gebetan

Surat Untuk Sinna Hermanto: Kapan Nikah?

10:46 PM




Hai, kakak orang Korea (Kota Reog Asli), semoga kau baik-baik di sana dan sedang tidak bersandar di bahu jalan, karena bahuku masih ada di sini untukmu, untuk sebulanan ke depan. Maaf sengaja ngasih judul yang sama, kak. Biar imbang. 

Begini lo, kak. Saya kan sudah bilang, soal samsak itu nganu, kak, ahsyudahlah, ndak usah dibahas lagi. Saya sudah baikan kok, dan jadi terbiasa digituin, makin kebal, kak.  Ya meskipun saya ini kayak orang ketiga yang selalu saja disalahin, hiks.

Kak, umur kakak ini kan masih 17 tahun, to? Meski ada sisanya yang sedang jalan, jadi sebenarnya untuk urusan menikah itu sebaiknya menunggu takdir saja, tak perlu nggoyo untuk mengejar, kalau perlu biarkan saja, kayak kenangan-kenangan dengan para mantan itu lo, kak.

Kalau pun nanti ketemu mas-mas yang siap memberi emas-emas seberapa pun yang kakak minta dan sekiranya bisa menuntun ke jalan syariah yang kakak idamkan, bisa jadi pertimbangan kok, kak. Mau menerima atau menolak. Ingat kata si Bapak itu, ndak? punya mantan cuma satu itu rugi lo sebenarnya, harusnya kan bisa sepuluh.  

Lalu, pertanyaan kakak soal kapan saya nikah? Sebenarnya saya sudah tanya sama yang menyediakan jodoh untuk saya, setiap detik malah, kak, tapi belum dijawab sampai sekarang. Seperti kata kakak, mungkin dia saat ini sedang mampir ke hatinya dedek-dedek gemesin sebelum akhirnya hinggap ke saya yang lebih gemesin ini.

Ini musim pancaroba kak, musim peralihan dari panas ke dingin  yang harus kita lewati, lumayan sulit lo, kak, meski tak sesulit peralihan rindumu ke mantanmu lewat alunan Al-Kahfi seperti suara Syeikh Mishari Al-Afasy yang kau ceritakan  di saat pagi di sela-sela minum kopi.

Kak, jaga kesehatan ya, saya juga sangat rela ngingetin kakak untuk hal ini karena saya tahu, kesehatan itu kunci untuk bertahan dari segala cobaan, baik itu cobaan susahnya melupakan mantan, maupun cobaan om-om yang semangat mbribik dari segala penjuru mata angin, dan terlebih lagi cobaan melihat dia bahagia bersama yang lain.


Kak, ini bulan berat untuk saya, karena sebentar lagi hidup baru harus saya mulai. Bukan, kak, bukan hidup baru membangun rumah (tangga),  you know what I mean lah, kak. Saya tidak akan membangun rumah sebelum menemukan bahu untuk bersandar sekaligus bisa ngepuk-puk saya sambil bilang, “sudah, ndak papa” saat saya lagi galau menghadapi beratnya tugas-tugas Negara yang kadang nauzubillah itu.

Oh iya,  saya masih terus menagih kepulanganmu, di mana kita akan mengitari kota-kota yang telah tertulis di diary pink itu. Sementara cukup Jawa dulu, siapa tahu lain waktu bisa  menambah kota lain atau bahkan Negara lain.

Tiap kali bertemu denganmu, yang selalu saya ingat adalah “The power of kepepet”mu yang sejak tahun 2011 atau mungkin sebelumnya sudah menjadi senjatamu.

Iya saya paham, kakak menggunakan power itu bukan untuk menghitung “kembalian” dari apa yang sudah kakak “keluarkan”, beda kayak saya, mengeluarkan ini, harus dapat kembalian ini dalam jangka waktu segini. Paham to maksud saya, kak?

Tugas Negara kita masih panjang, kak, saya malah lebih panjang dari kakak karena kakak sudah berjuang duluan sebelum akhirnya saya ikutan nyemplung untuk berjuang di tugas yang sama.

Saya ndak nyesel kok, meski kadang kakak, sering malah, menularkan rasa malas ke saya lewat rayuan sajak-sajak mirip komika  dari Purwokerto yang berjenggot itu. Lalu akhirnya kita sama-sama mengeluh, “seandainya ada bahu untuk bersandar.” Huff

Oh iya, kak, tadi saya lihat IG si Dzawin sedang berpuisi di ketinggian entah berapa meter, dia lagi mendaki, bagus puisinya, kak, sayangnya bukan untuk saya, apalagi untuk kakak, puisinya untuk ceweknya sendiri, kak. Kalau sudah begini, ingin rasanya saya bersandar di bus yang sedang berjalan saja.

Bener kata Radit, jomblo tak dapat ditukar, gebetan tak dapat diraih. Tapi saya masih percaya, kak,  bahwa jodoh suatu saat pasti akan hadir, untuk saya, untuk kakak, dan untuk para jomblo yang saat ini sedang merasakan kegalauan tentang keberadaan si jantung hati yang entah sedang menancap di mana saat ini.

Saya sudahi surat ini sampai di sini, kak. Maaf kalau tak seindah isi suratmu. Yang pasti, meski jarak memisahkan kita nanti, kau tetap menjadi sahabat sejati. Saya selalu ingat kata-katamu, kak, indahnya persahabatan itu saat tak ada konflik keuangan yang menyertai. Tapi kalau sekali-kali ada acara traktiran boleh lah, kak.


Jangan ada baper di antara kita

Regards

Fera Nuraini


You Might Also Like

13 komentar

  1. hahahhaa sesama jomblo harus saling support

    ReplyDelete
  2. ketika cinta yang hadir bukan untuk kita,kadang kita merajuk,seperti anak kecil.
    Tapi,cinta hakiki selalu ada untukkita,dengan sengaja kita melupakannya.
    percayalah cintamu akan bersandar di hati yang tepat dan di waktu yang tepat.


    salam damai dari sesama jomblo mbak Fera

    ReplyDelete
    Replies
    1. walaah, jomblo juga to :D
      sini ngumpul hahahahahahahaha

      Delete
  3. ngebayangin ngelendot di bus yang lagi jalan....

    ReplyDelete
  4. :-D

    Jadi terharu bacanya..

    Eh... jomblo.. aq ora popo.. :-D

    ReplyDelete