Blogger Buruh Migran

Menunggu, Melihat dan Upacara Kematian

3:41 PM



Sabtu, 29 Agustus 2015, untuk pertama kalinya saya menghadiri upacara pembakaran mayat di Hong Kong, almarhum adalah Nenek, orang yang saya jaga hampir 2 tahun ini. 

Sejak masuk rumah sakit akhir Juli lalu, Dokter sudah memberi kode ke anak-anaknya untuk selalu menjaga dan melihat dia, kami diijinkan menjaganya selama 24 jam nonstop di rumah sakit. Hanya pasien dengan kondisi khusus yang diijinkan boleh dijaga selama 24 jam. Lainnya, hanya boleh diijinkan bertemu pasien saat jam besuk saja, siang jam 12 sampai 1.30 dan malam jam 5.30 sampai 8.00

Paru-paru nenek sudah bermasalah sejak masih muda, dia harus dibantu oksigen 2 tahun terakhir ini, saat di rumah, selang oksigen panjangnya sampai bisa mengitari rumah, ke dapur, kamar, dan toilet. 

Nenek sering ngeluh kalau ingin cepat “pergi” biar tidak lagi merasakan sakit dan lelah. Saya selalu tidak tega melihat dia saat habis dari kamar mandi untuk sekedar buang air kecil, begitu keluar dari toilet, nafasnya ngos-ngosan dan harus menunggu beberapa menit untuk stabil kembali. 

Akhir Juli masuk ke rumah sakit dan Nenek menyerah di hari ke 11, tanggal 10 Agutus 2015 malam dia pergi untuk selamanya, alat-alat bantu pernapasan selama seminggu lebih yang dia pakai sudah tak bisa lagi membantu. Saya melihat dengan jelas detik-detik detak jantungnya mulai melemah lalu akhirnya benar-benar tidak berdetak sama sekali :(

Sejak awal saya menjaganya, saya tidak bisa menghitung berapa kali dia keluar masuk rumah sakit, paling lama di rumah sebulan, lalu masuk lagi ke rumah sakit seminggu kadang lebih, lalu pulang ke rumah untuk beberapa minggu lalu masuk rumah sakit lagi, begitu terus. 

Anak Nenek 3 orang, semua perempuan dan majikan saya ini anak Nenek yang paling kecil, sedang 2 lainnya kembar. Anak-anaknya sudah sangat paham kondisi kesehatan Nenek dan sudah siap dengan kemungkinan yang paling buruk jika sewaktu-waktu terjadi.

6 bulan sebelum saya finis, Nenek dan Nyonya berkali-kali tanya ke saya mau nambah kontrak apa tidak, saya jawab kalau “tidak”, saya ingin pulang ke Indonesia, seterusnya. Seolah ingin memastikan dengan pilihan saya, mereka bertanya lagi mau nambah apa tidak dan masih saya jawab tidak.

Mungkin kalian pernah melihat Nenek atau Ibu yang sedang tidur pulas dengan mata terpejam? Dengan wajah yang polos tanpa dosa meski sebelumnya (mungkin) pernah menyakiti hati kalian? Di situlah saya luluh. Suatu sore, saat Nenek sedang tidur, saya lihat wajahnya yang polos dengan kedua lubang hidung dihiasi selang oksigen, tak sengaja air mata saya menetes dan hati saya berkata, “Nek, aku gak tega ninggalin kamu.”

Entah scenario apa yang Allah rancang, jarak beberapa hari, Nyonyah kembali menawari saya untuk menambah kontrak dan gaji saya ditambahi dan saya diberi cuti ke Indonesia. Tawaran itu saya iyakan, bukan, bukan, bukan karena gaji saya ditambahi, tapi lebih ke karena saya tidak tega meninggalkan Nenek dan tidak bisa membayangkan jika Nenek dijaga oleh orang baru, tentu harus mengajari dari awal lagi dan itu tidak mungkin bagi Nenek untuk mengajari orang baru, sedang Nyonya setiap hari harus kerja, tak ada waktu untuk mengajari.

Ternyata lagi-lagi scenario Allah mainkan dengan tanpa bisa diduga siapapun. Allah memilih untuk mengambil Nenek ke pangkuan-Nya  sebelum kontrak baru saya urus dan kontrak lama (saat ini) hampir habis.

Keluarga majikan saya saat ini bisa saya katakan keluarga yang sangat manis dan super baik. Mereka tidak pelit dan sama sekali tidak perhitungan. Urusan pekerjaan pun tidak pernah complain dan rewel dan saya sendiri selalu berusaha untuk jujur apa adanya ke mereka. 

Dari Nenek
Dan, saya tidak tahu sejak kapan Nenek menyiapkan angpau khusus untuk saya ini, sehari sebelum hari pembakaran, Nyonya menyerahkan angpau ke saya, dia bilang itu amanat dari Nenek jika sewaktu-waktu dia pergi, angpau itu harus diserahkan ke saya #Mewek. 

Nek, terima kasih untuk kebersamaan dan kebaikanmu selama ini, semoga Tuhan memberi tempat yang layak. Masih banyak cerita tentang keluargamu yang sebenarnya ingin saya tulis di sini, mungkin belum sekarang, tapi nanti. 

Rest in peace. Damailah di sana. 

You Might Also Like

0 komentar