Pejuang Garis Dua (2)

1:13 PM








Oktober saat haid kedua kami datang untuk konsultasi lagi. Kandungan diperiksa hasilnya masih sama tidak ada masalah. Sisa obat bulan lalu masih ada dan harus dihabiskan. Kami diminta datang lagi di hari ke-11 dari haid pertama untuk melakuan cek indung telur.

Hari ke 11 ini adalah masa subur saya. 1 November 2018 dilakukan pengecekan dan hasilnya bikin takjub. Telur jumlahnya ada 4 dengan diameter 17, 19, 19 dan 25. Dokter bilang kalau telur ini berhasil dimasuki sperma semua maka akan terjadi kehamilan kembar empat. Dengan diameter sebesar itu, Dokter yakin bulan depan berhasil, tentu kami sangat gembira sekali. Makanya kami tidak diberi obat apa-apa setelah pengecekan ini.

Namun ternyata rejeki belum menghampiri kami. Tanggal 20 November 2018 si merah datang lagi. Sedih? Iya. Why? Apa yang salah? Kami sudah mengikuti saran Dokter dengan baik, berdoa siang malam tentu saja kami lakukan. Kenapa?

Hari kedua haid dengan loyo kami tetap datang ke Dokter. Dokter agak kaget sebenarnya, harusnya dengan diameter telur tersebut sudah ada sperma yang berhasil masuk.

Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan HSG (tiup Rahim) dan suami cek sperma. Tanggal untuk HSG ditentukan dokter dengan menghitung siklus setelah haid bersih.

Jadwal HSG molor karena jadwal dokter yang padat. Saya dipanggil untuk HSG tanggal 1- Desember 2018 pukul 2 siang.

Yang saya suka dari dokter ini adalah, untuk HSG dilakukan di klinik tempatnya praktek dan yang melakukan pemeriksaan HSG dokternya sendiri. Karena ada teman yang promil ke dokter lain dan disuruh HSG tapi tempatnya di laborat.

Dengan dokter yang melakukan HSG sendiri, kami jadi tahu langsung hasilnya seperti apa. Suster yang bantu dokter waktu saya di HSG sebelum dokternya masuk telah memberi saya obat pereda rasa sakit agar tidak begitu mulas saat cairan disemprotkan.

Saya ngobrol santai dengan suster yang jaga. Suster pun bilang, harusnya dengan diameter telur yang besar saya sudah bisa hamil. “Sabar ya, Mbak. Makanya dokter menyarankan tiup Rahim, mungkin saluran ada yang tersumbat atau gimana, nanti akan tahu hasilnya.”

Dokter masuk dan mulai mengecek peralatan yang sudah disiapkan suster. Dokter bilang kalau setelah HSG ini bulan depannya belum bisa hamil, paling tidak nunggu 2-3 bulan baru isi. Karena pengaruh cairan yang masuk memang demikian. Setelah HSG tidak bisa langsung hamil. Tapi jika Tuhan sudah berkehendak, manusia bisa apa?




Setelah siap, dokter memasukkan alat ke lubang V dan mulai memberi aba-aba untuk menyemprotkan cairan, jangan ditanya rasanya seperti apa waktu
Cairan itu disemprotkan, 1000 kali lipat mulesnya seperti orang lagi haid hari pertama.

Saya ditemani suami di samping, jadi saat cairan disemprot, saya pegang kuat-kuat tangannya. Keringat keluar dengan deras. AC yang sudah full tak terasa sama sekali.

Dengan telaten dokter memeriksa saluran tuba kanan lebih dulu. Hasilnya cairan yang disemprotkan tidak bisa masuk, artinya tuba tersumbat total.

“Tenang, kita coba lagi semprotkan ya.” Kata Dokter kalem

Cairan disemprotkan lagi dan saya merasa mulas-mulas lagi, hasilnya masih sama, cairan tidak bisa masuk. Beberapa kali dicoba hasilnya nihil.

Akhirnya ganti ke tuba bagian kiri. Cairan disemprotkan lagi, berhasil masuk tapi hanya sedikit, artinya tuba terbuka tapi sangat kecil. Disemprot lagi kali aja terbuka agak lebar, hasilnya sama.

Berganti lagi ke sebelah kanan, kali aja bisa terbuka, tapi hasilnya nihil. Kira-kira 30 menit lebih Dokter dengan telaten melakukan HSG sambil menjelaskan langsung hasilnya.

Dokter bilang kemungkinan bisa hamil sangat tipis karena kecilnya saluran tuba yang bisa dilewati sperma. Kalau ingin terbuka bisa dicoba HSG lagi tetapi tidak bisa menjanjikan hasilnya bisa terbuka apa tidak.

