TV sesi 5 telah berakhir, tetapi euforianya masih kita rasakan sampai saat ini. Ya paling tidak saya sendiri, masih sering lihat penampilan video finalis lewat Youtube.  Rigen telah dinobatkan sebagai juara 1 SUCI 5 tahun ini,  juara 2 ditempati si anak STM, Rahmet dan juara 3 dipegang si-absurd, Indra.

Stand up comedy adalah ajang dimana para komika bisa mengungkapkan keresahan-keresahan yang mereka alami dengan cara yang lucu dan mengundang tawa. Saya sangat ingat bagaimana Arie Kriting dan Abdur, komika dari Indonesia Timur yang begitu konsisten di setiap show saat melakukan stand up, keduanya selalu membawa kritik-kritik sosial ke pemerintah tentang pembangunan di Indonesia Timur yang selalu diabaikan dan dianaktirikan.

Arie Kriting dan Abdur seolah menjadi ikon dari Indonesia Timur bahwa “melawan” tidak harus selalu turun ke jalan atau bakar-bakar ban di tengah jalan, tetapi melawan bisa juga dengan cara lain, salah satunya dengan komedi. Dan keduanya berhasil melakukan itu.  Kalau kata Arie Kriting, “Melawan Stigma dengan Komedi.”

Keberhasilan Rigen seolah menjadi pelengkap bagi pemenang SUCI dari Indonesia Timur, setelah sang perintis dari Indonesia Timur yakni Arie Kriting ikut Stand Up Comedy dan menduduki juara 3 SUCI 3, lalu ada penerusnya Abdur yang menduduki juara kedua SUCI 4, dan klimaksnya dipegang oleh Rigen yang akhirnya dinobatkan sebagai juara 1 SUCI 5.

Dari audisi, saya sudah menjagokan Wira, si budak sajak dari Purwokerto. Pembawaannya yang penuh karisma dengan kalimat-kalimat romantis yang terlontar di atas panggung, meski sajaknya miris tetapi bisa membuat kita semua tertawa, iya, menertawakan sajaknya Wira yang tanpa kita sadari, kita (mungkin) pernah merasakannya.

Dari awal audisi, Wira mampu mencuri perhatian Radit dan Pak De Indro selaku juri, lihat saja ekpresi Radit waktu Wira audisi, sampai bersandar di bahu Pak De Indro karena entah geli atau entah merasakan hal yang sama dengan sajak-sajak yang Wira bawakan, atau mungkin karena Radit merasa dia tak sehebat Wira dalam bersajak dan merayu wanita? Entahlah. Deliverynya mampu  membuat Radit dan penonton yang hadir sangat terhibur dengan sajak komedinya Wira.

Cieee, bersandar di bahu Pak De Indro, ciee
Ciri khas Wira dengan brewoknya yang katanya tidak pernah dicukur, karena apa? Karena sesuatu yang tumbuh kembali, rasanya tak lagi sama. Biasanya saat memulai stand up, Wira akan menyapa penonton dengan sajaknya yang tersusun rapi, ini salah satu contohnya,

Selamat malam Balai Kartini
Dan semua penyesalan yang masih tersisa di sini
Sakitnya juga di sini
Semua perih-perih juga tersisa di sini
Di sini, di sini, kenapa?
Karena di situ, kadang saya merasa sedih.



Show pertama dimulai dan para finalis mulai berlomba menjadi yang terbaik. Show pertama, saya melihat karakter Dicky, finalis yang mendapat golden tiket saat ikut LKS begitu kuat dengan aksi act out-nya yang membawakan materi tentang nge-fans sama idola,  gayanya yang ngibasin rambut, atau saat makan kecoak itu sudah bikin semua penonton tertawa. Dari sini saya semakin menempatkan Dicky dan Wira diurutan pertama sebagai komika favorit SUCI 5.

Neng, kamu tuh, aahh, gemesin dan ngangenin
Show pertama finalis yang harus close mic adalah Baim. Kemudian di show ke 2, Ubai harus menyusul close mic. Show ke 3, finalis yang mendapatkan golden tiket  tanpa audisi setelah komunitasnya terpilih menjadi juara di Liga Komunitas Stand Up (LKS) yakni Ridho harus mengakhiri perjalananannya di SUCI 5.

Si mafia Hong Kong, Kalis, harus mengakhiri shownya di panggung SUCI 5 dan menjadi finalis berikutnya yang close mic di show ke 4. Kalis memiliki penggemar lumayan banyak di Twitter dan cukup ramah dengan fans.  Anjas menyusul Kalis di show ke 5 dan harus close mic dan berpisah dengan finalis lainnya.

