Istana Negara

Bertemu Presiden Bukanlah Mimpi

9:38 AM

Wajah sumringah bareng Presiden



Bertemu Presiden? Siapa yang tidak mau?

Sejak Jum’at, 11 Desember 2014, saya sudah melihat status seliweran  soal adanya Kompasianer yang diundang untuk bertemu Presiden di Istana Negara. Awalnya saya tidak ngeh, soalnya sejak awal, Pak Presiden dijadwalkan akan menghadiri acara pembukaan Kompasianival di Piazza Gandaria City. Karena kesehatan sedikit terganggu, jadilah 100 Kompasianer yang diboyong ke Istana untuk bertemu Presiden.  

Saya memang sudah mengagendakan untuk datang ke acara Kompasianival tahun ini, ingin bertemu kembali dengan para Kompasianer meski sudah lama tidak nulis di Kompasiana.

Sejak awal saat ditanya, “ke Jakarta mau ngapain?”, dengan santai saya jawab “mau ketemu Pak Jokowi.”  Jawaban yang awalnya guyon itu ternyata menjadi kenyataan.

Dari Ponorogo hari Kamis pagi, naik kereta jam 10 dari Madiun dan sampai di Jakarta  jam 11 malam. Terima kasih untuk sahabat baik saya yang sudah meluangkan waktu menjemput dan memberi tempat tinggal untuk saya.

Jum’at sore saya pindah ke tempat saudara setelah sebelumnya mampir di kantor seorang sahabat yang pernah bertemu di Hong Kong. Jam 9 malam hape saya isi batrei lalu beranjak tidur, meski sangat terganggu dengan banyaknya nyamuk dan cuaca panas Jakarta,

Jam 00.20 saya bangun dan ngecek hape, lumayan kaget karena tidak biasanya saya kebanjiran inbok sebanyak itu. Isinya rata-rata meminta nomer hape, “mau diajak  makan siang sama Presiden”, begitu rata-rata isinya.

Langsung yang saya jawab paling duluan adalah inbok dari Mas Nurul (admin K), saya tanya ada apa, lalu dibalas permintaan maaf, awalnya mau ngajak untuk ikut ke Istana, tapi karena sudah ngirim daftar nama-nama ke pihak istana, jadilah nama saya tidak dimasukkan karena saya balasnya lama.

Yaa, meski ada rasa nyesel, kenapa tadi mengabaikan hape. Meskipun begitu, saya tidak kecewa tidak diajak bertemu Presiden, mungkin belum rejeki, pikir saya. Lalu saya tidur lagi sambil membayangkan  jika saya benar-benar bertemu Presiden dan diberi kesempatan untuk menyampaikan unek-unek di depan Presiden.

Unek-unek yang akan saya sampaikan ke Presiden adalah soal pelayanan KJRI Hong Kong yang masih begitu-begitu saja, tidak ada perbaikan berarti dari waktu ke waktu. Kemudian saya benar-benar tidur dan melupakan pertemuan dengan Presiden.

Sabtu, 12 Desember 2015 jam 5 pagi saya bangun, sholat dan melihat Facebook. Wuiihh, isinya rata-rata status soal persiapan bertemu Presiden, khususnya mbahas soal kostum, ya batiklah, sepatu, celana, sampai makanan.

Saya pun nyetatus soal batalnya saya bertemu Presiden karena telat bales inbok dari teman-teman dan nitip  pesan buat yang mau bertemu Presiden, tolong untuk lebih perhatian lagi sama buruh migran di luar negeri dan tingkatkan pelayanan KJRI/ KBRI di luar negeri.

Saat enak-enaknya ngobrol sama saudara, Sabtu pagi, sekitar jam 7.30 Mas Nurul telpon. Untung hape sedang saya pangku, kalau tidak, mungkin saya batal beneran ke Istana karena hape saya silent dan tanpa getar plus NOL pulsa.

Mas Nurul mengabarkan kalau masih ada kursi kosong, mau nggak, siap gak kalau ke Istana Negara, saya langsung jawab SIAP. “Jam 09.30 usahakan sampai Gancit ya, mbak.” Pesannya.

“OK, Mas. Siap” untung sudah mandi :D

Jadilah saudara bantuin bongkar lemarinya, nyari baju batik yang cocok di badan saya dan untungnya ada yang muat. Tapi, ada tapinya ni, baju batik yang saya pakai itu kancing bajunya pada lepas, hanya tersisa dua kancing saja itupun sudah hampir lepas. Sebagai gantinya, terpaksa peniti dijadikan alat penolong karena untuk masang kancing baru sangat tidak mungkin.

Sarapan, nyetrika, ganti baju, dandan lalu pesan gojek, tidak ada waktu satu jam saya akhirnya berangkat menuju ke Gandaria City dengan isi kepala yang sudah beda dengan malam sebelumnya.


Sepanjang perjalanan dengan gojek, pikiran saya sudah melanglang kemana-kemana, antara percaya dan tidak akhirnya akan bisa bertemu dengan orang nomor satu negeri ini. Saya pun belum mengabari orang tua karena belum ada pulsa :D.

Sabtu pagi yang macet, untung abang gojeknya bisa nyari jalan pintas, meski agak jauh, tapi lumayan tidak macet dan jalanan lancar. Satu jam naik motor dengan memakai rok ternyata capek juga, tapi capek hilang setelah sampai di depan gedung Gandaria City lalu akhirnya bisa bertemu para Kompasianer yang sudah memegang kartu undangan. Lalu saya mencari Mas Nurul, absen, dapat undangan dan bergabung dengan yang lain.

Maaakkkk, anakmu mau ketemu Presiden.


Bersambung.

You Might Also Like

4 komentar

  1. kalimat terakhirnya, "Maak anakmu mau presiden.." ?? hehehe

    ReplyDelete
  2. luar biasa, prestasi yang membanggakan untuk pemuda Indonesia, khususnya Ponorogo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe, makasih Kang Pardi, semoga Blogger2 Ponorogo diundang ke Istana

      Delete