Gatot Instan TKW Hong Kong

Mencari Ide Usaha Sama Susahnya Seperti Mencari Jodoh

3:22 PM

Minat sila WA 0812 5201 9191


Saya pulang ke Indonesia pada November 2015 setelah menyelesaikan kontrak di majikan ketiga saya. Itu pun karena Bobo (nenek) yang saya jaga meninggal dunia, kalau Bobo masih ada, kemungkinan besar saya masih bekerja di Hong Kong entah sampai kapan karena saya, Bobo dan Nyonya sudah sepakat untuk memperpanjang kontrak dengan tawaran gaji lebih tinggi dari sebelumnya.

Jujur, sebenarnya saya ingin pulang setelah finis, tapi melihat kondisi Bobo, saya luluh dan akhirnya memutuskan nambah kontrak. Tapi takdir berkata lain, 4 bulan sebelum finis, Bobo pergi untuk selamanya. RIP, Bobo.

Memutuskan pulang ke Indonesia ternyata jauh lebih sulit ketimbang memutuskan berangkat pergi bekerja ke luar negeri. Ini yang saya rasakan dan mungkin juga dirasakan oleh banyak kawan-kawan migran di luar sana.

Mau ngapain setelah di kampung?

Mau buka usaha apa?

Kalau bosen gimana?

Menikah, tapi sama siapa? Maklum lagi jomblo dan gak ada tujuan sama sekali.

Tapi saya niati bissmilah pulang ke kampung meski pikiran kosong tak ada tujuan mau bikin usaha apa agar kantong tetap terisi tanpa menguras mesin ATM.

Setelah di kampung, istrirahat beberapa hari, akhirnya kaki saya angkat untuk menjelajah kota lain dan entah berapa kota yang sempat saya kunjungi hanya untuk mencari sebuah ide usaha.

Saya pernah ke Balikpapan, tujuan awal adalah mengajak Emak mengunjungi makam leluhur sekaligus jalan-jalan dan sekalian putar otak kali aja ada celah yang bisa saya temukan untuk sebuah usaha kecil yang cocok dengan tangan saya.

Dari November 2015 sampai Juli 2016 ternyata hasilnya NIHIL. Saya tidak menemukan apa-apa. Rentang waktu itu ada masa puasa, kebetulan ada teman yang sudah seperti mbak saya sendiri jualan kue lebaran, iseng-iseng saya bantu jualan, promosi di Facebook, eh tak taunya responnya cukup memuaskan. Target awal yang dipasang malah melebihi, saya senang, saya gembira, ternyata jualan online asyik juga.

Tapi setelah lebaran berlalu mau ngapain? Mau jualan apa lagi? Bingung, lagi-lagi kembali bingung mau ngapain.

Sebenarnya banyak masukan dari kawan-kawan, nyuruh buka laundry yang dekat dengan jalan raya, buka warung di rumah, jualan baju online dan lainnya. Semua saya pertimbangkan dan saya akhirnya memilih untuk tidak menjalankan, ya karena tidak cocok dan pertimbangan lainnya.

Pernah juga ingin bikin peternakan kambing, kebetulan belakang rumah ada dua kandang kosong tak terpakai, tapi setelah rembukan dengan orang tua, mereka kurang srek dengan ide saya, ya sudah akhirnya saya skip dan tutup keinginan tersebut.

Ada juga teman yang ngasih saran agar saya ke Jakarta saja, hidup di sana, nyari kerja di sana sambil gabung di LSM. Duh, niat awal saya pulang kampung ini ingin usaha di kampung sendiri, masa lagi-lagi harus pergi dari kampung, cari kerjaan lagi, apa bedanya dengan di Hong Kong? Saya abaikan saran ini.

Tiap hari saya berdoa agar diberi ide usaha apa yang cocok dengan saya, sampai saya nangis-nangis dan itu hampir saya lakukan setiap habis sholat. Saya percaya Allah mendengar setiap rintihan hamba-Nya dan pasti akan memberi yang terbaik. Meski entah kapan datangnya.

