Blogger ke Istana Negara

Era Jokowi, Istana Negara Milik Kita Semua

10:32 AM

Pengalaman langka



Sudah ada dua bus menunggu di depan Gandaria City yang akan membawa kami ke Istana Negara, satu per satu kami naik ke dalam bus, duduk manis di selingi tawa dari para Kompasianer, ada yang berkenalan satu sama lain karena baru pertama bertemu.

Setelah di absen satu per satu, bus mulai berjalan, Mas Isjet selaku admin Kompasiana memberi penjelasan kepada kami tentang aturan-aturan protokoler di Istana, salah satunya tidak boleh membawa tas, hape dan kamera masuk ke dalam Istana. Saya rasa semua Kompasianer sudah sangat paham soal aturan ini, meski ada rasa kecewa. Tapi bisa bertemu dengan Presiden langsung, itu sudah hal yang luar biasa, apalagi bagi orang biasa.

Bus berjalan pelan merayap di Sabtu pagi menjelang siang di jalanan Ibu Kota. Setelah sampai di depan Istana, turun bus dan melewati pintu detector pertama, kami mengeluarkan gadget masing-masing. Yihaaaaa, aksi narsis pun tak terbendung, foto dengan berbagai gaya dimulai, termasuk saya, mengeluarkan tongsis, sengaja bawa untuk narsis bareng dengan Kompasianer.

Aksi foto di depan Istana selesai lalu kami diarahkan ke pintu masuk, di sinilah kami harus meninggalkan tas dan gadget, masuk ke Istana hanya membawa undangan saja.

Awalnya saya mengira Istana itu seram, penjagaan sangat ketat, ternyata tidak. Suasanannya sangat santai, Paspampres yang berjaga mengenakan baju batik  namun tetap terlihat gagah dan selalu siaga.

Saya harus sesering mungkin melihat kancing baju batik saya yang hanya berpeniti karena kancingnya banyak yang lepas, saya tidak ingin kecolongan, baju saya terbuka  tanpa saya sadari karena terlalu gembira dengan suasana Istana.

Saat kemudian kami semua diminta berdiri karena Presiden memasuki Istana, mulailah perasaan deg-degan itu muncul, seperti melihat sesuatu yang langka di depan mata. Dan memang langka, melihat Presiden langsung adalah hal langka bagi rakyat Indonesia, tetapi era sudah berubah. Sejak  Presiden berganti, Istana Negara menjadi rumah yang sangat bersahabat bagi rakyat dari golongan apapun.

Sopir, guru, petani, pedagang, Blogger, buruh migran, dan masih banyak lagi orang dari berbagai latar belakang telah merasakan suasana Istana Negara berkat undangan dari Presiden.

Saya melihat wajah Presiden yang masih terlihat sedikit pucat, namun senyum selalu mengembang, bahasa tubuh yang tak berjarak dengan rakyat.  Saat sesi dialog, tak lupa Presiden Jokowi mencacat poin-poin penting usulan, masukan, dan une-unek yang disampaikan oleh Kompasianer yang ditunjuk untuk maju ke depan.

Saat Presiden membahas unek-unek saya soal pelayanan KJRI Hong Kong yang masih buruk, di situ saya merasa bahwa Presiden benar-benar sungguh-sungguh ingin memperbaiki sistem birokrasi yang sudah puluhan tahun tidak ada perubahan.

“Tidak mudah mengubah sistem, apalagi sudah puluhan tahun, tetapi kita  harus optimis bahwa kita bisa.”

Saya melihat wajah optimis dari semua punghuni Istana saat mendengar pemaparan Presiden soal banyak sekali Negara-negara lain yang kagum dengan Indonesia. Kita adalah Negara yang besar, tidak mudah mengatur 250 juta orang dengan berbagai warna perbedaan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.

Di tengah pro kontra, suka dan tidak suka, mendengar pemaparan Presiden yang begitu runut dan rapi, diselingi guyonan khasnya, saya optimis bahwa perubahan  lebih baik untuk Indonesia pasti ada.

Setelah sesi dialog usai, acara foto bersama menjadi penutup. Kami foto per-meja yang setiap meja terdiri dari 5-6 orang. Setelah antri dan menunggu giliran untuk foto, beberapa Kompasianer  membawa undangan untuk ditandatangani oleh Presiden dan permintaan itu dituruti oleh Presiden.

Jadilah banyak sekali Kompasianer lain ikutan berdesakan mendekati Presiden dan menyodorkan undangannya untuk ditandatangani. Di situ saya semakin trenyuh melihatnya, tidak ada penolakan sedikit pun dari Presiden, kecuali Paspampres yang berusahan mencegah kami demi keamanan Presiden.

Dengan berdiri membungkuk, Presiden melayani pemintaan untuk tandatangan, karena terlalu banyak,  akhirnya kami diminta mengumpulkan undangan tetapi tidak janji undangan itu akan dikembalikan kepada kami.

Saya salah satu yang ikut mengumpulkan undangan dan optimis bahwa undangan saya akan kembali dengan tandatangan Presiden di atasnya. Dan yaaaaaa, rasa optimis saya terjawab tiga hari setelah pertemuan. Presiden benar-benar menandatangani undangan kami dan sudah terkumpul semua di Kantor Kompas.

Pak Jokowi, semoga selalu sehat ya, Pak dan bisa terus menebar kebaikan bagi negeri ini. Kritik dan saran tetap dibutuhkan, tapi marilah kita menjauhi rasa pesimis apalagi selalu menebar kebencian dan fitnah.


Tulisan soal Istana Negara sepertinya belum berakhir, nunggu waktu senggang nanti saya tulis lagi :D

You Might Also Like

5 komentar

  1. Nggak sabar menunggu lanjutannya Fera, soalnya saya nggak kebagian seat ke istana :-(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikut senang mbak Fera, pengalaman langka karena punya presiden yang rendah hati dan merakyat :)

      Ditunggu cerita selanjutnya :)

      Delete
    2. Makasih mbak Key, semoga mbak Key bisa masuk ke istana juga

      Delete