Saat saya tanya “trus kalau pengen punya anak cepat gimana, Dok? Soalnya HSG rasanya sakit begini.”

Jawaban Dokter adalah, “kalau pengen punya anak jalan satu-satunya ya bayi tabung.”

Duaaaarrrrrrr. Lemes saya. Belum hilang rasa mulas di perut ditambahi lagi kabar seperti ini. Saya langsung membayangkan berapa uang yang harus kami siapkan jika ingin punya anak dengan bayi tabung.

Akhirnya proses HSG selesai, Dokter pun pamit, sambil menuliskan hasilnya Dokter bilang, “sudah selesai ya, Bu. Kita akhiri program ini, kalau pengen HSG lagi bisa menghubungi kami. Saya gak kasih obat apa-apa.”

Badan rasanya lemas, padangan suram dan perasaan saya hancur saat itu. Pengan nangis kenceng tapi tak mungkin saya lakukan.


Suster menguatkan saya. “Sabar ya, Mbak. Insyaallah ada jalan. Kan yang tersumbat cuma kanan, kiri masih terbuka meski kecil. Masih bisa HSG lagi.”

Perasaan saya agak tenang menerima semangat ini. Setelah selesai urusan di Kasir, kami pun pulang. Saya dan suami masuk mobil tanpa sepatahkata pun terucap. Suami tahu bagaimana hancurnya perasaan saya. Saya juga tahu bagaimana perasaan dia, mungkin lebih hancur dari saya.


Sepanjang perjalanan suami sengaja memelankan laju mobilnya. Kami sama-sama diam dengan pikiran masing-masing. Hampir 20 menit tidak keluar  kalimat satu pun dari kami. Suami membuka obrolan dengan pertanyaan “mampir kemana?”

Saya jawab “manut”

Akhirnya kami mampir ke rumah teman yang baru saja melahirkan dan kami belum sempat jenguk. Ya itung-itung mengalihkan sedikit pikiran. Meski setelah pamit dan masuk mobil kami kembali terdiam.

Saat hampir sampai rumah, suami ngasih tahu saya, kalau ada temannya yang berhasil hamil setelah pijit ke salah satu dukun di Ponorogo, padahal hasil akhir promil ke dokter dia divonis ada kista dalam rahimnya.

“Apa kita coba aja ke sana, ya siapa tahu jalannya dapat momongan dari sana.” Kata suami.

Saya mengiyakan dengan hati agak lega, paling tidak ada harapan baru karena proses di Dokter sudah kami lalui semua.

Kami memutuskan pijit setelah haid saya di bulan Desember bersih. Desember dan Januari setelah haid kami ke sana dan hasilnya ternyata masih nihil. Ya belum rejeki lagi.

Akhirnya saya memutuskan untuk istirahat memikirkan                   soal momongan.

Bulan Januari akhir saya ngobrol dengan seorang teman. Dia menyarankan saya untuk ikut aerobic, selain badan sehat pikiran juga lebih segar, siapa tahu dapat bonus hamil, katanya. Menurutnya dalam lingkup pertemanan dia yang ikut senam ada beberapa yang berhasil hamil setelah ikut senam selama 2-4 bulan.

Malamnya saya coba googling soal hubungan antara senam aerobic dan hamil. Ternyata ada beberapa kasus yang saluran tuba tersumbat kanan kiri bisa hamil setelah rutin ikut senam.

Belum puas saya terus mencari info soal ini. Di sisi lain, seorang teman saya lagi menyarankan untuk minum rebusan buat Zuriat. Saya pun googling dan hasilnya banyak yang cocok dan berhasil hamil setelah minum rutin.

Sebelum berangkat senam saya pamit lebih dulu ke suami. Suami membolehkan dengan syarat yang penting saya menikmati dan senang melakukannya.

Bissmillah, bulan Februari 2019 saya mulai ikut senam seminggu dua kali dan saya barengi dengan minum rebusan buah zuriat sehari dua kali. Setelah ikut senam, benar saja, hasilnya ternyata membuat saya ketagihan. Badan terasa enteng dan pikiran terasa sangat happy.

Saat mendengar music senam yang keras, pikiran rasanya happy dan fresh ditambah dengan gerakan yang membuat keringat banjir, rasanya semua hal negative ikut keluar dari badan.

Saat absen tidak bisa ikut senam karena ada keperluan, seperti ada yang kurang dalam hidup saya. Ya, senam membuat saya ketagihan. Dan dengan ikut senam ternyata pikiran saya soal momongan malah sedikit telupakan. Yang penting badan saya sehat dan pikiran saya happy, itu aja dulu.

You Might Also Like

0 komentar