HSG Tiup Rahim

Pejuang Garis Dua (1)

1:13 PM






Pertanyaan paling sering saat masih sendirian sedang umur sudah dibilang mapan adalah “kapan nikah?”

Dan pertanyaan setelah menikah tapi lama belum dapat momongan adalah “kapan hamil/kapan punya anak?”

Menikah lalu punya anak adalah dambaan kebanyakan manusia di bumi ini. Ada  sebagian manusia yang tidak ingin menikah dan punya anak karena ingin hidup bebas dan menikmati kesendirian.

Pertanyaannya, jodoh dan anak punya siapa? Jawabannya adalah punya Tuhan.

Lalu, saat manusia masih dijauhkan sama jodoh, siapa yang disalahkan?

Saat sudah menikah dan belum diberi momongan, apa perlu mencecar mereka dengan pertanyaan menyakitkan?

Kenapa kok gak hamil-hamil?
Kenapa kok belum punya anak?
Temenmu sudah gendong bayi semua, kamu kapan?
Bisa bikin gak sih?

Dan sederet pertanyaan lain yang seolah meng-hakim-i bahwa pasangan sudah menikah dan lama belum dapat momongan layak dipertanyakan kesuburannya.

Anggap saja saya sedang curhat (lah emang iya mau curhat) tentang kondisi saya dan suami saat menghadapi pertanyaan sejenis yang alhamdullilah untungnya  sudah kebal di telinga dan perasaan kami. 

Kami menikah September 2017 dan sama sekali tidak ingin menunda kehamilan, kalau bisa segera hamil dan memiliki anak. Siapa sih yang tidak ingin mengendong anak yang lucu menggemaskan?

Teman atau tetangga yang menikah setelah kami rata-rata langsung dikaruniai buah hati. Menikah bulan ini, bulan depan langsung isi, ada yang jarak 4 bulan atau 5 bulan kemudian isi. Bahkan ada yang belum nikah tapi isi duluan pun ada #Plak

Saya? Sepertinya harus menunggu dengan sabar.

Ya itulah Maha Asyiknya Tuhan. Saya percaya hanya Dia yang paling tahu kesiapan umat-Nya. Bukan tetangga, teman atau kaum lambe turah.

Memiliki anak setelah menikah bukan arena balapan. Belum menikah di saat yang lain sudah memiliki gandengan juga bukan ajang lomba. Tetapi niat dan keinginan kami memang sudah sangat ingin memiliki momongan. Saya juga mempertimbangkan umur yang sudah tidak muda lagi. Ya meski banyak yang menganggap umur saya masih 28 tahun.

Bulan berganti, tanda kehamilan pun belum juga menghampiri. Beberapa kali kena PHP dengan hadirnya tamu bulanan yang telat dari biasanya. Molor 3 hari kadang sampai 5 hari dan itu membuat saya dan suami berbunga meski pun harus kecewa karena tiba-tiba si merah datang tanpa rasa berdosa.

Ya Tuhan, sabar ini semoga tidak akan ada batasnya.

Saya pernah mengikuti saran hasil dari gooling untuk minum Folavit,  Ever E dan Prenagen Esensis, hasilnya masih nihil, Habis susu 5 kotak  hasilnya BB saya yang nambah. Akhirnya saya stop semua.

Februari 2018 (pernikahan 5 bulan) untuk pertama kalinya saya konsultasi ke Dokter (B) kandungan di Ponorogo. Ini setelah minta pertimbangan beberapa teman yang sudah pernah melakukan hal sama. Waktu diperiksa, kandungan saya hasilnya bagus tidak ada masalah. Dokter menyarankan untuk perbanyak makan sayur dan  suami diminta untuk stop merokok. Jika memungkinkan bisa cek sperma, tapi sebaiknya jangan dulu, karena pernikahan kami belum setahun.

Waktu saya tanya, boleh gak minum kopi? Jawaban Dokter kopi gak masalah. Saya diberi vitamin  untuk diminum selama satu bulan.

Bulan berikutnya ternyata M datang lagi. Saya masih semangat untuk program dengan cara lain, salah satunya pijit ke dukun peranakan. Menurut tetangga yang sudah pernah pijit ke dukun ini banyak yang cocok dan berhasil hamil setelah dipijit dua kali atau tiga kali.

Bissmilah saya pijit setiap M hari ke 5 atau 6. Selama 3 bulan berturut-turut dan ternyata hasilnya masih kosong. Karena mendekati puasa, saya memutuskan untuk stop pijit. Konsentrasi jualan kue lebaran dan menenangkan pikiran. Ya siapa tahu saja kalau tidak memikirkan soal kehamilan rejeki itu akan datang dengan sendirinya.

Tentunya kami tetap berdoa agar keinginan kami segera dikasih. Lebaran 2018 adalah lebaran pertama yang kami rasakan sebagai pasangan suami istri. Dan bisa diduga, saat berkunjung ke sanak family, pertanyaan “sudah hamil belum” mengiringi sepanjang silaturahmi kami.

Sedih? Kami berusaha untuk tetap tenang. Menjawab seperlunya meski perasaan kami penuh luka.

Kami berusaha positif thinking bahwa yang menikah lebih lama dari kami dan belum diberi amanah anak ada banyak dan yang lebih sering mendapatkan pertanyaan seperti itu dari kami juga sangat banyak. Kami tidak sendirian.


Setelah lebaran berlalu, bissmilah kami mulai program lagi. Saya kembali ke dukun peranakan yang sudah punya banyak pengalaman, kebetulan beberapa teman cocok ke dukun ini dan berhasil hamil. Bahkan ada satu teman saya pijat sekali bulan depannya hamil setelah penantian 7 tahun lebih.

Saya pun tertarik untuk mencoba. Setelah haid bersih saya datang ke rumahnya untuk dipijit. Dukunnya masih muda dan saya suka cara mijitnya karena telaten. Pijat ke dukun ini 4 kali dan hasilnya masih nihil juga. Terakhir saya pijit bulan September saat haid selesai dan di bulan ini juga saya memulai untuk program hamil ke Dokter (A) kandungan.

Suami yang mengajak saya untuk konsultasi ke Dokter ini atas saran dari banyak temannya dan suami juga ingat kalau saya pernah operasi bartholin dan yang menangani Dokter A. Bissmilah semoga cocok.

Untuk program hamil ke Dokter kandungan kedua ini, saya datang di hari kedelapan dari haid pertama. Sebenarnya ini rada telat karena seharusnya haid pertama atau hari kedua harus datang. Promil dimulai saat haid mulai.

Saat diperiksa kandungan, alhamdullilah rahim tidak ada masalah, semua sehat dan bersih. Saya dan suami diberi obat yang berbeda untuk diminum selama satu bulan ke depan. Dan wajib datang lagi saat haid hari pertama atau kedua.  Kami sih berharap bulan depan datang saya sudah hamil.

You Might Also Like

0 komentar