Ayah Nakal

Ustad Nakal: Belajar dari Kasus Ndut dan Ayah

3:52 PM



Saya terusik untuk ikut menulis soal kasus yang dialami  salah satu teman kita yang disebut “Ndut”, akun Facebooknya bernama Arinih Suwardi yang selama seminggu lebih ini menghiasi lini massa Facebook buruh migran di Hong Kong.

Baca cerita lantujannya di akun Arinih Suwardi


Bagi yang belum tahu, silahkan baca cerita lengkapnya ini. 

Masih banyak yang bertanya soal kebenaran kasus ini dan tak sedikit yang menganggap kasus ini fiktif belaka dan mengada-ada. Tapi setelah membaca curahan hati Mbak Arin (Ndut) sang korban di note yang dia tulis dan mendengar cerita langsung dari orang dekatnya, saya percaya bahwa kasus ini benar adanya dan tidak mengada-ada.

Syahdan, mari kita mencoba memahami bersama, kenapa si korban diam dan seolah membiarkan kasus yang dia alami yang telah menguras tabungannya sebanyak Rp 240 juta tanpa melapor ke pihak berwajib dan memilih bersuara di media sosial?

Sosok “Ayah” atau yang dia panggil “kaka” adalah orang yang dia hormati dan tuakan dan dianggap orang yang bisa dipercaya, tak mungkin kalau soal uang dia akan berbohong. Sebenarnya kalau mau jujur, bukan si korban saja yang menganggap sosok ustad atau kyai seperti “Ayah” demikian,  banyak orang yang akan melakukan hal yang sama, saat diperlakukan oleh orang yang sudah sangat dipercaya tapi ternyata dibohongi, dia memilih diam dan mengiklaskan apa yang sudah terjadi, “biar Allah saja yang membalasnya”, jawaban klise rata-rata korban yang tak mau berurusan panjang.


Ustad tidak pernah salah
Kalau salah, lihat lagi kalimat di atas 


Ya begitulah kira-kira perumpamaan untuk mengambarkan sosok Ustad di mata umat.

Kalau Anda bertanya, apakah kasusnya sudah dilaporkan? Jawabannya BELUM. Kenapa belum? Jawabannya karena korban merasa sungkan dan takut meski rasa kecewanya sangat besar karena kepercayaan yang dia berikan kepada si Ayah sudah terkoyak.

Lalu, sebagai sesama buruh migran, apa yang harus kita lakukan? Mari bersama, kita menguatkan Ndut untuk kuat dan berani melaporkan Ayah ke pihak yang berwajib dan mengajak semua korban-korban lain untuk ikut bersuara. Karena semakin lama kasus ini  terpampang di media sosial tanpa dilaporkan, maka si Ayah akan berada di atas angin dan akan terus mencari pembelaan, salah satunya mengatakan bahwa ini adalah fitnah (seperti yang ditulis salah satu Koran berbahasa Indonesia di Hong Kong).

Saya dan mungkin banyak teman-teman lain paham, apa yang sudah teman-teman suarakan di media sosial akan sia-sia jika yang bersangkutan, dalam hal ini adalah Ndut (dan korban lainnya) tidak mau melaporkan, kasus ini pasti akan tenggelam begitu saja dan tidak menutup kemungkinan korban lain tetap berjatuhan, meski “si korban” tidak merasa menjadi korban pemerasan atau kebohongan.

Saya sendiri sebenarnya sudah lama merasakan keprihatikan atas isu-isu seperti ini yang sudah lama sering saya dengar. Banyak yang memanfaatkan buruh migran Hong Kong untuk ladang mencari pemasukan dengan jalan yang kebetulan disukai buruh migran, tetapi tanpa kita sadari sebenarnya kita hanya dimanfaatkan oleh mereka.

Saya tidak menuduh semua Ustad yang masuk ke Hong Kong demikian, tetapi cobalah sedikit saja membuka hati, jangan tertutup oleh tiupan ceramah “surga dan neraka” jika manusia tidak beramal semasa hidupnya maka dia akan bla, bla, bla dan alasan lainnya (maaf jika ada yang tersinggung).