Komika yang dipanggil “ayah” oleh para finalis, Rahman, harus mengakhiri shownya di babak ke 6 dan meninggalkan kesedihan bagi para finalis. Maklum saja, Rahman sudah dianggap seperti ayah bagi mereka. Perjalanan show demi show pun tetap berjalan seperti biasanya dan siapa sangka kalau Wira menyusul untuk menjadi peserta yang close mic di show berikutnya. 

Ya, si budak sajak ini harus close mic di show ke 7. Tak ada lagi sajak-sajak romantis dan miris di show berikutnya, Tak ada lagi sapaan “selamat malam  Balai Kartini” dan disusul dengan petikan sajak yang rapi dari Wira.

Menyusul Wira adalah Tommy Babap, finalis dengan suara agak cadel terpaksa harus terhenti di show ke 8. Salam perpisahan yang disampaikan Tommy mengundang tawa penonton malam itu, yang tadinya sedih, finalis lain malah ikutan tertawa. Tapi inilah SUCI Kompas TV, ajang komedi yang sangat cerdas dan bisa membuat penontonnya menangis dan tertawa bersama.


Dan, ini adalah close mic paling sedih sepanjang SUCI 5. Julukan Bunda atau Eneng untuk finalis bernama Dicky dengan ciri khas topinya yang menyapa penonton dengan “selamat malam Balai Kartini, ahaayy” harus terhenti di show ke 9. Close mic-nya Dicky adalah kesedihan terbesar  sepanjang SUCI 5 karena Dicky adalah finalis yang amat sangat saya jogakan bakalan masuk Final melawan Wira. Tapi ya, inilah kompetisi, para finalis harus siap dengan “eliminasi” yang datang setiap Minggunya.

Kenapa neng Dicky close mic secepat ini? 
Neng Dicky, terima kasih sudah memberikan tawa di panggung SUCI 5, senyummu, lambaian tanganmu, goyanganmu, dan semuanya tentangmu takkan pernah kami lupa.

“Hal ini tidak akan menghentikan langkah saya untuk terus stand up. Stand up adalah ajang dimana kalian bisa mengutarakan kejujuran,  ketika kalian dibatasi, kalian bukan diri kalian yang sebenarnya.” Inilah kalimat perpisahan yang diucapkan Dicky saat cloce mic yang membuat teman-temannya dan juga penonton merasa sedih dan kehilangan.

Ya, tak  ada lagi sapaan “ahaayy” di show selanjutnya yang masih panjang di SUCI 5.

Waktu mendengar ada babak call back saat 7 besar,   pecinta stand up comedy Kompas TV  sudah yakin kalau Dicky bakalan dipanggil untuk ikut, ternyata, lagi-lagi harus kecewa karena si eneng tidak masuk.  Babak call back di show ke 10 SUCI 5 diisi oleh budak sajak si Wira, Kalis sang mafia Hong Kong dan Ayah Rahman dan akhirnya, si mafia Hong Kong berhasil masuk kembali bersama 7 finalis lain yang tersisa dan menjadi 8 besar.

Babak 8 besar saat show 11 yang membahas soal TNI membuat Heri Hore harus tersingkir. Roasting adalah hal yang paling mengasyikkan bagi saya di setiap stand up comedy. Show ke 12, para finalis harus meroasting Agung Hercules. Untuk urusan roasting, memang harus diakui kalau Rigen sangat unggul dibanding finalis lainnya, itulah kenapa saat roasting Agung Hercules, Rigen mendapat nilai tertinggi, tetapi tidak untuk Bari. Bari si anak motor harus close mic malam  itu dan menyisakan 6 finalis lainnya yang masih berjuang di panggung SUCI 5.
  
Setelah Bari, show ke 13 Afif, si anak dari Tanah Abang harus cloce mic. Logat Betawinya Afif ini mengingatkan kita dengan David, juara 1 SUCI 4. Mafia Hong Kong lagi-lagi harus merasakan sakitnya close mic untuk kedua kalinya di show ke 14. Apa boleh buat, inilah kompetisi.


Saya sangat salut dengan Kompas TV karena di SUCI  sesi 5 ini, Kompas TV mau menerima kaum difabel sebagai salah satu finalis, ya, dia adalah Dhani. Jujur, waktu pertama kali lihat Dhani show, saya  trenyuh dibuatnya. Trenyuh dengan stand up-nya Dhani dan juga trenyuh dengan Kompas TV. Selama ini, kaum difabel masih sangat terasingkan di Indonesia dan Dhani membuktikan bahwa kaum difabel, orang cacat juga bisa bersaing dalam sebuah kompetisi dengan orang-orang yang normal. You' re the best,   Stand Up Comedy Kompas TV. 