Yang saya rasakan, ternyata nyari jodoh dan nyari ide usaha yang cocok itu sama sulitnya, hmmmm. Doa saya untuk sebuah ide usaha ini malah saya prioritaskan ketimbang soal jodoh. Ya karena soal jodoh, saya sudah lelah menunggu, bahkan dalam taraf sudah PASRAH. Se-ngasih-nya aja, meski entah kapan dia akan dituntun untuk mendekati saya. Saat itu yang lebih penting adalah saya punya kerjaan yang menghasilkan dan bisa saya jalankan di rumah.

Akhir Agustus 2016, berkat obrolan ringan sambil ngopi dengan seorang kawan, saya dikasih tahu kalau tetangganya jualan tiwul instan dan gatot. Matur suwun ya Kang Samsoe, percobaan sebungkus itu akhirnya berlanjut sampai sekarang.

Akhirnya saya minta contoh masing-masing satu bungkus, saya foto lalu saya promosikan di Facebook. Tak menunggu lama ternyata ada yang japri, memesan makanan tersebut, jadilah semangat itu muncul. Saya melayani pesanan ini dengan mengambil barang milik orang. Saya bungkus lalu saya kirim, setelah transferan masuk tentunya :D

Tak perlu menuggu berminggu atau berbulan-bulan, saya pikir-pikir kalau saya ambil punya orang, untungnya tidak seberapa, hanya habis untuk wira-wiri transpot. Karena jarak rumah saya dengan tempat ambil barang tersebut lumayan jauh, motoran kurang lebih 20-30 menit.

Akhirnya saya rembukan sama Emak, gimana kalau bikin tiwul sendiri, nyari tepung dan dimasak sendiri. Emak setuju dan siap membantu, ya sudah, pergi ke pasar, nyari tepung ketela (glepung) dan diproses sendiri.

Waktu awal saya mulai bikin tiwul sendiri ini cuaca masih sangat mendukung. Jemur dari pagi, sorenya sudah kering, meski begitu tetap saya jemur dua hari agar kering bisa maksimal dan tahan lama. Kendala paling utama adalah soal cuaca, pernah sebulan lebih saya tidak produksi karena tiap hari hujan, ini saya anggap bonus untuk istirahat, meski pesanan alhamdullilah selalu ada tapi stok tidak bisa terpenuhi.

Awal-awal pengemasan saya masih mengalami kesulitan menggunakan sealer (perekat plastik). Ada beberapa pembeli yang menerima kiriman dengan kemasan plastik bolong. Ini saya jadikan bahan pembelajaran, saya harus lebih teliti lagi soal pengaturan suhu panas dan pengepakan.

Saya tidak mau merugikan pembeli meski kelihatannya sepele. Saya tanya ke teman-teman yang sering menggunakan sealer, lalu diberi saran kalau sebaiknya begini dan begitu. Intinya dalam menjalankan usaha sekecil apapun, jangan malu untuk bertanya dan jangan marah jika dikasih masukan.

Pernah lo saya membuang tiwul karena faktor cuaca jadinya rusak.
Rugi? Tentunya.
Menyesal? Tidak

Dari hal ini saya dapat ilmu baru, kalau tiwul cuma mendapat panas sebentar harusnya dimasukkan kulkas biar aman. Atau kalau dari pagi cuaca tidak mendukung sebaiknya berhenti produksi. Gagal dan rugi saya anggap bagian dari usaha, tanpa itu, sebuah bisnis tidak akan berwarna.

Gagal, sebuah kata yang sering membuat ciut duluan sebelum mencoba. Saya sering membaca kalimat bahwa “takut mencoba itu sudah dihitung gagal.” Kalau tidak pernah mencoba, bagaimana kita bisa tahu nanti akan berhasil apa tidak. Jadi coba dulu dan nikmati setiap prosesnya. Jangan malu bertanya dan meminta masukan ke orang sekitar.

Curhat ini sepertinya akan berlanjut, kalau saya teruskan telalu panjang. Besok lagi ya.



You Might Also Like

2 komentar

  1. Tulisan yang mencerahkan sekali, Mba Ve.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lagi belajar ini mbak Dewi :D
      Suwun sudah mampir

      Delete