Kasus yang dialami Ndut adalah pelajaran buat kita semua, jangan terlalu terlena dengan orang yang bergelar Ustad  atau orang terpandang dan kita anggap jauh lebih tinggi dari status kita saat ini (sebagai PRT).

Seorang pemuka agama (kalau dia benar-benar ingin menebar kebaikan dan kebenaran) tidak mungkin berbohong apalagi menipu kita, tidak akan punya niat sedikitpun memanfaatkan kita dengan dalih membantu.

Orang yang baik dan tidak ingin merugikan orang lain, apalagi dia seorang Ustad, tidak akan melakukan denda Rp 150.000 perhari jika dia telat membayar. Kalau pun benar harus bayar denda, harusnya masalah ini dibicarakan sejak awal agar tidak ada yang dirugikan.

Kasus ini juga menarik karena akun-akun yang terus bersuara dan mengangkat kasus AYAH vs NDUT ikut menjadi korban, tidak bisa diakses si pemilik karena dilaporkan ke Facebook oleh “pasukan” yang menganggap dirinya difitnah.

Semoga Mbak Arin segera bisa mengambil langkah selanjutkan. Kalau Mbak Arin punya niat sungguh-sungguh agar tidak ada lagi Arin-arin setelah kasus ini, banyak yang mendukung Mbak Arin untuk segera menempuh jalur hukum, melaporkan “Ayah” yang sudah merugikan mbak Arin, berharap korban lain bisa bergandengan tangan dan mengungkap kasus ini bersama-sama agar menjadi pelajaran untuk semua Ustad atau pemuka agama atau orang-orang yang selama ini keluar masuk Hong Kong dengan tujuan untuk mencari keuntungan pribadi dengan memanfaatkan buruh migran.

Mbak Arin, duit Rp 240 tidak sedikit, perlu bertahun-tahun, mungkin puluhan tahun jika kita mencarinya di tanah air, tetapi uang segitu lenyap begitu saja oleh orang yang selama ini dianggap “alim” dan tidak mungkin berbuat salah.

Mungkin saat ini si “Ayah” sedang ongkang-ongkang dan dalam hati berkata, “laporin aja kalau berani”. Bola di tangan Mbak Arin, mau melaporkan si “Ayah” agar tidak ada korban yang lebih banyak lagi, atau Mbak Arin memilih mengiklaskan saja tetapi akan ada Arin-arin lainnya yang menyusul dan bernasib sama dengan Mbak Arin.

Buruh migran di Hong Kong terkenal dengan solidaritasnya yang sangat tinggi, satu disakiti maka yang lain akan merasakan kesakitan yang sama, mari kita mengingat dan belajar dari kasus Erwiana.

Kasus Ndut pun demikian, kasus ini bisa menjadi pelajaran kita semuanya di Negara rantau untuk tidak menaruh kepercayaan berlebihan kepada orang dengan penampilan tertentu. Jangan simpan masalah sendiri, ceritalah, berbagilah kepada orang lain yang menurutmu bisa dipercaya dan bisa dijadikan tempat curhat.

Selagi kita bisa melawan, jangan terlalu nerimo oleh keadaan.



You Might Also Like

10 komentar

  1. Duh, macam2 saja modus orang jahat itu ya. Berkedok ustad untuk memeras BMI

    Semoga yang bersangkutan Mba Ndut dkk segera diberikan jalan keluar dan si ustad itu segera dapat imbalan dari apa yang sudah dilakukannya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin bukan cuma HK aja, teh.
      Bisa jadi negara penempatan lain juga ada kasus kayak gini.
      Iya semoga tidak ada lagi kasus serupa, kasian si korban.

      Delete
  2. Duuuuh, geregetan klo baca ttg penipuan.
    Semoga masalahnya cepet kelar, semoga duitnya Mbak Ndut cepet balik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hari ini dilaporkan, om.
      Semoga si ayah gak berkelit dari tanggungjawab

      Delete
  3. Ya Alloh kasihan bggttt.....moga cepat sadar ayahny...dan smga bisa jd pembelajaran yg lain...hati hati

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiinn, semoga gak lagi ayah atau ndut lain

      Delete
  4. Gimana perkembangan kasus ini sekarang Fer?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah ditangani pihak berwajib, korban dibantu LBH Jakarta

      Delete