Dhani, finalis yang luar biasa dari Malang
Dhani bisa membuktikan ke banyak orang bahwa stand up comedy bisa menjadi ajang untuk menyuarakan keresahan yang bisa kita tertawakan bersama di atas panggung. Siapa sangka Dhani bisa melangkah sejauh ini dan masuk menjadi 4 besar bersama Rigen, Rahmet dan Indra. 

Meskipun raganya terbatas, Dhani membuktikan bahwa dirinya bisa melawan orang-orang yang normal. Materinya Dhani yang sering membahas soal kekurangan yang dia miliki dan menertawakan bersama di atas panggung membuat kita lupa dan melihat Dhani adalah orang normal seperti kita, dan bukanlah orang yang memiliki keterbatasan. Dhani menembus 4 besar dan harus close mic di show ke 15 dan menyisakan Rigen, Rahmet dan Indra yang akan bertarung di grand final.

Show 16, panggung SUCI 5 menghadirkan kembali 10 finalis untuk reunion. Senengnya, saya   bisa melihat aksi mereka lagi. Apalagi ada sketsa komedinya yang pasti sangat seru dan hasilnya? Bisa kita lihat sendiri.

Pasangan host yang ahay sekali



Bagimana Dicky dan Wira membawakan acara PARADISE, duuuhhh,  cocok banget, chemistry-nya mereka berdua itu, klop banget dan sangat layak dijadikan pasangan duet untuk jadi host. Feni Rose juga bilang demikian, kan.

“Wira, saya melihat tadi kamu berpasangan sama Dicky itu, iihhhhh, keren banget gitu. Yang satu romantis-romantis jijay, yang satu jijay beneran.” Komentarnya Feni Rose saat Wira usai stand up menghibur kita setelah gagal masuk call back. Tak heran kalau membaca komentar-komentar tentang kedua komika ini, banyak yang meminta untuk menjadikan mereka sebagai pasangan host di Kompas TV.

Ajang reunian ini juga menobatkan Indra sebagai komika persahabatan SUCI 5 dengan perolehan vote terbanyak disusul Dicky. Saya vote Dicky, meski tidak menang, kau tetap di hatiku kok, neng. Stand up-mu tentang ditampol banci saat reunion itu sudah mengobati rasa kangen setelah beberapa Minggu tidak melihatmu di panggung SUCI.

Rahmet, Indra dan Rigen bertarung di grand final
Grand final tiba dan saatnya 3 finalis bertarung untuk memperebutkan juara SUCI 5 Kompas TV.  Melihat Rigen, Rahmet dan Indra di babak grand final, memang terlihat sekali Rigen lebih menguasai panggung dibanding Rahmet dan Indra. Rahmet dan Indra terlihat stres dan seperti tidak siap untuk sebuah ajang di babak final.

Jujur, baru di SUCI 5 ini saya aktif mengikuti setiap show yang ada di Kompas TV, meski lihatnya saat siaran ulang. Meski saya jauh dari tanah air, TV yang saya lihat setiap hari, ya TV Indonesia, Karena apa? Dengan melihat tayangan-tayangan TV Indonesia, saya bisa merasakan kedetakan saya dengan tanah air meski raga saya sedang berjauhan. Kompas TV yang sangat menginspirasi Indonesia karena acara-acaranya yang benar-benar keren dan mendidik. Salah satunya Stand Up Comedy, bisa bikin tertawa dan melupakan segala kegalauan yang ada.

Sekedar saran buat Kompas TV, tolong kalau upload video yang full show ya, biar kita, khususnya fans SUCI di luar negeri tetap bisa melihat lebih jelas lagi setiap aksi finalis SUCI. Seperti SUCI 4, dimana setiap shownya ada video full show-nya. Ditunggu SUCI sesi berikutnya ya dan teruslah menjadi insprasi bagi Indonesia.

Viva La Komtung, Let’s Make Laugh.







You Might Also Like

4 komentar

  1. wuih mantap acaranya ya, semoga dari ajang Stand Up Comedy ini bisa lahir komedian muda berbakat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Para komika sudah banyak yang main film :D
      Ikut stand up itu frofesi yang sangat menjanjikan :D

      Delete
  2. aku udah lama gak nonton SUCI nih mbak, tapi memang stand up comedy bikin saya ngakak pas nonton, ada aja idenya, o iya saya pernah liat pas bagian Dhani, keren ih dia mukanya datar tapi kita yang nonton ketawa2 akibat ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mak, saya mulai suka sejak SUCI 3, SUCI 4 paling keren menurut saya, ada Abdur dari Timur yang kece banget stand upnya

      Delete